Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

MIUMI Sebagai Wadah Pemersatu Umat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Desember 2015 11:30 11:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Desember 2015 11:30
Bagikan
Silatnas V MIUMI di Makassar
Bagikan

Oleh: Ilham Kadir

Krisis multi dimensi ditandai dengan banyaknya masalah yang terus-menerus menerpa bangsa Indonesia. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, konflik sosial, westernisasi, distorsi pemberitaan, korupsi, birokrasi yang buruk, eksploitasi kekayaan negara, hingga masalah aliran sesat.

Satu masalah dengan masalah lainnya saling kait-mengait, terhubung dengan kompleks dari satu jalur ke jalur lainnya yang menjadikan ujung satu masalah menjadi pangkal dari masalah yang lain.

Pun, yang tak kalah serius adalah merebaknya problem syiahisasi dalam bentuk penyebaran akidah Syiah Imamiyah dari Iran, infiltrasi kader-kader Syiah ke berbagai sektor kehidupan, penghujatan akidah keislaman dan tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, agenda revolusi kaum Syiah, penampakan simbol-simbol dari ritual Syiah, lobi-lobi politik, dan sebagainya, (Waskito, 2012).

Tak pelak lagi, gerakan syiahisasi menambah rumit persoalan umat. Saat kaum Muslimin menghadapi 1001 masalah internal dan eksternal, pada saat yang sama kita harus menghadapi tantangan besar dari gerakan Syiah yang ingin merusak tatanan keagamaan yang benar.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dalam kondisi demikian, maka kita harus berfikir arif, dan bijak dalam menghemat energi kehidupan, lalu memaksimalkan kerja dan peluang, merapatkan barisan, menambal berbagai kebocoran, saling menolong dalam kebaikan, saling menjaga agar tidak terjerumus dalam kemungkaran, saling mengasihi, peduli antarsesama. Intinya, harus bersatu menghadapi tantangan dan melawan segala bentuk keburukan dan penyesatan.

Namun, tidak mudah memang mewujudkan harapan agar umat ini dapat bersatu. Dalam situasi penuh tantangan ini, kita tidak tergerak untuk bersatu, atau mencari-cari jalan mengislahkan perselisihan; tetapi kita justru banyak terlibat dalam konflik dan perselisihan antar sesama.

Sebuah karunia besar bagi umat Islam, terutama kita di Indonesia karena mayoritas umat Islam adalah berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menyebar ke berbagai organisasi, komunitas, lembaga, hingga partai politik. Jika saja segenap Ahlus Sunnah menyadari pentingnya persatuan, maka, umat Islam akan berdiri kokoh menjadi pemimpin bangsa dan menjadi tuan di negeri sendiri. Sayangnya, sesama Ahlus Sunnah sendiri masih belum kompak dan masih ada yang saling melemahkan. Salah satu penyebabnya, karena saling menafikan antarsesama.

Masih banyak buku-buku menyerang paham Asy’ari dan Maturidi. Di sisi lain, ada yang menyebut pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai aliran sesat, lalu keduanya dimasukkan sebagai bagian dari 72 golongan yang sesat dan akan masuk neraka. Konyolnya, Ibn Taimiyah dituduh sebagai Wahhabi atau pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang sejatinya datang berabad-abad setelah wafatnya Sang Syaikhul Islam.

Tidak ada jalan lain, kecuali kembali pada jalan persatuan dan kesatuan, mereduksi segala bentuk onak perpecahan yang mengakibatkan kenistaan. Walaupun ini adalah tugas negara menjaga keutuhan umat, khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, namun melihat realitas yang akhir-akhir ini terus terjadi, nampaknya kita tidak bisa banyak berharap pada negara sebab mereka malah merangkul pihak-pihak yang ditengarai menjadi pemantik pertikaian dari golongan yang telah divonis sesat, terutama Syiah.

Maka, dengan kerelaan hati, walau ini adalah kerja-kerja swasta, namun pahalanya sangat agung dan jika persatuan dapat terwujud maka umat akan akur, negara makin kokoh, dan keamanan negara akan terus terjaga, ulama generasi muda yang bergabung dalam Mejelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) harus menyisihkan waktunya untuk merekatkan umat yang berada dalam kubang perpecahan, mengeluarkan mereka dari kooptasi kesempitan komunitas dan pikiran menuju komunitas Ahlus Sunnah yang sangat luas, minimal dapat tercermin dari kesatuan rukun Islam dan Iman.

Secara historis, seruan ke arah persatuan umat sudah lama didengungkan, bahkan sejak era para sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud berkata, “Wahai manusia, hendaklah kalian selalu taat dan komitmen dengan al-Jamaah, karena ia adalah tali yang Allah perintahkan untuk berpegang padanya, sesungguhnya apa yang mereka benci dalam naungan al-Jamaah, lebih baik daripada apa yang mereka cintai dalam keadaan berpecah belah.” (al-Ibanah al-Kubra li Ibni Batthah, I/144).

Juga, berkata Ibnu Batthah al-Akbari, Wahai saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kami dan Anda semua, ke arah jalan yang lurus dan persatuan, menjaga kami dan Anda semua dari perpecahan maupun perselisihan. Allah telah mengajarkan kepada kita tentang perpecahan umat-umat sebelum kita, bahwa mereka telah berpecah-belah dan berselisih paham menjadi golongan-golongan, sehingga perselisihan itu membuat mereka marah pada Allah, mendustakan-Nya, mengubah kitab-Nya, membuang hukum-Nya, dan melanggar segenap ketentuan-Nya.

Persatuan umat Islam hanya dapat tercapai jika segenap komponen Ahlus Sunnah yanga terdiri dari berbagai aliran organisasi dan komunitas legewo untuk bersatu, menanamkan toleransi dalam furu’iyah sambil melakukan pembinaan bagi mereka yang ditengarai meyimpang jauh dari masalah pokok agama, dan jika memang tidak bisa dirawat, jalan satu-satunya adalah melakukan amputasi supaya tidak menjalar kemana-mana.

MIUMI adalah harapan umat, di tangan para ulama muda yang progresif ini, umat dapat dipersatukan, tercerahkan, dan menjadi pemimpin masa depan bangsa. Menuju Indonesia yang lebih beradab. Silaturrahmi Nasional ke-5 MIUMI dengan tema, “Mengukuhkan Cita Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab” akan dihelat di Makassar, 18 hingga 20 Desember 2015 ini adalah bagian dari langkah-langkah strategis membangun sinergitas umat dan menegakkan keutuhan bangsa.

Saya tutup dengan perkataan Sekjen MIUMI, KH. Bachtiar Nasir bahwa menyatukan umat itu sangatlah sulit dan beresiko, tetapi putus asa untuk menyatukan mereka jauh lebih berbahaya. Wallahu A’lam!

Peneliti MIUMI dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahAliran sesatMIUMIsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Benarkah Momen Damaskus Milik Teheran? [2]
Tulisan selanjutnya Tiga Musim di Bukit Kukusan Panceng

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Berita
30 Agustus 2026 10:13
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?