Hidayatullah.com—Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Pusat Tengku Zulkarnain akhirnya buka suara setelah kasus penghadangan oknum kelompok mengatasnamakan Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang yang menyerbunya saat akan mendarat di Bandara Susilo, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
“Sesaat saya mau turun, tiba-tiba ada sekitar 30 orang berpakaian adat Dayak mengacung-acungkan mandau dan golok. Mereka membentangkan spanduk. Saya berniat turun untuk dialog, tetapi dua polisi melarang saya,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Sabtu (14/01/2017).
Penjelasan MUI Pusat soal Pengadangan Tengku Zulkarnain di Bandara Sintang
Tengku Zulkarnain yang berencana ceramah atas undangan Bupati Sintang Jarot Winarno mengaku melihat banyak keanehan-keanehan sesaat sebelum pintu pesawat ditutup petugas.
“Saya lihat spanduk itu ditujukan pada FPI. Selain itu, spanduk dicetak rapi, terlihat bukan acara mendadak. Kok aneh?”
Selain itu, menurut Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla’ul Anwar ini sempat melihat pembawa rombongan penolak dirinya itu ada mobil dengan plat merah.
Ulama asal Medan meyakini, ada aktor penggerak yang ingin berusaha melemahkan peran lembaga keulamaan di mana ia berada terkait kasus penghadangan ini.
Sebelumnya sejumlah media secara serentak menulis penghadangan oleh kelompok Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sintang terkait pernyataannya terhadap warga Dayak. Namun ia membantah pernah mengatakan yang dituduhkan.
MUI: Bupati Sintang yang Undang Tengku Zulkarnain Sangat Kecewa atas Pengadangan di Bandara
”Saya dituduh mengatakan Dayak kafir. Saya meminta dibuktikan, di mana dan kapan saya mengatakan itu?” ujarnya.
Ia melihat ada usaha dan gerakan sistematis untuk melemahkan lembaga keulamaan dan para ulama yang vokal dan kritis kepada pemerintah.
“Ini semacam ada skenario melemahkan ulama-ulama yang kritis terhadap pemerintah,” ujarnya.
Meski sempat terganggu, acara Tengku Zulkarnain ini akhirnya dilanjutkan esok harinya dengan dihadiri ribuan umat Islam dan para pejabat.
“Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Bupati, Kapolres, Dandim, Ketua MUI dan ribuan umat Islam datang. Saya khutbah Jumat dilanjutkan ceramah dua jam, “ ujar Tengku Zulkarnain.
Menurut penelusuran hidayatullah.com, istilah itu muncul pertama kali tahun 2012 terkait peristiwa penolakan empat pimpinan Front Pembela Islam (FPI) — Sobri Lubis, Habib Muchsin Al- Attas, Awit Masyhuri, dan Maman Suryadi Abdurrahman— oleh warga Dayak saat akan mengadakan acara Maulid Nabi dan pengepungan rumah warga Muslim Kapuas, H. Muhri Muhammad Bahasyim di Provinsi Kalimantan Tengah, Palangkaraya.
Menutup pembicaraan, ia mengajak umat berhati-hati adanya usaha dan gerakan melemahkan peran ulama dan lembaga keulamaan yang sekarang berjalan sangat massif.*