Hidayatullah.com– Tak bisa dipungkiri, selain bermanfaat, media sosial (medsos) dan internet secara umum memiliki dampak buruk. Dampak ini yang menjadi problem dan alasan sebagian umat Islam untuk menghindari dunia maya.
Salah satu contohnya seperti yang dirasakan oleh Ketua Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Ir Abdul Aziz Kahar Muzakkar. Ia mengaku, internet sempat membuatnya trauma.
“Sempat trauma dengan media sosial karena pernah dikirimi gambar porno banyak sekali (dari pengirim misterius. Red),” ungkapnya pada sesi diskusi dalam Pelatihan Optimalisasi Media Sosial untuk Dakwah di kantor Kelompok Media Hidayatullah (grup hidayatullah.com), Polonia, Jakarta Timur, Selasa (18/11/2014).
Ia pun menuturkan, saat belum punya akun Facebook (FB), ia direpotkan dengan hadirnya akun FB palsu yang mengatasnamakan dirinya. Apalagi ketika akun palsu itu mempublis sesuatu yang tidak-tidak.
“Ada orang membuat dua akun Facebook atas nama saya. Lalu (saya) dikomplain oleh kakak di Belanda, ‘Apa kamu tulis di Facebook?’ (Padahal) saya nggak pernah buat akun Facebook,” tuturnya.
Hikmah dari kejadian itu, Abdul Aziz akhirnya membuat akun FB yang asli. Dalam waktu 10 hari saja, daftar temannya langsung mencapai 5 ribu, sudah penuh. Ia lantas membuat fans page dengan nama Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar.
“Karena saya seorang politikus maka saya buat Facebook,” ujar anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan ini mengungkap alasannya.
Habis Trauma Terbitlah Dakwah
Kini Abdul Aziz sudah tidak trauma dengan internet lagi. Ia malah aktif berdakwah melalui dunia maya. Di FB, akunya, per tiga hari ia mempublis status. Selama ini yang dipublisnya pesan-pesan keagamaan. Sempat pula ia mempublis status tentang kondisi sosial di Indonesia.
“Saya dalam kondisi belum punya ide, maka saya cari aja Hadits (sebagai konten). Paling sedikit ratusan (akun) yang merespon. Cuma saya tidak selalu punya waktu untuk membuat seperti itu,” ujarnya.
Dalam pelatihan yang diisi dua orang pakar dan konsultan media sosial itu, sebenarnya lebih banyak dibahas tentang Twitter. Abdul Aziz pun mengaku, sampai saat itu dia sebenarnya belum membuat akun Twitter. [Baca juga: Saatnya Galakkan “Twitter For Dakwah”]
“Sebenarnya sepintas sudah paham (soal Twitter) juga, tapi memang ya saya tetap merasa negatifnya untuk saya pribadi terasa juga,” ujarnya.
Pada pelatihan yang berjalan serius tapi santai ini, setiap peserta diwajibkan harus sudah punya Twitter. Walau mungkin tak sempat membuatnya, Abdul Aziz yang datang agak terlambat tetap masuk ke ruangan.
“Mungkin hari ini, habis (pelatihan) ini saya bikin Twitter-lah,” ujarnya tersenyum disambut tawa puluhan peserta lainnya.*