Hidayatullah.com—Secara konseptual, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti, menyatakan tidak setuju dengan istilah The New Normal (kenormalan baru).
“Tetapi lebih cenderung menggunakan istilah New Reality atau Realitas Baru, karena itu lebih bersifat netral dan lebih mudah untuk kita menjelaskannya,” ujar Abdul Mu’ti dalam konferensi televideo bertajuk ‘Tata Hidup Baru (The New Normal Life) Perspektif Agama-agama’, Senin (8/6/2020) kemarin.
Menurutnya, istilah The New Normal itu sebetulnya mengandung dimensi moral dan dimensi ideologi jika dikaji lebih mendalam. “Sehingga, ukuran normal itu apa, harus jelas. Itu memang jadi problematik,” katanya.
Bahkan, kalau dikaitkan dengan teori neurosains, masih kata Abdul Mu’ti, bisa menjadi debatable, karena dalam teori tersebut dikenal istilah otak normal dan otak sehat. Istilah The New Normal juga tidak dikenal dalam konstruksi perundang-undangan di Indonesia serta tidak sesuai dengan situasi nasional maupun internasional.
“Cuma karena itu istilah dari kebijakan negara, seolah masyarakat harus hiruk pikuk dengan istilah tersebut,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, New Reality adalah sebuah situasi yang tidak dapat dihindari, maka, mau tidak mau harus menentukan sikap terhadap realitas itu serta menghadapinya dengan segala kekuatan yang kita miliki sekarang ini.
“Dan tidak mungkin juga kita hentikan karena prosesnya senantiasa sudah terus berjalan,” katanya menegaskan.*