Hidayatullah.com– Masyarakat Barat khususnya di Britania Raya (United Kingdom/UK) tidak banyak melirik feminisme.
Pada tahun 2015-2016 berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, kaum wanita yang mengidentifikasi dirinya sebagai feminis hanya berkisar 7 persen saja.
Karena definisi yang tidak jelas ini, feminisme akhirnya terbiarkan menjadi istilah yang terbuka oleh berbagai macam interpretasi.
Demikian diungkapkan Zara Faris, aktivis Muslimah asal Britania Raya (United Kingdom/UK) yang dengan konsisten secara vokal mengkritik paham feminisme.
Zara menyampaikan itu dalam kuliah online internasional bertema “Muslim Feminist: False Hope or Obsolete Utopia” yang digelar The Center for Gender Studies (CGS) baru-baru ini.
Menurut Zara, bahkan bagi masyarakat sekuler-liberal Barat (western secular liberal) sendiri, istilah feminisme secara terminologi sudah mengandung masalah.
“Jika feminisme diartikan sebagai “equal rights and opportunities for women and men”, maka tidak perlu lagi ada feminisme, aktivis perempuan dan kemanusiaan atas nama social justice activist seharusnya bersatu untuk menjadikan ini isu bersama di bawah egalitarianisme,” dikutip website resmi CGS (12/05/2020).
Zara Faris membuka sesi kedua yang berjudul “Do Women Need Feminism?” dengan menerangkan keadaan masyarakat di UK dalam beberapa tahun terakhir.
Disebutkan, jika bagi masyarakat sekular Barat term feminisme sudah bermasalah, seharusnya bagi kaum Muslimin kesalahan itu nampak lebih nyata lagi.
“Sebab permasalahan ini bukan hanya menyangkut aspek fisik semata, tetapi lebih dalam daripada itu ia menyentuh sampai ke tataran metafisik.”
Zara memandang, feminisme bukan hanya sebagai salah satu pendekatan yang digunakan untuk menghadapi isu hak-hak perempuan, feminisme adalah sebuah pendekatan idelogis (ideological approach) yang berakar dari pandangan hidup sekular-liberal (secular-liberal worldview) dan dikemas seindah dan semulia mungkin seakan-akan merepresentasikan perjuangan kemanusiaan melalui term-term equality, freedom, dan empowernment.
Padahal mereka, jelasnya, menggunakan istilah-istilah itu sebagaimana bahasa kaum liberalis yang penuh dengan kontradiksi.
Zara menggunakan analogi permainan Rock Paper Scissors sebagai simbol-simbol yang saling berbenturan satu sama lain layaknya konsep equality, freedom, dan empowernment, karena itu ia disebut erroneous rational.
Acara yang diselenggarakan via Webinar Zoom ini menarik perhatian sampai dengan 500 peserta hanya dalam waktu 2 hari. Acara yang dipandu oleh moderator dari CADIK Indonesia, Zakiyus Shadicky ini berlangsung pada malam 17 Ramadhan 1441H/2020M.
Banyaknya perhatian peserta acara tersebut dinilai boleh jadi menandakan bahwa isu gender dan feminisme masih memiliki daya tarik masyarakat lintas negara.
Selain Indonesia, acara ini juga diikuti oleh masyarakat di negara-negara lainnya seperti Pakistan, Inggris, Malaysia, dan Mesir.
Pada saat pembukaan, Direktur CGS, Dr Dinar Kania menyampaikan, dipilihnya tema ini karena masih ramainya umat Muslim khususnya di Indonesia yang dengan bangga menyatakan dirinya feminis-Muslim secara bersamaan. Bahkan upaya-upaya untuk ‘menyatukan’ kedua pandangan (feminisme dan Islam) yang sejatinya bertolak belakang ini masih terus dilakukan secara militan.*