Ia mengatakan, jutaan orang berbondong-bondong datang ke kawasan Monas, Jakarta, karena ada sesuatu di dalam hati yang dirasakan dan ingin disampaikan tapi sulit diungkapkan dan sulit mencari saluran pengungkapannya.
Baca: Kisah Perjuangan Joko Menyediakan Live Streaming Reuni 212
Rasa itu, lanjut Aa Gym, sebagai Muslim ada satu kepedihan jika mendengar kata radikal, intoleran, mau memisahkan, anti Pancasila, teroris, yang seakan itu terhujam ke dalam diri umat Islam.
“Padahal kami begitu mencintai negeri ini, saya rela mati demi menjaga bangsa ini tetap penuh keberkahan di jalan Allah. Demi Allah saya tidak rela bangsa ini hancur,” ujarnya dalam program dialog ILC bertema terkait Reuni 212 di studio salah satu tv swasta, semalam, Selasa (04/11/2018).
Baca: Reuni yang Bikin Meriang
Aa Gym menyampaikan, umat Islam bukanlah perusak negeri ini. Maka ketika reuni akbar 212, rumputpun tidak dirusak. Umat Islam juga bukan orang yang bengis dan kasar, maka senyuman pun dirasakan. Umat Islam bukan orang-orang yang keji, maka kasih sayang pun bertebaran.
Bahkan umat yang tidak beragama Islam juga bisa merasakan di arena Reuni 212, karena memang semua orang ingin menceritakan indahnya Islam yang selama ini merasa dicurigai.
“Ada perasaan itu tapi tidak tahu kemana harus bicara. Ketika ada peluang berkumpul maka berbondong-bondong berbicara dengan perilaku. Dan berkumpullah perasaan-perasaan ini,” ungkapnya.
Walaupun, lanjut Aa Gym, sebagian mungkin juga hadir karena ada tokoh panutannya, tapi sebagian besar lagi juga tidak pusing dengan ada soundsystem atau tidak.
“Ini tidak bisa direkayasa, saya tidak menduga akan sebanyak ini yang hadir. Dan saya kira panitia juga susah menduganya,” pungkasnya.* Yahya G Nasrullah