Hidayatullah.com– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq menjelaskan, agenda besar Hidayatullah ke depan dalam mewujudkan visinya, “Membangun Peradaban Islam”, adalah sukses dakwah dan tarbiyah yang diawali dengan tri-konsolidasi: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan.
Kemudian, Hidayatullah mengangkat agenda besar yaitu peningkatan kualitas kader secara spiritualitas (ruhiyah), peningkatan intelektualitas (tsaqafiah), dan kualitas fisik (jismiyah) yang sehat dan bahagia melalui jatidiri Hidayatullah. Baik melalui jalur formal di pendidikan maupun melalui jalur informal yang nantinya akan dimitrakan dengan Dewan Murabbi melalui marhalah-marhalah dan halaqah.
Selanjutnya, Hidayatullah juga melakukan penguatan sistem organisasi melalui kebijakan sentralisasi, standardisasi, dan integrasi.
Agenda besar ketiga, kata Nashirul, yaitu melakukan rekrutmen dan ekspansi dakwah melalui dakwah fardiyah dan pengembangan Majelis Quran secara nasional.
“Berikutnya, melanjutkan kebijakan sinergitas program mainstream karena kita meyakini bahwa apa yang menjadi harapan besar kita akan terwujud manakala seluruh elemen dan institusi melakukan sinergitas yang baik,” ujar Nashirul dalam sambutannya pada penutupan Musyawarah Nasional V Hidayatullah secara virtual, Sabtu (31/10/2020).
Selain itu, Hidayatullah pub terus menguatkan membangun kemandirian di bidang ekonomi dan keuangan baik secara kelembagaan maupun secara keummatan dan kewargaan.
“Alhamdulillah pada awal periode ini atau tepatnya di akhir periode kemarin telah selesai penyusunan grand design organisasi Hidayatullah yang akan menjadi acuan kita sebagai roadmap dalam menjalankan organisasi ini ke depan,” sebutnya.
Baca: Munas V Berakhir, Hidayatullah Siap Terus Bersinergi Bangun Indonesia Bermartabat
Kata Nashirul, kebijakan strategis organisasi yang telah dirumuskan sedemikian rupa dan telah disahkan pada Munas tersebut, akan di-breakdown dalam bentuk program program 5 tahunan setiap bidang dan departemen. “Kami yakin bahwa personil-personil yang telah dilantik adalah kader-kader terbaik yang memiliki integritas dan kapabilitas,” sebutnya.
Penutupan Munas V Hidayatullah ini dihadiri oleh utusan perwakilan DPW Hidayatullah se-Indonesia, DPP Hidayatullah, unsur pengurus, ketua-ketua badan dan amal usaha, ketua organisasi pendukung dan lembaga, unsur Majelis Penasihat, Dewan Pertimbangan, Dewan Mudzakarah dan unsur Dewan Murabbi Pusat serta diikuti secara virtual 34 titik kluster yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Pada kesempatan itu, Hidayatullah sebagai ormas Islam yang getol menggaungkan persatuan untuk kebangkitan umat menuju Indonesia bermartabat, terus menyerukan gerakan kohesifitas dalam rangka mengokohkan persatuan dengan membangun sinergitas keummatan dan kebangsaan.
“Sinergi keummatan secara nasional sangat dibutuhkan apalagi seperti dalam kondisi seperti saat sekarang ini dimana ada sekelompok kecil dari bangsa ini yang menguasai negeri ini,” ujarnya.
Umat Islam kata dia sebagai pewaris yang sah dan penduduk mayoritas di negeri ini terpinggirkan karena tidak adanya kesatuan, persatuan, dan sinergitas antara elemen umat dan bangsa. “Sinergitas antara haraqah Islamiyah dalam skala internasional antar bangsa akan terus kita tingkatkan dalam rangka bersama-sama mewujudkan peradaban Islam yang agung di muka bumi ini,” ujarnya.
Ia juga mengemukakan peran kemepimpinan sebagai sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada umat. Tugas pemimpin yaitu mengabdikan diri kepada Allah dalam rangka menegakkan agama dan tanggungjawab dunia, yaitu mensejahterakan dan memakmurkan umat yang dipimpin.
Pemimpin pun, jelasnya, memiliki tanggung jawab amal makruf nahi munkar. Sebab tugas kepemimpinan adalah tugas kenabian dimana para pelanjut Nabi dan Rasul adalah mereka yang diberikan amanah kepemimpinan oleh Allah.
“Menyadari betapa beratnya amanah ini, kami sesungguhnya merasa tidak layak dan tidak mampu. Semoga perasaan itu kemudian menumbuhkan ketawakkalan yang tinggi untuk senantiasa memohon bantuan dan maunah dari Allah,” ujarnya.
Semoga dengan perasaan tidak mampu itulah, kata dia, akan mendorong melibatkan semua potensi yang ada di Dewan Pengurus Pusat dan senantiasa meminta petunjuk dan arahan dari Pemimpin Umum, Majelis Penasihat dan Dewan Pertimbangan serta menjalin kemitraan dengan Dewan Mudzakarah dan Dewan Murabbi Pusat.
Pada momen yang cukup sakral itu, Nashirul menukil ungkapan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu ketika ia dilantik menjadi khalifah yang penggalan kalimat tersebut berbunyi;
“Aku telah diberikan amanah untuk memimpin kalian padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Maka jika aku berbuat baik dalam menjalankan amanah ini, maka bantulah dan dukunglah aku. Tapi jika aku keliru dalam menjalankan amanah ini, maka luruskanlah aku. Kebenaran itu adalah amanah dan dusta itu adalah khianat,” sebutnya.* (Ainuddin)