Hidayatullah.com–Pakar tafsir hadits UIN Sunan Ampel Surabaya. Profesor Dr Roem Rowi mengatakan manusia bisa menjadi makhluk yang mulia dan bisa juga menjadi makhluk yang terhina.
Salah satu yang menjadikan manusia menjadi mahkluk mulia adalah akhlaq dan makanan halal.
“Nabi diutus ke bumi karena membawa misi yang mulia. Yaitu untuk memperbaiki akhlaq dan moral umat manusia,” ujarnya dalam seminar kajian halal bertema adalah ‘Urgensi Konsumsi Produk Halalan Thayyiban dalam Membentuk Jiwa dan Karakter Muslim’ sekaligus pencanangan Gerakan Masyarakat Halal Jawa Timur di Gedung Pascasarjana ITS, Surabaya Kamis (24/03/2016).
Baca: Pusat Kajian Halal ITS Kembangkan Alat Deteksi Kandungan Babi
Selain akhlaq, hal kedua yang menjadikan manusia mulia adalah selektif dalam mengkonsumsi makanan.
Menurutnya selektif terhadap makanan adalah fitrah manusia, sebagaimana dikutip Al-Quran surat Al Baqarah:168. Karena tidak mungkin bagi orang mulia mengkonsumsi hal-hal yang haram.
“Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya,” ujarnya mengutip sebuah hadits.
Karena itulah menurut Direktur Ma’had Al Masjid Al-Akbar Surabaya ini, halal merupakan pemberian Allah yang terbaik kepada manusia tidak hanya terkait makan dan minum.
Ketiga, menurut Roem Rowi adalah bashair (indera dan mata hati).
“Manusia akan menjadi mulia karena menggunakan bashair atau mata hati. Dengan bashair inilah halal dan haram ini menjadi jelas adanya,” lanjutnya.
“Orang yang tidak menggunakan bashair maka ia akan menjadi buas, layaknya binatang,” ujarnya lagi.
Inilah yang menyebabkan orang menjadi terhina.
Menurut Roem fenomena kenakalan yang terjadi pada remaja boleh jadi disebabkan oleh kenakalan yang pernah dilakukan oleh orang tuanya.
“Bisa jadi rizki yang diberikan oleh kedua orang tuanya memberikan dampak yang serius terhadap sikap anak. Sebab rizki yang halal sangat berdampak dalam membentuk karakter seorang anak, “ ujarnya.*/Khoirul Mukmin