Hidayatullah.com–Sejumlah penjaga Masjid Al-Aqsa melaporkan Selasa (6/10) bahwa tentara dan polisi Israel berdiri di gerbang-gerbang masjid dan mereka dicegah masuk untuk melakukan aktivitasnya.
Setelah menyerahkan kartu identitas dan diperiksa, para penjaga masjid itu hanya diperbolehkan masuk pada jam pergantian jadwal kerja.
Berbicara kepada pers Selasa (6/10), sejumlah petugas penjaga Masjid Al-Aqsa mengatakan bahwa tindakan tentara penjajahan Israel sekarang ini belum pernah seperti itu sebelumnya. “Pintu-pintu lebih dikontrol daripada sebelumnya,” kata para penjaga dalam sebuah pernyataan.
Selama tiga hari berturut-turut, kegiatan belajar di lingkungan Masjid Al-Aqsa terpaksa dihentikan karena tindakan tentara Israel itu.
Pemerintah penjajahan mengumumkan Senin malam bahwa tindakan yang diambil terhadap kota itu akan terus dilanjutkan. Hal ini menunjukkan bahwa Israel membenarkan penindasan dengan alasan keamanan.
Warga Palestina di bawah usia 50 tahun dilarang memasuki Kota Tua Yerusalem atau Masjid Al-Aqsa. Kehadiran militer Israel tersebar dimana-mana, di seluruh penjuru Kota Tua, di sekeliling masjid, dan di Tembok Barat (Tembok Ratapan).
Militer dan anggota kepolisian berpatroli dengan berjalan kaki atau mengendarai kuda. Mereka mengawasi seluruh wilayah Kota Tua dan sekitarnya. Di Jalan Salahuddin mobil-mobil disuruh menepi, juga di Bab Al Maud.
Pos-pos pemeriksaan militer untuk keluar masuk kota, memberlakukan prosedur yang lebih lambat dari biasanya.
Di tempat serupa, bentrokan terjadi Selasa pagi di beberapa wilayah di Kota Tua dan Yerusalem Timur, termasuk di kawasan Ras Al-Amud, Wadi Joz, dan Mount of Olives. Para pelajar melempari botol dan batu ke arah tentara Israel yang menembaki mereka dengan granat kejut, bom api, dan gas air mata.
Lalu lintas perdagangan dan pertokoan turut menderita akibat tidak ada pelanggan yang mendatangi mereka. Sebagian besar pemilik toko memilih menutup usahanya sementara waktu, karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Tindakan militer Israel sekarang ini di wilayah Al-Aqsa dan Yerusalem, mengingatkan orang pada situasi di tahun 1967. [di/pn/hidayatullah.com]