Hidayatullah.com—Bertempat di bunderan Tugu Tani, Menteng-Jakarta Pusat, Pelajar Islam Indonesia (PII) mengingatkan masyarakat akan bahaya komunis yang kembali menjalar di berbagai lini masyarakat.
Aksi simpatik yang dilakukan hari Selasa, (30.09/2014) pada pukul 06.30-08.00 WIB imi dilakukan agar masyarakay mengingat pengkhianatan besar Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada bangsa dan negara pada tanggal 30 September 1965.
“Kita selalu ingat bahaya laten dan penerus ideologi komunis masih ada. Kita tidak akan pernah membiarkan mereka yang dengan berbagai cara mencoba melakukan untuk yang ketiga kalinya. Kita selalu ingat,” ujar Koordinator Aksi, Habiburrahman, dalam rilisnya pada hidayatullah.com.
PII mengingatkan, selama 69 tahun (semenjak digaungkan tahun 1918-1987) idiologi ini telah melakukan kudeta berdarah di 75 Negara dan menewaskan ratusan juta orang.
Lebih dari 100-120 juta orang menjadi korban berdarah oleh Partai Marxis-Lenninis-Stalinis-Maois-Pol Potis seluruh dunia.
Sementara di Indonesia sendiri telah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh komunis sebanyak 3 kali dengan membantai kaum santri dan ulama yang bersebrangan dengan mereka secara perjuangan dan ideologi.
“Kaum santri yang berjuang, kaumKomunis yang ingin berkuasa,” ujarnya.
Usaha Komunis berkuasa sudah dilakukan beberapa kali dan akhirnya gagal. Tahun 1926, 1948 dan puncaknya tahun 1965 dengan peristiwa berdarah G30S-PKI.
Kini, fenomena kembalinya PKI dengan wajah baru dinilai makin terasa.
“Sejarah Indonesia belakangan ini ingin dibalikkan oleh beberapa orang yang mewarisi ideologi dan semangat Komunis. Kita perlu hati-hati dan waspada, jangan sampai tertipu oleh kamuflase gerakan yang mereka lakukan. Bagaimanapun gerakan mereka saat ini tetap menjadi ancaman bagi NKRI yang pernah 3 kali melakukan usaha kudeta (pengambil alihan kekuasaan dengan kekerasan),” ujarnya.
“Kami Pelajar Islam Indonesia (PII) senantiasa berkomitmen menjaga kedaulatan NKRI dari segala ancaman, manuver kelompok Komunis yang telah bermatmorfosa di dalam Partai Politik dan Lembaga Negara serta basis-basis masyarakat bawah.*