Hidayatullah.com– Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DKI yang juga tokoh muda Muhammadiyah, Fahmi Salim, mengungkapkan peran Prof Yunahar Ilyas dalam menyelesaikan masalah-masalah keumatan.
Fahmi menuturkan, ia berkenalan dengan Prof Yunahar secara intens saat menjadi pengurus MUI Pusat tahun 2010 sampai 2015, sebagai anggota kemudian Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat.
Fahmi pun mengakui bahwa Wakil Ketua Umum MUI itu sangat mengapresiasi semangat dakwah para generasi muda.
Baca: Wapres KH Ma’ruf Amin Mengenang Prof Yunahar Pemersatu Umat
Fahmi menuturkan, Yunahar selalu bisa memberikan celah solusi dalam menghadapi suatu persoalan saat para tokoh mengalami kebuntuan menghadapinya. Ia menilai hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa.
“Beliau (Yunahar) melihat celah dan bisa memberikan solusi. Seperti misalnya dalam masalah penanganan aliran-aliran sesat di Indonesia, seperti Syiah, Ahmadiyah, liberalisme. Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dan menyesatkan itu tidak lepas dari tangan dingin buah pikiran beliau yang bernas dalam menyelesaikan masalah-masalah keumatan,” ungkapnya dalam penuturannya lewat pesan suara diterima hidayatullah.com, Jumat (03/01/2020).
Baca: Ribuan Orang Iringi Pemakaman Prof Yunahar di Yogyakarta
Fahmi mengatakan bahwa kedalaman ilmu almarhum tidak perlu lagi diwakili oleh sederet gelar akademik yang disandangnya almarhum semasa hidupnya.
“Buya Yunahar ini adalah sosok yang bagi saya komplit. Beliau ulama yang rabbani, ulama yang istiqamah, yang bertutur kata sangat hati-hati namun tegas menunjukkan loyalitasnya, wala’-nya kapada jalan Allah dan Rasulullah, kepada aqidah ahlussunnah wal jamaah, dan selalu membimbing umat dimana pun beliau berada,” tuturnya.
Baca: Anwar Abbas: Buya Yunahar Ulama yang Tegas, Lurus, Tulus
Ketua PP Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas meninggal dunia pada hari Jumat, 8 Jumadil Awwal 1441H atau bertepatan hari Kamis (02/01/2020) pukul 23.47 WIB di RS Sarjito Yogyakarta. Prof Yunahar wafat pada usia 63 tahun.
“Semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhai dan mengampuni semua kesalahannya. Semoga almarhum husnul khatimah. Selamat jalan, wahai guru! Engaku telah berpisah dari ilmu yang telah engkau wakafkan, keluarga yang kau cintai, dan umat yang kau sayangi. Semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita semua kembali di keabadian akhirat kelak,” pungkasnya.*