Hidayatullah.com–Ketua Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. Adian Husaini, mengatakan adanya kekeliruan konsep pendidikan dalam perguruan tinggi Islam.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi adanya pergeseran prinsip dasar pendidikan dalam agama Islam saat ini.
“Konsep perguruan tinggi itu kulliyah (universal), bukan parsial,” ungkap Adian di hadapan puluhan mahasiswa Program Magister Pendidikan Islam UIKA di Gedung KH. Sholeh Iskandar, Pasca Sarjana UIKA Bogor, belum lama ini.
“Untuk itu perguruan tinggi disebut dengan istilah jami’ah yang berarti mencakup segala sesuatu,” ucap Adian melanjutkan.
Menurut Adian, dengan konsep di atas, sepatutnya pendidikan lebih mendahulukan mencetak manusia (insan adabi) dahulu sebelum mengembangkan skill dan potensi manusia. Sebab tujuan pendidikan itu mencakup keseluruhan, bukan sekedar melatih talenta yang dipunyai.
“Kini boleh dikata konsep jamiah itu hilang. Sebagian masyarakat seolah tak peduli lagi dengan adab dan akhlak peserta didik. Bagi mereka, yang terpenting adalah mereka bisa bekerja setelah tamat kuliah,” papar peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini.
Adian berharap, krisis pendidikan di negeri ini menjadi kesadaran seluruh elemen masyarakat. Sebab makin hari persoalan tersebut kian menjadi runyam .
Pendidikan seakan berubah fungsi menjadi pabrik penghasil pekerja-pekerja yang siap pakai dan dikuras tenaganya.
“Pendidikan hanya mampu menggenjot porsi keahlian dan keterampilan manusia untuk dipakai bekerja,” terangnya.
“Yang penting itu keahlian dan keterampilan yang menonjol. Seolah tak perlu lagi bertanya tentang akhlak dan mental orang tersebut,” imbuh Adian .
Akibatnya, terang Adian, sarana dan prasarana kehidupan manusia kian laju meroket. Tapi persoalan degradasi moral dan akhlak juga makin menjamur di tengah masyarakat.
“Pendidikan harus bisa mencetak manusia yang beradab bukan sekedar sebagai pegawai di bank dan pekerja di perusahaan saja,” papar Adian. Sebab menurutnya, teknologi sains itu harus diimbangi dengan siapa dan bagaimana pengguna fasilitas itu.
”Bukan sekedar yang penting teknologi canggih saja,” ucap lulusan International Institute of Islamic Thought and Civilization–International Islamic University (ISTAC-IIU) Malaysia tersebut.
Adian juga menyoroti kurikulum pendidikan yang terjebak dengan dikotomi jurusan. Sebut saja jurusan dakwah, misalnya. Bagi Adian, dakwah bukan jurusan atau spesialisasi yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu semata, sedang yang lain tidak merasa perlu untuk berdakwah. Sebab dakwah bersifat fardhu ain (kewajiban pokok) bagi setiap orang beriman.
“Pendidikan itu untuk melahirkan mujahid dakwah. Apapun jurusan atau keahlian pekerjaan yang ditekuni,” pungkas Adian semangat.*/Masykur Abu Jaulah