Hidayatullah.com– Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan, Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) diharapkan menjadi lembaga pelopor persatuan umat.
“MIUMI ini diharapkan sebagai pelopor persatuan umat, minimal persatuan para ulama,” demikiannya dalam acara tabligh akbar yang bertajuk “Pemimpin Kebangkitan Peradaban Islam” Jumat malam, (19/01/2018) di Masjid Al-Azhar, Kebayoran, Jakarta.
Menurutnya, ada teladan menarik dari ulama-ulama masa lalu. Mereka ada yang berbeda bahkan berseteru di bidang masalah ‘furu’iyah’ namun tetap menjaga persatuan dan kesatuan.
Dalam sejarah, sebagaimana pemaparan Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini, ulama memiliki peran signifikan dalam ranah sosial. Setidaknya ada dua peran yang dilakukan ulama dalam ranah ini. Pertama, menyatukan umat dan ulama. Demi terciptanya persatuan dan kesatuan misalnya, para ulama mengenyampingkan perbedaan individu demi maslahat yang lebih besar yaitu persatuan ulama.
Kesuksesan Aksi Bela Islam I-III, di mana terjadi persatuan yang cukup mencengangkan dalam sejarah Indonesia antar golongan dan kelompok Islam, menunjukkan persatuan ini menurut beliau tidak mustahil. Bahkan, MIUMI berperan secara aktif dalam memelopori persatuan ini.
Peran ulama yang kedua adalah dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar. Ulama bagi beliau tugasnya bukan sekadar berfatwa, tapi juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ini dilakukan –selain karena untuk mencari rida Allah- juga untuk menjaga setabilitas kehidupan dalam masyarakat.
Demi perjuangan ini, mereka bahkan sampai dipenjara, disiksa, dan mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, Said bin Jubair meninggal di tangan Hajjaj Ats-Tsaqafi karena menegakkan kebenaran.
Dalam pemaparan terakhirnya, ia mengharapkan agar iklim persatuan dan kesatuan umat sekaligus ulama yang sudah terjalin dalam Aksi Bela Islam (1,2.3) agar tetap terjaga.*/MBS