Hidayatullah.com– Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI mengakui, ada kericuhan usai Aksi Damai 411 pada Jumat (04/11/2016) malam.
“Disusupi provokator yang menginginkan aksi tidak berlangsung damai,” ujar Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir dalam konferensi pers di Pulau Dua Resto, Jakarta, Sabtu (05/11/2016).
Bachtiar pun menyampaikan kronologi Aksi Bela Islam II pada Jumat itu versi resmi GNPF MUI. Berikut salinan resminya, dikutip hidayatullah.com dengan sedikit pengeditan teknis.
Kronologi Kejadian Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016 versi resmi dari GNPF MUI sebagai berikut:
1. Pukul 10 pagi, GNPF MUI memberikan pengarahan terbatas kepada pengendali barisan aksi dan para orator, dengan pesan yang kuat bahwa ini adalah AKSI DAMAI dan harus menunjukkan akhlaqul karimah.
2. Pukul 11 pagi, Pimpinan GNPF bersama ulama menetapkan kesepakatan target aksi damai yang akan diperjuangkan kepada Presiden Joko Widodo.
3. Usai shalat Jumat di Masjid Istiqlal, semua peserta barisan aksi melakukan long march menuju Istana Merdeka sesuai rute yang telah ditetapkan. Orasi di depan Istana baru dimulai ba’da ashar.
4. Pelaksanaan orasi berjalan lancar dengan orator bergantian dari berbagai elemen, dipimpin langsung oleh Habib Rizieq Shihab (sebagai Pembina GNPF MUI).
5. Perundingan pertama mengutus 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu; KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin untuk mendatangi Istana.
Hasilnya, Juru Runding menolak melakukan perundingan karena hanya akan ditemui oleh Menko Polhukam Wiranto dan beberapa menteri sebagai utusan resmi Presiden RI.
6. Juru Runding mendatangi Istana untuk kedua kalinya namun kemudian mereka tetap menolak untuk berunding. Karena, Istana tetap menawarkan Menko Polhukam dan petinggi lainnya. Sehingga kemudian Juru Runding kembali ke barisan aksi.
7. Selanjutnya, Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya berinisiatif mendatangi mobil barisan aksi, kemudian naik ke atas dan memberi salam hormat kepada peserta aksi.
Kedatangan mereka untuk menemui Habib Rizieq Shihab dan menawarkan agar Juru Runding bisa diterima oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Habib Rizieq Syihab bersedia memenuhi penawaran tersebut dengan jaminan agar Wapres bersedia memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk menangkap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hari itu juga.
8. Kemudian, Juru Runding mendatangi Istana untuk ketigakalinya. Kali ini Juru Runding diikuti juga oleh KH Misbahul Anam. Juru Runding ditemui Wapres dan petinggi lainnya.
Perundingan berjalan alot. Hasilnya, Wapres memberikan jaminan akan memproses hukum Ahok secara cepat, tegas, dan transparan, serta minta waktu selama dua minggu untuk merealisasikannya.
9. Juru Runding kembali ke barisan aksi untuk menyampaikan hasil perundingan. Perundingan terakhir ini baru selesai pukul 18.00 WIB.
Setelah disampaikan, reaksi para peserta aksi tidak bisa menerima hasil tersebut dan bersepakat untuk bermalam di depan Istana.
10. KH Arifin Ilham dengan inisiatif sendiri berusaha bernegosiasi langsung menemui Wapres.
11. Kericuhan kecil sebenarnya sudah mulai terjadi sebelum rombongan mobil komando tiba, antara massa yang ‘terprovokasi’ dengan barikade polisi.
Agar tidak terjadi bentrok, maka Laskar FPI menjadi pagar pembatas antara massa tersebut dengan barikade polisi.
Tak lama setelah adzan isya berkumandang, petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik.
Petugas keamanan merangsek dan mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa, dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet.
KH Arifin Ilham yang masih berada di Istana bersaksi bahwa, Wapres, Menko Polhukkam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan tersebut.
12. Berkali-kali Kapolda memerintahkan Polisi untuk berhenti menembak massa lewat pengeras suara. Namun tak digubris oleh pasukan polisi.
Bahkan pasukan sepeda motor polisi berputar-putar di kerumunan massa sehingga ada yang tertabrak dan tergilas.
13. Kejadian tersebut telah memakan 1 korban meninggal dunia dan ratusan korban luka peluru karet, tertabrak motor polisi, dan banyaknya korban gas air mata.
14. Barisan Aksi Bela Islam II akhirnya bergerak menginap di pagar luar Gedung MPR/DPR RI di Senayan.
Pada pukul 03.00 WIB, Sabtu (05/11/2016) dinihari, delegasi GNPF MUI diterima oleh Komisi III DPR dan Ketua DPR, setelah beberapa kali berunding.
Keamanan gedung MPR/DPR diambil alih oleh Panglima TNI dan Kapolri yang akan menggusur massa yang menginap di luar pagar gedung MPR/DPR.
15. Komisi III DPR kemudian memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai 411.
16. Pada pukul 04.05 WIB tanggal 5 November 2016, secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II.
Pembubaran ditutup oleh Ketua GNPF MUI Ustadz Bachtiar Nasir, yang mengatakan, “Alhamdulillah, aksi damai berlangsung dengan maksimal. Meski ditekan, ditembaki, dipukuli, tapi kita bersabar dan tidak membalas, tidak melawan, karena niat awal kita adalah aksi damai.”
Pembina GNPF MUI Habib Rizieq Shihab menegaskan, “Sebenernya kita bisa saja melawan, perang, tapi kita ini aksi damai. Kita tidak boleh diadu domba melawan Polisi dan TNI, mereka saudara kita juga, kita fokus pada kasus penistaan al-Qur’an oleh Ahok.”
Jargon AKSI DAMAI kami ketika dibenturkan dengan aparat keamanan adalah “Melawan dengan tanpa melakukan perlawanan”.
Meskipun dalam tekanan yang sangat-sangat represif komando kami hanyalah;
– JANGAN MELAWAN!!!
– DIAM DI TEMPAT!!!
– JANGAN MAJUUU!!!
Ingatlah Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa menjaga kesucian al-Qur’an dan jangan ada yang menistakannya.
Jakarta, 5 November 2016
Pimpinan GNPF MUI
Habib Rizieq Syihab (Pembina)
KH. Bachtiar Nasir (Ketua)
KH. Misbahul Anam (Wakil Ketua)
KH. Muhammad Zaitun Razmin (Wakil Ketua).*