Hidayatullah.com– Konglomerat Indonesia Sandiaga Uno mengatakan bawah revolusi industri 4.0 datang untuk membawa berkah bagi pengusaha Indonesia. Ia pun memaparkan tips berbisnis di era ini.
Menurut mantan calon wapres pendamping Prabowo Subianto ini, agar bisa berhasil dalam berusaha, tidak ada pilihan lain kecuali harus fokus, menjalin networking atau perbanyak silaturahim, melakukan improvisasi dengan teknologi terkini, dan just do it (lakukan saja).
Sandi mencontohkan, anak buahnya, Michael Juwita, setelah berpisah dengan Saratoga Group, dia fokus mengembangkan usaha di bidang energi baru dan terbarukan seperti pembangkit listrik dan tenaga surya. Michael berhasil dalam tempo 3 tahun aset bisnisnya sudah mencapai Rp 75 triliun.
Sandi juga mengatakan, kaum milenial Indonesia kini banyak yang sukses dengan memanfaatkan teknologi 4.0. Milenial itu suka yang cheaper (murah), better (kualitas bagus), faster (serba cepat), dan tidak ingkar janji.
Para start up kaum milenial ini, kata Sandi, meski usahanya masih tergolong UMKM, namun omsetnya sudah milyaran karena memanfaatkan teknologi 4.0 seperti automation (teknologi digital marketing).
Sandi menjelaskan, saat ini pertumbuhan industri Indonesia turun atau mengarah kepada deindustrialisasi dengan angka di bawah 20 % dari PDB. Jika Indonesia tidak menerapkan teknologi 4.0, maka akan kehilangan 23 Juta lapangan kerja. Namun jika menerapkan 4.0, maka akan mendapatkan 27-46 juta lapangan kerja baru.
“Jadi, 4.0 bisa membantu pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baru,” paparnya di Hotel Grand Keisha, Yogyakarta, kepada para peserta Mentoring Busines Usaha yang kebanyakan dari Keluarga Besar PII sebagaimana rilis diterima hidayatullah.com, Jumat (15/11/2019).
Sandi berbagi pengalaman bagaimana para pengusaha muda bisa bertahan di era disrupsi revolusi industri 4.0 yang sedang melanda Indonesia itu pada forum Mentoring Busines Usaha. Forum ini rangkaian kegiatan Muktamar Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII), Kamis (14/11/2019).
Menurut Sandi, apapun bisnisnya, pengusaha harus berani melakukan improvisasi teknologi jika ingin bertahan dan berhasil. Ia mencontohkan, bos Alibaba.com, itu gaptek, tapi dia bergaul dengan pakar IT dan mengajak mereka mengembangkan bisnisnya.
Sebaliknya, kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Blackberry kini mati justru karena mengabaikan teknologi berbasis Android.
Pola-pola bisnis memang banyak berubah di era revolusi 4.0. Sandi mencontohkan, dulu yang mahal itu belanja iklan, kini belanja iklan bisa ditekan dengan memanfaatkan digital marketing.
Dulu katanya orang beli produk karena kekuatan iklan, kini orang pakai produk karena adanya testimoni dari para influencer. Karena itu, Sandi mengajak pengusaha untuk manfaatkan testimonial dari para tokoh agar suatu produk bisa dibeli konsumen.
Sandi meyakinkan para peserta bahwa ke depan yang banyak akan tumbuh adalah usaha-usaha UKM. Investasi yang tumbuh akan banyak yang investasi kecil-kecil, yaitu di bawah 50 ribu dolar.
“Penelitian saya mencatat potensi UKM ini sebesar 41 persen angkanya,” sebutnya.
Sehingga, Sandi menekankan para pengusaha agar terus melakukan improvisasi teknologi, meningkatkan terus SDM, senantiasa berinovasi dengan pasar yang terus berubah cepat, dan memperbanyak silarutahim. “Ingat, enterpreneur itu bukan profesi tapi mindset,” pungkasnya.*