Hidayatullah.com– Dalam sepekan ini, calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok setidaknya sudah dua kali kedatangannya ditolak warga Jakarta.
Terakhir, Rabu (03/11/2016) kemarin, warga menolak kedatangan Ahok saat berkampanye dengan blusukan di Rawa Belong, Kecematan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Ahok pun dievakuasi dengan angkutan umum atau angkot.
Video kejadian itu menyebar di berbagai media sosial. Pantauan hidayatullah.com di situ, tampak Ahok berpakaian kotak-kotak berjalan bersama tim kampanyenya.
Sementara sekelompok warga berdemonstrasi menolak kedatangan Ahok. Mereka berteriak-teriak dan membawa sejumlah poster.
Kronologi
Dilaporkan Antara, Ahok tiba di lokasi sekitar pukul 16.10 WIB setelah menghadiri satu wawancara di salah satu stasiun TV swasta.
Setelah turun dari mobil, Ahok langsung mendatangi warung mie ayam dan dikabarkan disambut oleh warga. Ia menyalami anak-anak yang mendekat dan membiarkan ibu-ibu berswafoto dengannya.
Namun, setelah 10 menit blusukan dan Ahok memasuki jalan kecil bernama Jalan Ayup, lalu mendatangi pasar kaget. Tiba-tiba datang sekelompok warga berteriak menolak kedatangan Ahok.
Mereka juga membawa spanduk dengan bermacam pesan.
“Saya nolak, saya nolak,” ujar salah seorang warga. “Ahok ngapain loe ke sini ?” teriak yang lain. “Usir Ahok!! Usir Ahok!!” ujar mereka, dikutip ROL.
Tim kampanye pun sempat khawatir akan jalannya blusukan, namun Ahok tampak tidak memedulikan aksi unjuk rasa tersebut dan memilih berlalu.
Polisi dan beberapa warga tersebut sempat bersitegang. Sebab, beberapa warga berusaha maju ke arah Ahok yang sedang blusukan menyapa warga.
Menurut salah satu relawan Ahok-Djarot, dalam kejadian ini terdapat satu korban pemukulan. Korban tersebut merupakan Ketua RT 01 RW 07 bernama Dayat, yang dikabarkan dipukul saat ingin melerai aksi itu.
Ahok yang rencananya akan meninjau Sungai Sekretaris di daerah Jakarta, membatalkan blusukan-nya. Ia segera dievakuasi dengan angkot bersama para polisi menuju Polsek Kebon Jeruk.
Diwartakan, dalam sepekan ini, Ahok sudah dua kali mengalami penolakan oleh sekelompok warga. Pada Senin (31/10/2016) lalu, blusukan Ahok di Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, ditolak warga.
Warga Tanjung Barat, Syuhada Al Aqso mengatakan, warga Jagakarsa menolak kampungnya diinjak oleh penista al-Qur’an. Warga Jagakarsa menolak kehadiran Ahok di kampung tersebut.
Aktivis Tionghoa Zeng Wei Jian: Ahok Menista Agama tak Bisa Ditolerir
Syuhada menuntut Ahok agar tidak dihadirkan lagi di Jagakarsa.
“Acara runtutan Ahok di Jagakarsa tadi itu pengkondisian dan settingan tanpa dikasih tahu warga sedikitpun,” ujar Syuhada di Srengseng Sawah.
Diketahui, masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 berlangsung mulai 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017. Sedang hari pemilihan dijadwalkan berlangsung 15 Februari 2017.
Terdapat tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang terdaftar dalam Piklada DKI 2017. Yaitu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Jika Gubernurnya Muslim dan Tidak Korupsi, Jakarta Diyakini Lebih Baik
Klaim Ahok
Ahok bereaksi atas kejadian itu. Klaim dia, sebelum muncul warga yang menolak, dia diterima dengan baik. Ia berpendapat, peristiwa yang dialaminya di Rawa Belong mencederai demokrasi di DKI.
“Masyarakat semua terima kok. Masyarakat penduduk asli terima kok. Mereka hanya segelintir orang yang menteriak-teriakkan itu,” klaim Ahok di Polsek Kebon Jeruk, dikutip ROL.*