Hidayatullah.com | Bentrok antar organisasi masyarakat (ormas) terjadi lagi. Kali ini dilakukan oleh ormas Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Betawi Rempug (FBR).
Menurut polisi, bentrokan ini berawal dari acara konvoi anggota Pemuda Pancasila menggunakan kendaraan bermotor dan di tengah perjalanan konvoi, massa PP terlibat adu mulut dengan anggota FBR dan berujung pada pecahnya bentrokan. (Tempo.co)
Bentrokan yang terjadi antara PP dan FBR semakin menambah catatan bentrokan antar ormas di Indonesia. Sementara itu mengamati dari kasus-kasus sebelumnya, kasus semacam ini biasanya dipicu salah paham antar ormas.
Memang akan sangat rawan terjadi konflik antar sesama ormas bahkan didalam tubuh ormas itu sendiri jika ketergabungan para kader hanya berlandaskan semangat tanpa disertai keinginan yang benar, kecuali sekedar berharap pada unsur kemaslahatan.
Di sinilah pentingnya peran pembinaan yang benar sebagai ikhtiar penjagaan atas keberlangsungan sebuah gerakan. Sehingga individu-individu yang tergabung didalamnya memiliki kesadaran yang benar pula.
Kemampuan membedakan antara kawan dan lawan, pun kapan saatnya marah dan tak perlu merespon adalah buah dari pembinaan benar tersebut. Karena sejatinya keberadaan sebuah gerakan adalah untuk membangkitkan umat.
Maka tidak boleh tidak mereka harus punya kesadaran benar akan perannya dalam mewujudkan hal itu.
Pembinaan tersebut merupakan pembinaan tsaqafah Islam yang bersifat intensif, dengan maksud agar terbentuk aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) Islami. Serta bersifat praktis yakni memastikan setiap ilmu yang diperoleh betul-betul diamalkan dalam kehidupan. Sehingga pengkajian ilmu tidak mengarah kepada cara pengkajian ilmu dalam sekolah yang bersifat ilmiah belaka, dimana orang menuntut ilmu hanya untuk diketahui saja dan bersifat akademis).
Dengan demikian dapat melahirkan kader-kader tangguh dan kritis atas berbagai tindak kedholiman, mengutamakan persatuan atas dasar kesamaan akidah bukan kepentingan, serta meminimalisir hal-hal yang dapat memicu perpecahan di tubuh umat. Tujuan dari pembinaan ini pun agar Ormas mampu menghadapi masyarakat, menyadari keadaan masyarakat dan memahami berbagai situasi dan kondisi masyarakat secara mendalam.
Maka goals dari pembinaan ini, para kader benar-benar telah siap untuk berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga bukan lagi emosi yang dikedepankan melainkan kejernihan berpikir. Pembinaan ini juga sesungguhnya adalah upaya untuk menjaga agar sebuah gerakan tetap jernih dan tak mudah disusupi oleh pemahaman yang merusak.
Maka agar bentrok tak berulang, kuncinya terletak pada pembinaan itu sendiri. Apakah kepribadian Islami telah terbentuk dalam jiwa mereka yakni nafsiyah mereka berjalan seiring dengan aqliyah mereka ataukah masih tercampur dengan nafsiyah dan aqliyah yang lain.
Terkait hal ini Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa (Islam).” Wallahu ‘alam bisshowab. *
Sri Wahyuni, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Freelance Writer