Hidayatullah.com– Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding, menilai, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak percaya diri dengan kualitas kinerjanya selama menjadi gubernur Jakarta.
Sehingga, kata Karding, Ahok pun menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 di hadapan warga Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Menurut Karding, Ahok sadar banyak masyarakat DKI Jakarta tidak puas dengan gaya kepemimpinannya yang cenderung mengedepankan arogansi ketimbang dialog dalam menata kota.
Dia menilai, atas nama pembangunan seolah-olah segalanya halal untuk dia lakukan. Termasuk melakukan diskresi peraturan dan menggusur warga miskin tanpa proses dialog. [Baca juga: Bukit Duri Digusur, Warga Mengaku Tidak Akan Pilih Ahok]
“Ketidakpuasan masyarakat ini juga tercermin lewat sejumlah survei yang menunjukkan merosotnya elektabilitas Pak Ahok,” ujar Karding di Jakarta, Sabtu (08/10/2016) dikutip Antara.
Dia menilai pernyataan Ahok terhadap Surat Al-Maidah ayat 51 kurang etis dan patut. Apalagi, komentar itu dilontarkan di tengah suasana menjelang Pilkada DKI Jakarta seperti sekarang ini. [Baca juga: Elektabilitas Ahok Turun Karena Penyataannya terkait Al-Quran]
Pernyataan Berbau SARA
Menurut Karding, Ahok tidak menjadikan etika sebagai bagian integral dari kepemimpinannya.
“Setelah peristiwa kekerasan reformasi 1998, masyarakat Jakarta telah mampu membuktikan diri hidup berdampingan dalam keragaman. Masyarakat Jakarta adalah masyarakat yang telah memiliki kedewasaan dalam berpolitik,” ujarnya.
Namun, kata dia, alih-alih menjaga keharmonisan masyarakat, Ahok dan pendukungnya justru lebih sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berbau SARA. Seperti, “Saya Muslim saya pilih Ahok” atau “Biarin gue kafir yang penting tidak korupsi”.
Pernyataan itu, menurut Karding, bisa dimaknai secara peyoratif seakan-akan tidak ada pemimpin selain Ahok yang bebas korupsi. Padahal, banyak pemimpin Muslim yang memiliki kinerja baik dan berprestasi di Indonesia.
“Dan mereka tidak pernah menggunakan istilah-istilah agama dalam menunjukkan berbagai keberhasilan maupun prestasinya,” ujarnya.
Karding menilai, pernyataan Ahok juga menunjukkan bahwa dia tidak menghormati keyakinan beragama seluruh warga negara yang dijamin konstitusi.
Menurut dia, jaminan itu juga termasuk dalam hal memilih pemimpin berdasarkan referensi agama.
Namun, menurutnya, yang tidak boleh adalah jika dalil agama digunakan untuk menyebarkan kebencian, kekerasan, dan permusuhan.
“Sebab hal itu bukan saja bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia namun juga bertentangan dengan semua ajaran agama, termasuk Islam yang notabene hadir sebagai Rahmatan Lil Alamin,” ujarnya. [Baca juga: GIB: 3 Sila Pancasila Telah Dilanggar Ahok karena Ucapannya Soal Al-Maidah]
Jakarta Butuh Pemimpin Santun
Ketua Fraksi PKB di MPR RI itu mengajak masyarakat Jakarta untuk lebih jernih dalam memilih pemimpin. Sebab, Jakarta butuh pemimpin muda yang segar, cakap secara visi misi, sekaligus santun dalam pembawaan pribadi.
Dia menegaskan, masyarakat butuh pemimpin yang tidak hanya mampu membangun kota tapi juga membangun masyarakat.
Menurut Karding, DKI Jakarta adalah laboratorium sekaligus miniatur penting. Bagaimana, sebuah kebijakan pembangunan dilakukan dengan pendekatan hati, bukan arogansi dan kesewenang-wenangan. Sejatinya, Jakarta adalah milik semua masyarakat.
Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, ucapan Ahok menuai kecaman setelah menyinggung soal al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51 pada sebuah acara di Kepulauan Seribu.
Saat itu Ahok membahas tentang rencana suatu program, yang kemudian dikaitkannya dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 dan posisi dirinya sebagai petahana non-Muslim.
Ia kepada warga mengatakan, “Jadi, jangan percaya sama orang, bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya. …Dibohongi pakai Surat Al-Maidah (ayat) 51 macem-macem itu. Itu hak bapak-ibu ya!” [Baca: Ahok Dikecam Bilang “Jangan Percaya Dibohongi Pakai Surat Al-Maidah”]*