Hidayatullah.com– Langkah politik sejumlah negara Arab Teluk yang memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dikhawatirkan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perhimpunan Al-Irsyad, Basyir Ahmad Syawie, akan menimbulkan Arab Spring jilid kedua.
“Kalau itu terjadi dapat dipastikan akan meluluhlantahkan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara teluk, khususnya, dan dunia,” katanya dalam pernyataan tertulisnya diterima hidayatullah.com, Kamis (08/06/2017) di Jakarta.
Selain itu, imbuhnya, juga dapat menimbulkan instabilitas politik di kawasan Timur Tengah.
“Oleh sebab itu segera saya mengusulkan agar Liga Arab mengadakan pertemuan darurat untuk menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya.
Baca: Bachtiar Nasir Dukung Indonesia Menjadi Inisator Dialog Konflik Qatar
Ia berharap harus ada tindakan cepat dalam menyelesaikan krisis ini. “Menegaskan Liga Arab agar segera menggarap krisis tersebut agar tidak terjadi krisis lebih lanjut. Ini murni politik,” tandasnya.
Sebab, kata Basyir, terlihat sekali dampak pemutusan hubungan ini tidak hanya di sektor ekonomi.
Akibat suasana krisis ini, terangnya, juga sudah mempengaruhi geopilitik dan diindikasikan naiknya harga minyak mentah yang sudah mencapai 55 dolar per barel.
“Ini kenaikan yang cukup signifikan, sekitar 5 dolar kenaikannya,” sebutnya.
Dampak krisis juga mulai terlihat pada aspek lain. Yaitu, kata dia, dengan terganggunya transportasi termasuk terkait haji dan umrah.
“Tentu ini akan merugikan,” ujarnya.
Menurutnya, krisis negara Arab Teluk itu tidak terlepas kemungkinan dari pengaruh Amerika Serikat terutama dalam kepentingan ekonomi.
“Kita prihatin atas konflik yang terjadi itu,” imbuhnya.* Ali Muhtadin