Hidayatullah.com – Guru Besar IPB yang juga Professor Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Euis Sunarti mengatakan, cara pandang sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari tidak pas dengan mayoritas masyarakat Indonesia.
Termasuk, kata dia, soal makna ketahanan keluarga. Menurutnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memegang nilai-nilai moral dan agama dalam pendidikan keluarga.
“Ya tidak pas lah. Saya bisa katakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih menginginkan (cara pandang) yang konvensional,” ujarnya usai lanjutan sidang uji materiil pasal kesusilaan di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (04/10/2016).
Prof. Euis mewanti, jika ruang liberalis dan sekularis ini terus dihembuskan, bahkan hingga dipegang oleh masyarakat Indonesia, akan terjadi perubahan wajah keluarga Indonesia.
“Wajah yang tidak sesuai dengan Undang-undang dan tujuan perkawinan. Jadi akan sangat beda kalau norma-norma yang selama ini dianut itu longgar. Tidak terbayang keluarga seperti apa, perceraian meningkat, perselingkuhan, kebebasan dan lain-lain,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, tidak akan bisa jika harus memegang nilai sekularisme dan memisahkan agama dengan kehidupan sehari-hari.
“Bagi seorang muslim, Islam mengatur dari mulai bagun tidur sampai tidur lagi. Apalagi dalam soal kehidupan keluarga, semua diatur. Kalau menolak itu, lalu yang diinginkan kehidupan seperti apa?,” terang Euis.
Untuk itu, sambungnya, menjadi sangat strategis apakah permohonan pihak pemohon diterima atau tidak, dengan melihat dampak dari kehidupan keluarga Indonesia.
“Bagaimana kita akan melahirkan anak yang berkualitas kalau terlepas dari nilai-nilai agama. Ini mendasar sekali,” pungkasnya.
Sebelumnya, Prof. Euis menilai, presentasi yang dikemukan oleh ahli dari Komnas Perempuan dalam lanjutan sidang perkara nomor 46/PUU-XIV/2016 ada perbedaan cara pandang tentang nilai hidup yang cenderung menggunakan prinsip-prinsip liberal dan sekuler yang menolak penggunaan nilai agama sebagai acuan.*