Hidayatullah.com– Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) menyampaikan, terkait korban kekerasan anak yang disebut-sebut makin tinggi, itu tergantung persepsinya.
Wapres JK malah berpandangan saat ini kekerasan anak sudah menurun, jika dibandingkan pada masa lalu seperti yang dialami JK.
“Kalau kekerasan anak ini tergantung persepsi, saya kira menurun, dulu kita dijewer, dicambuk, itu biasa, namun sekarang aturannya berbeda,” ujarnya saat menerima kedatangan rombongan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, kemarin lansir Setwapres, Selasa (07/11/2017).
Baca: Cegah Kekerasan dalam Pendidikan, ini Langkah Koordinasi Pemerintah-KPAI
Lebih lanjut Wapres JK mendorong KPAI untuk mengampanyekan anti kekerasan anak dan menjalin kerja sama instansi terkait, seperti kerja sama dengan Kementerian Sosial dan jangan ditangani sendiri.
“Bekerjasamalah dengan Departemen Sosial, memang komisioner itu lembaga independen yang tugasnya hanya mengawasi bukan menangani persoalan,” tuturnya. “Mungkin dievaluasi lagi, tugas pengawasannya. Bukan menyelesaikan soal.”
Pada pertemuan itu, Ketua Komisioner Bidang Agama dan Budaya KPAI Susanto, bersama rombongan melaporkan, akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan terhadap anak di berbagai daerah yang dinilai cukup tinggi.
“Memang saat ini, kasus kekerasan anak cukup tinggi akibat dari pengaruh teknologi Informasi dan penyiaran dari media sosial serta pengasuh anak,” ucapnya.
Baca: KPAI: Video Viral Murid Dipukuli Tak Terkait Kekerasan di Pangkal Pinang
Di hadapan Wapres, Susanto mengusulkan perbaikan Jaminan Kesehatan Nasional yang mengakomodasi korban kekerasan anak, seperti keluarga korban harus mengeluarkan uang muka terlebih dahulu sebelum mendapatkan perawatan dari rumah sakit.
“Memang penting perbaikan Jaminan Kesehatan Nasional secara sistemik agar mengakomodasi kasus-kasus korban kekerasan anak,” terangnya.
Selain itu, ia juga menyinggung Rancangan Undang-Undang Penyiaran yang menurutnya pola penyiaran yang tidak ramah terhadap anak. “KPAI memiliki banyak data masih maraknya tontonan kekerasan di media stasiun televisi,” jelasnya.
Di kesempatan tersebut, Susanto juga menjelaskan keterbatasan anggaran yang tersedia tidak sebanding dengan ruang lingkup tugas masalah yang ditanganinya.
Selanjutnya, anggota komisioner yang hadir memaparkan tugas pengawasannya sesuai bidangnya masing-masing, mulai dari kesehatan, hukum, dan pendidikan.
Baca: Viral Video Murid Dipukuli, Kemdikbud-Kemen PPPA-KPAI Gelar Rapat
Susanto didampingi oleh Komisioner Bidang Kesehatan dan Napza Siti Hikmawatty, Komisioner Bidang Anak Berhadapan dengan Hukum Putu Elvina, Komisioner Bidang Hak-hak Sipil dan Partisipasi Jasra Putra, Komisioner Bidang Pendidikan Retno Listyarti, dan Retno Ajie Prasetyaju Kepala Sekretariat KPAI.
Sementara Wapres JK didampingi Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto.
Diketahui, baru-baru ini beredar secara viral sebuah video yang memperlihatkan seorang pria melakukan tindakan kekerasan bertubi-tubi terhadap seorang pelajar.
Dalam video itu, pelaku yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya tersebut menghajar seorang pelajar di dalam ruangan kelas secara beruntun. Para pelajar lain hanya bisa menyaksikan kekerasan di depan mata mereka itu. Saat seorang pelajar tampak hendak melerai kekerasan itu, ia malah juga kena hajar oleh pelaku. Diduga kekerasan ini terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat.*