SETIAP jiwa pasti pernah mengalami kegentingan di dalam hidupnya. Demikian pula dengan orang-orang terdahulu, baik dari kalangan Nabi, sahabat dan orang-orang yang sholeh. Bahkan dalam banyak kasus Allah Ta’ala sendiri yang langsung memberikan kabar bahwa orang-orang beriman itu mengucapkan doa kala menghadapi kegentingan.
Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash menghadapi pasukan Romawi yang dikomandani Raja Rustum dalam Perang Mada’in misalnya, pemanah ulung nan cerdik dalam peperangan itu menyuruh seluruh pasukannya untuk membaca; حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ yang artinya “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS. Ali Imran [3]: 173).
Setelah itu barulah Sa’ad membawa pasukannya menyeberangi Sungai Tigris dengan kudanya. Mereka menyeberangi sungai seperti mereka melewati permukaan bumi, hingga mereka melihat kanan kiri, permukaan air tak terlihat karena gelombang pasukan berkuda dan pejalan kaki, orang-orang berbincang-bincang di antara mereka. Padahal mereka sedang menyeberangi sungai.
Hal itu tidak lain karena hadirnya perasaan tenang, aman dan percaya kepada keputusan kemenangan Allah, serta janji dan dukungan-Nya. Sa’ad pun memperoleh kemenangan melawan pasukan Gajah Rustum dan masuk ke istana putih, lalu menjadikan ruangan Kisra sebagai tempat sholat tanpa mengubah apa yang ada di dalamnya.
Secara ekplisit memang belum ada ungkapan dari ulama yang menghubungkan semangat pasukan kaum Muslimin di bawah panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ini terinspirasi dari pasukan setia Thalut yang mengalahkan Jalut. Namun, jelas mereka adalah orang yang pasti tidak asing dengan apa yang disampaikan oleh tentara tangguh yang menyertai Thalut mengalahkan Jalut.
Sebagian besar tentara Thalut yang banyak minum air sungai ternyata gentar, mereka goyah dan rapuh keyakinannya kepada Allah, bahwa Dia akan memenangkan mereka. Dengan mental payah mereka berputus asa dengan berkata, قَالُواْ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya” (QS. Al-Baqarah [2]: 249).
Namun, apa yang terjadi dengan sisa pasukan yang masih setia menjalankan misi bersama Thalut. Mereka memompa semangat mereka dengan gagah berani berkata,
قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُواْ ٱللَّهِ ڪَم مِّن فِئَةٍ۬ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةً۬ ڪَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 249).
Dan, keyakinan itu semakin dipertajam dengan memohon kepada Allah Ta’ala kemenangan atas orang-orang kafir.
قَالُواْ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرً۬ا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡڪَـٰفِرِينَ
“Mereka (Thalut dan tentaranya) berdoa; ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 250).
Jadi, kegentingan berupa kesulitan, kesusahan, atau bahkan kemustahilan tidak semestinya disikapi secara lemah dengan dengkik mengubur keimanan kepada Allah Ta’ala.
Dua fakta sejarah di atas adalah bukti, bahwa ketidakmungkinan dalam cakupan rasio tidak semestinya menjadikan semangat kita surut ke belakang. Tetaplah maju terus dengan berdzikir dan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan terus meyakinkan diri sendiri bahwa Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan-Nya.
Spirit inilah yang selanjutnya diejawantahkan oleh Usamah bin Zaid, panglima muda kaum Muslimin yang berhasil mengalahkan tentara Romawi di Mu’tah.
Dalam memimpin pasukannya, Usamah bin Zaid berkata, “Jadikanlah serangan ini serangan kemenangan, jangan lupa memohon kemenangan kepada Allah, jangan bercerai-berai, bersatulah, rendahkanlah suara kalian, berdzikirlah kepada Allah dalam diri kalian, siapkan pedang kalian dan letakkanlah ia pada orang-orang yang menahan kalian dengan senjata.”
Demikianlah sikap orang-orang yang beriman dalam menghadapi perkara-perkara besar, situasi-situasi menentukan. Mereka semakin menajamkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah dan melakukan segala macam persiapan dan ikhtiar untuk bisa menemukan jalan keluar.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)ny.” (QS At-Tholaq [65]: 2-3).
Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah memberikan perintah agar kita selalu merasa cukup dengan Allah. Dengan demikian Allah pasti akan menolong kita dalam situasi sulit, penting dan genting bagaimanapun.
فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Maka Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.” (QS At-Taubah [9] : 129).”*