Hidayatullah.com- Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Setiap orang punya hak untuk berkumpul dan menyampaikan pendapatnya.
“Oleh karena itu, kalau ada sekelompok orang yang ingin mendirikan partai dengan keinginan untuk membangkitkan kembali cita-cita dari partai lama yang pernah berjaya seperti Masyumi reborn ini, ya itu sah-sah saja dan dijamin serta dilindungi oleh undang-undang,” ujar Anwar dalam pernyataan tertulisnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Kamis (05/03/2020).
Yang menjadi pertanyaan adalah, sambung Anwar, apakah partai itu akan bisa menjadi partai besar dan mendapat dukungan luas?
Baca: Din Dorong Kongres Umat Islam Lahirkan Parpol Islam Tunggal
Menurutnya, ada tiga faktor yang akan berjalin berkelindan yang akan bisa membuat dan berkontribusi bagi kesuksesan partai tersebut.
Pertama, siapa saja tokoh yang melahirkan dan mendukungnya.
Kedua, ide dan gagasan apa saja yang diusungnya serta kesiapannya untuk menyukseskan ide dan gagasannya tersebut.
Ketiga, sejauhmana partai baru tersebut bisa memberi harapan kepada para pengikut dan pendukungnya. “Artinya, kalau mereka bergabung dan atau mendukung partai ini, kira-kira apa yang mereka harapkan bisa enggak diperjuangkan oleh partai ini dengan baik dan sungguh-sungguh, sehingga harapan dari para pemilihnya akan bisa mereka wujudkan,” imbuhnya.
Baca: MUI “Sambut” Usulan Din Bentuk Partai Politik Islam Tunggal
Anwar melanjutkan, kalau ketiga faktor itu bisa dihadirkan oleh partai baru ini, maka partai “Masyumi reborn” ini akan bisa maju.
“Tapi kalau tidak, maka partai ini tentu akan layu sebelum berkembang,” tambahnya.
Oleh karena itu, Anwar yang juga Sekjen Majelis Ulama Indonesia ini mengatakan, para penggagas partai “Masyumi baru” harus bisa memilih dan menampilkan tokoh-tokoh hebat.
Kemudian, harus bisa menawarkan ide-ide yang besar dan menarik, serta mampu menangkap dan memahami aspirasi rakyat banyak serta memperjuangkannya secara gigih dan konsisten.
Sehingga, lanjut Anwar, para pengikut “Masyumi reborn” yakin bahwa harapan mereka bisa mereka gantungkan kepada partai baru ini untuk memperjuangkannya.
“Kalau ini bisa mereka lakukan, maka partai ini akan bisa menjadi partai besar dan akan bisa meramaikan dunia perpolitikan di tanah air,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Prof Din Syamsuddin, mendorong agar umat Islam mencetuskan satu partai politik Islam sebagai kendaraan politik umat yang mayoritas di Indonesia ini.
“Agenda politik umat Islam perlu mengambil beberapa opsi pendekatan: Pertama, mendorong adanya partai politik Islam tunggal yang secara formal berfungsi sebagai kendaraan politik tokoh-tokoh umat Islam dan sarana artikulasi aspirasi politik umat Islam,” ujar Din dalam pidatonya pada Sidang Pleno III KUII ke-7 di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Kamis (27/02/2020).
Diketahui, Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau disingkat Masyumi, adalah sebuah partai politik Islam terbesar di Indonesia selama Era Demokrasi Liberal di Indonesia. Partai ini dilarang pada tahun 1960 oleh Presiden Sukarno karena diduga mendukung pemberontakan PRRI.
Menurut Wikipedia, Masyumi adalah nama yang diberikan kepada sebuah organisasi yang dibentuk oleh Jepang yang menduduki Indonesia pada tahun 1943 dalam upaya mereka untuk mengendalikan umat Islam di Indonesia. Tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 7 November 1945 sebuah organisasi baru bernama Masyumi terbentuk. Dalam waktu kurang dari setahun, partai ini menjadi partai politik terbesar di Indonesia. Masyumi termasuk dalam kategori organisasi Islam, sama seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selama periode demokrasi liberal, para anggota Masyumi duduk di Dewan Perwakilan Rakyat dan beberapa anggota dari partai ini terpilih sebagai Perdana Menteri Indonesia, seperti Muhammad Natsir dan Burhanuddin Harahap.
Masyumi menduduki posisi kedua dalam pemilihan umum 1955. Mereka memenangkan 7.903.886 suara, mewakili 20,9% suara rakyat, dan meraih 57 kursi di parlemen.
Masyumi termasuk populer di daerah modernis Islam seperti Sumatera Barat, Jakarta, dan Aceh. 51,3% suara Masyumi berasal dari Jawa, tetapi Masyumi merupakan partai dominan untuk daerah-daerah di luar Jawa, dan merupakan partai terdepan bagi sepertiga orang yang tinggal di luar Jawa. Di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, Masyumi memperoleh jumlah suara yang signifikan. Di Sumatera, 42,8% memilih Masyumi, kemudian jumlah suara untuk Kalimantan mencapai 32%, sedangkan untuk Sulawesi mencapai angka 33,9%.*