Hidayatullah.com- Acara ruwatan yang dilakukan oleh beberapa warga Jogja yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi (Pametri) di depan rumah Amien Rais Jalan Pandensari, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta, Kamis (16/10/2014) Kemarin merupakan sebuah terror politik yang ditujukan kepada Amien Rais.
Pasalnya, acara ruwatan itu dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan agar Amien Rais tidak mengganggu kinerjanya pemerintahan Jokowi-JK yang akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober 2014 nanti.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Malang, KH. Luthfi Bashori kepada hidayatullah.com, Sabtu (18/10/2014) Pagi.
“Saya melihat dari segi politik, acara ruwatan yang dilakukan di depan rumah Amin Rais itu jelas-jelas sebuah teror politik,” tegas Luthfi.
Menurut tokoh Nahdhatul Ulama (NU) dan Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang ini, fenomena ruwatan itu tak bisa dibaca sekedar aktivitas klenik, tapi ini aksi politik. Di mana ada indikasi bahwa pendukung pemerintahan baru yang akan dipimpin oleh Jokowi-JK tidak siap untuk berdemokrasi dan tidak mau menerima kritikan (anti kritik.red).
Pasalnya, lanjut Luthfi, Amien Rais merupakan salah satu tokoh yang berseberangan atau lawan politik atas beberapa kasus dengan kubu Jokowi-JK.
Maka dengan adanya “ruwatan politik” yang ditujukan ke rumah Amien Rais itu merupakan sebuah teror politik.
“Sementara acara ruwatan sendiri merupakan budaya kejawen yang tidak ada dalam ajaran agama Islam,” tutup Luthfi.*