Oleh: Ilham Kadir
Krisis multi dimensi ditandai dengan banyaknya masalah yang terus-menerus menerpa bangsa Indonesia. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, konflik sosial, westernisasi, distorsi pemberitaan, korupsi, birokrasi yang buruk, eksploitasi kekayaan negara, hingga masalah aliran sesat.
Satu masalah dengan masalah lainnya saling kait-mengait, terhubung dengan kompleks dari satu jalur ke jalur lainnya yang menjadikan ujung satu masalah menjadi pangkal dari masalah yang lain.
Pun, yang tak kalah serius adalah merebaknya problem syiahisasi dalam bentuk penyebaran akidah Syiah Imamiyah dari Iran, infiltrasi kader-kader Syiah ke berbagai sektor kehidupan, penghujatan akidah keislaman dan tokoh-tokoh panutan Ahlus Sunnah, agenda revolusi kaum Syiah, penampakan simbol-simbol dari ritual Syiah, lobi-lobi politik, dan sebagainya, (Waskito, 2012).
Tak pelak lagi, gerakan syiahisasi menambah rumit persoalan umat. Saat kaum Muslimin menghadapi 1001 masalah internal dan eksternal, pada saat yang sama kita harus menghadapi tantangan besar dari gerakan Syiah yang ingin merusak tatanan keagamaan yang benar.
Dalam kondisi demikian, maka kita harus berfikir arif, dan bijak dalam menghemat energi kehidupan, lalu memaksimalkan kerja dan peluang, merapatkan barisan, menambal berbagai kebocoran, saling menolong dalam kebaikan, saling menjaga agar tidak terjerumus dalam kemungkaran, saling mengasihi, peduli antarsesama. Intinya, harus bersatu menghadapi tantangan dan melawan segala bentuk keburukan dan penyesatan.
Namun, tidak mudah memang mewujudkan harapan agar umat ini dapat bersatu. Dalam situasi penuh tantangan ini, kita tidak tergerak untuk bersatu, atau mencari-cari jalan mengislahkan perselisihan; tetapi kita justru banyak terlibat dalam konflik dan perselisihan antar sesama.
Sebuah karunia besar bagi umat Islam, terutama kita di Indonesia karena mayoritas umat Islam adalah berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menyebar ke berbagai organisasi, komunitas, lembaga, hingga partai politik. Jika saja segenap Ahlus Sunnah menyadari pentingnya persatuan, maka, umat Islam akan berdiri kokoh menjadi pemimpin bangsa dan menjadi tuan di negeri sendiri. Sayangnya, sesama Ahlus Sunnah sendiri masih belum kompak dan masih ada yang saling melemahkan. Salah satu penyebabnya, karena saling menafikan antarsesama.
Masih banyak buku-buku menyerang paham Asy’ari dan Maturidi. Di sisi lain, ada yang menyebut pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai aliran sesat, lalu keduanya dimasukkan sebagai bagian dari 72 golongan yang sesat dan akan masuk neraka. Konyolnya, Ibn Taimiyah dituduh sebagai Wahhabi atau pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang sejatinya datang berabad-abad setelah wafatnya Sang Syaikhul Islam.
Tidak ada jalan lain, kecuali kembali pada jalan persatuan dan kesatuan, mereduksi segala bentuk onak perpecahan yang mengakibatkan kenistaan. Walaupun ini adalah tugas negara menjaga keutuhan umat, khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, namun melihat realitas yang akhir-akhir ini terus terjadi, nampaknya kita tidak bisa banyak berharap pada negara sebab mereka malah merangkul pihak-pihak yang ditengarai menjadi pemantik pertikaian dari golongan yang telah divonis sesat, terutama Syiah.
Maka, dengan kerelaan hati, walau ini adalah kerja-kerja swasta, namun pahalanya sangat agung dan jika persatuan dapat terwujud maka umat akan akur, negara makin kokoh, dan keamanan negara akan terus terjaga, ulama generasi muda yang bergabung dalam Mejelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) harus menyisihkan waktunya untuk merekatkan umat yang berada dalam kubang perpecahan, mengeluarkan mereka dari kooptasi kesempitan komunitas dan pikiran menuju komunitas Ahlus Sunnah yang sangat luas, minimal dapat tercermin dari kesatuan rukun Islam dan Iman.
Secara historis, seruan ke arah persatuan umat sudah lama didengungkan, bahkan sejak era para sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud berkata, “Wahai manusia, hendaklah kalian selalu taat dan komitmen dengan al-Jamaah, karena ia adalah tali yang Allah perintahkan untuk berpegang padanya, sesungguhnya apa yang mereka benci dalam naungan al-Jamaah, lebih baik daripada apa yang mereka cintai dalam keadaan berpecah belah.” (al-Ibanah al-Kubra li Ibni Batthah, I/144).
Juga, berkata Ibnu Batthah al-Akbari, Wahai saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kami dan Anda semua, ke arah jalan yang lurus dan persatuan, menjaga kami dan Anda semua dari perpecahan maupun perselisihan. Allah telah mengajarkan kepada kita tentang perpecahan umat-umat sebelum kita, bahwa mereka telah berpecah-belah dan berselisih paham menjadi golongan-golongan, sehingga perselisihan itu membuat mereka marah pada Allah, mendustakan-Nya, mengubah kitab-Nya, membuang hukum-Nya, dan melanggar segenap ketentuan-Nya.
Persatuan umat Islam hanya dapat tercapai jika segenap komponen Ahlus Sunnah yanga terdiri dari berbagai aliran organisasi dan komunitas legewo untuk bersatu, menanamkan toleransi dalam furu’iyah sambil melakukan pembinaan bagi mereka yang ditengarai meyimpang jauh dari masalah pokok agama, dan jika memang tidak bisa dirawat, jalan satu-satunya adalah melakukan amputasi supaya tidak menjalar kemana-mana.
MIUMI adalah harapan umat, di tangan para ulama muda yang progresif ini, umat dapat dipersatukan, tercerahkan, dan menjadi pemimpin masa depan bangsa. Menuju Indonesia yang lebih beradab. Silaturrahmi Nasional ke-5 MIUMI dengan tema, “Mengukuhkan Cita Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab” akan dihelat di Makassar, 18 hingga 20 Desember 2015 ini adalah bagian dari langkah-langkah strategis membangun sinergitas umat dan menegakkan keutuhan bangsa.
Saya tutup dengan perkataan Sekjen MIUMI, KH. Bachtiar Nasir bahwa menyatukan umat itu sangatlah sulit dan beresiko, tetapi putus asa untuk menyatukan mereka jauh lebih berbahaya. Wallahu A’lam!
Peneliti MIUMI dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor