Hidayatullah.com– Persoalan rokok tak cuma berdampak pada kesehatan, tapi juga masalah ekonomi. Berdasarkan sejumlah penelitian, perokok di Indonesia mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar.
Demikian diungkap oleh Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta, melalui siaran pers yang dikirim Direktur Utamanya, Dr. Mohammad Ali Toha, MARS kepada hidayatullah.com, Rabu malam, 26 Sya’ban 1437 (01/06/2016).
Dalam rilis itu, RSUP Persahabatan mengungkap lima kesimpulan terkait dampak rokok. Pertama, merokok sangat berbahaya bagi kesehatan diri sendiri dan orang sekitarnya.
Kedua, biaya pengobatan penyakit terkait rokok adalah sangat besar.
“Ketiga, kehilangan nilai ekonomis perokok di Indonesia mencapai Rp 378,7 triliun per tahun,” sebutnya.
Kemudian, RSUP itu juga menyimpulkan, perlindungan anak dari propaganda rokok masih lemah.
“Generasi muda menjadi sasaran iklan perusahaan rokok demi mempertahankan bisnis mereka,” demikian bunyi kesimpulan terakhir.
Disebutkan, kesimpulan itu di antaranya didasari data dari Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Nunik Kusumawardani.
Dalam penelitian Balitbangkes, masih menurut RSUP Persahabatan, terungkap bahwa kerugian secara ekonomis atas kebiasaan merokok sebesar Rp 378,7 triliun per tahun.
Perhitungan itu meliputi biaya pengobatan penyakit akibat rokok, belanja rokok masyarakat Indonesia, dan kehilangan produktivitas akibat penyakit terkait rokok.
Kesimpulan tersebut juga atas dasar pertimbangan hasil dari 11 penelitian ilmiah yang dilaksanakan di RSUP Persahabatan tentang dampak buruk rokok bagi kesehatan.
Menyikapi fakta tersebut, pihak RSUP ini mengaku melakukan berbagai aksi. Di antaranya dengan mendukung program Tobacco Free (Bebas Tembakau). Seperti diketahui, setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau se-Dunia.*