Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Aktivis Tionghoa Zeng Wei Jian: Ahok Menista Agama tak Bisa Ditolerir

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 November 2016 13:31 1:31 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 November 2016 13:30
Bagikan
Aktivis Tionghoa, Zeng Wei Jian alias Ken Ken.
Bagikan

Hidayatullah.com– Aktivis beretnis Tionghoa, Zeng Wei Jian alias Ken Ken, menyindir kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok selama menjabat Gubernur DKI Jakarta.

“Yang tidak bisa kita tolerir adalah masalah penistaan agama, dalam hal ini Surat Al-Maidah ayat 51,” ujar pria penganut Buddha ini saat ditemui hidayatullah.com, Senin (31/10/2016).

Ken Ken menyampaikan itu usai mengikuti pertemuan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI di markas FPI, Jl Petamburan III, Jakarta Barat.

Menurut Ken Ken, dari sikapnya Ahok tidak patut dibilang sebagai pemimpin yang baik. “Ahok minim prestasi,” ujarnya.

“Kebijakan-kebijakannya juga sangat antagonis terhadap orang miskin, orang kecil. (Ahok) sangat pro pengembang,” lanjut pengusaha kelahiran Jakarta ini.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Sindiran Sandyawan: Ahok Sukses Sebagai Gubernur Penggusur

Terkait kasus Ahok yang menyinggung Al-Maidah, Ken Ken  mengatakan, penistaan agama tidak bisa dibiarkan di Indonesia.

“Ini bukan persoalan umat Islam (semata). Tapi masalah bangsa (juga),” ujarnya, seraya menegaskan, penistaan terhadap agama apapun di negeri ini tidak dibenarkan.

Untuk diketahui, sejak tanggal 28 Oktober 2016, Ahok berstatus sebagai gubernur non-aktif karena maju sebagai petahana pada Pilkada DKI 2017.

“Sovinisme Tionghoa”

Selama ini, Ken Ken kerap menyoroti Ahok khususnya melalui berbagai tulisan di akun Facebook-nya, Zeng Wei Jian. Ia mengaku dulu sempat akrab dengan Ahok.

Senin kemarin, sejumlah tokoh dan penggerak GNPF MUI mengapresiasi tulisan-tulisannya di media sosial tersebut.

“Mantap tulisannya,” ujar Ustadz Zaitun Rasmin yang juga Wakil Sekjen MUI kepada Ken Ken usai pertemuan itu.

Ditanya hidayatullah.com soal tulisan apa yang dimaksud, Ken Ken tidak tahu pasti judulnya karena banyak yang sudah ditulis. Terakhir, katanya, ia menulis dengan judul “Sovinisme Tionghoa”.

Ahok, Gubernur Pertama Etnis Tionghoa, Dinilai Pejabat Paling Sombong Perkataannya

Tulisan ini diunggah pada tanggal 29 Oktober 2016. Berikut salinannya:

SOVINISME TIONGHOA

by Zeng Wei Jian

Netizen Laras Puguh bertanya, “apa tidak ada gerakan etnis Tionghoa sebagai bentuk solidaritas terhadap umat Muslim untuk tanggal 4 November?”

Sebenarnya, ngga ada juga solidaritas dari “majelis ulama” agama lain semisal KWI, PGI, WALUBI dan Parisada Hindu Dharma.

Padahal, penistaan agama (apa saja) adalah tindak kriminal. Tidak boleh ada di republik ini.

Khusus menyoal komunitas Tionghoa, memang ada semacam setback atau blunder persepsi. Sifatnya negatif.

Pasca Ahok berkuasa, terasa benar ada eforia lupa diri. Memang, lapisan tengah pengusaha etnis Tionghoa tidak pernah punya sejarah melawan gubernur. Sewaktu Sutiyoso membombardir becak dan menggusur warga, pengusaha Tionghoa juga diam saja. Tabiat pengusaha adalah menjilat penguasa. Watak ini inherent. Tidak bisa nggak.

Tema SARA mestinya berhenti saat Jokowi-Ahok terpilih. Namun anehnya, pasca Ahok menjadi gubernur, sentimen rasis ini justru menguat. Ditriger oleh Ahok sendiri. Didukung Nusron Wahid. Diamini 70% orang Tionghoa dan 95% orang Kristen. Mereka inilah yang sebenarnya rasis.

Sentimen rasialis itu ternyata juga diderita kalangan haute capitalis (konglomerat). Itu bisa dilihat dari dukungan masif capital flow membangun infrastruktur, pencitraan Ahok dan pembentukan tim relawan. “Mass media dibeli”. Semua itu tidak terjadi ketika Bang Yos dan Foke berkuasa. Ini indikator betapa rasisnya para taipan itu.

Orang-orang ini lupa diri. Arogansi bikin mereka tampak jadi inhuman. Dukungan membuta kepada sosok inkompeten seperti Ahok adalah disaster. Ini penghianatan terhadap perjuangan para pendahulu.

Namun, Tionghoa sama seperti komunitas lain. Ada yang baik, ada yang rasis. Sewaktu era kemerdekaan, Liem Koen Hian (Partai Tionghoa Indonesia) berhadapan dengan kelompok Chung Hwa Hui yang pro Belanda.

Ahok, Kecelakaan Sejarah’ dan ‘Misrepresentasi’ Imej Tionghoa di Indonesia

Di era Orde Lama, Tionghoa pecah dalam perkubuan. Kelompok pro komunis Sukarno (BAPERKI) dominan berkontradiksi dengan kelompok Tionghoa pro Amerika dan Kristen (CSIS Pater Beek).

Pertarungan ideologis selesai di era Orde Baru. Tionghoa konglomerat merapat di sekitar Pa Harto. Mereka patuh dan ngga neko-neko. Duel terselubung terjadi antara kelompok “peranakan” vs Singkek.

Tumbangnya Pa Harto berarti tidak ada lagi “orang kuat” tunggal.

Keturunan taipan berpesta pora. Tidak ada lagi yang mereka takuti. Mereka berusaha menguasai arena politik. Kekuatan finansial mereka memungkinkan itu. Mereka menemukan puncak momentum di pasangan Jokowi-Ahok. Ada grand scenario membabi-buta hendak menjadikan Ahok sebagai “wapres” masa depan. Pembenaran politis mereka adalah “Obama Factor”.

Ada semangat rasis dan sovinis terselubung di sini.

Padahal, Han (Chinese) Chauvinism dikecam Chairman Mao Zedong tahun 1956. Konstitusi RRT juga menegaskan, “it is necessary to combat big chauvinism, mainly Han chauvinism, and to combat local nationalist chauvinism.”

Semangat anti superioritas etnik itu terus dikecam pasca Mao. Comrade Deng Xiao Ping kerap mengingatkan agar Tionghoa berlaku santun. Gema warning ini beresonasi sampai era Presiden Hu Jin Tao.

Xi Jinping mengulang kembali wasiat itu dalam doktrin “Chinese Dream”-nya. Dia bilang, “Ethnic unity is the lifeline of Chinese people of all ethnicities and to protect it we should stand firmly against great Hanism and ultra-nationalism.”

Namun alas, para pengusaha Chinese punya watak berbeda dari kaum gentry (terpelajar).

Belakangan Han Chauvinis bangkit di kalangan bisnismen Chinese yang beroperasi di Central Asia: Kazak, Kirgiz dan Tajik. Mereka tidak menghormati keadaban lokal. Rupa-rupanya, penyakit psikologis itu merambah pengusaha Chinese Indonesia pula.

Saking edannya, seorang taipan pernah mencibir Pak Kwik Kian Gie. Dia bilang, apa jasa KKG buat Tionghoa. Sewaktu KKG menjadi Menko Ekuin, dia ngga berbuat apa-apa buat Tionghoa.

Begitu kata si taipan pro ahok. Saya heran, Dan sebenarnya hendak bertanya, memangnya Pa Kwik dulu itu Menteri Percinaan or what? Si taipan bole tajir, tapi menurut saya dia dungu dan rasis.

Saya jadi paham mengapa Pa Harto membatasi ruang gerak etnik Tionghoa di arena politik. THE END.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokahok menghina alquranAktivis TionghoaBasuki Tjahaja PurnamaCinagubernur penggusurKen Kenkepemimpinan kafirKwik Kian GieOrde BaruSoehartotaipantionghoaZeng Wei Jian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sekjen OKI Iyad Madani Mengundurkan Diri
Tulisan selanjutnya ILUNI UI: Tidak Boleh Ada yang Kebal Hukum di Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?