Hidayatullah.com &Sahabat Al-Aqsha–Kapal utama kafilah kemanusiaan Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) Mavi Marmara yang bersandar di pelabuhan Antalya, belum bergerak meninggalkan sampai menjelang tengah malam waktu Turki (sekitar jam 4 pagi WIB). Kemarin tiga koran utama yang terbit di Israel memberitakan berbagai jenis skenario ancaman kepada kafilah, mulai dari pemenjaraan semua aktivis kemanusiaan, sampai penyitaan barang bantuan dan didistribusikan lewat PBB, sampai memulangkan semua aktivis ke negerinya masing-masing dengan tiket gratis.
Salah seorang staf IHH yang tak mau disebut namanya menyebutkan kapal akan bergerak sekitar jam 2 pagi. Namun belum ada kepastian sampai kapal benar-benar bergerak.
Sedangkan aktivis kemanusiaan dari lebih 50 negara yang berjumlah sekitar 560 orang, memilih beristirahat dan tidur lesehan di tiga hall besar yang disediakan oleh IHH. Soalnya, Mavi Marmara yang dibuat tahun 1995 memang tidak didesain untuk diinapi oleh penumpangnya yang bisa mencapai 850 orang. Ini adalah jenis kapal pesiar yang berisi 3 buah restoran besar untuk dipakai berkeliling melihat-lihat keindahan kota Istanbul yang dibelah oleh Laut Marmara dan Selat Bosforus.
Sebuah hall besar dikhususkan untuk peserta kafilah perempuan, sedangkan untuk peserta lelaki terdapat dua hall besar di dek atas. Masing-masing hall berisi kursi-kursi setengah sofa yang mengelilingi meja makan dan bisa ditempati 4 orang. Namun jika mau tidur, separuh peserta terpaksa rela tidur di lantai. Panitia sudah menyediakan matras tipis sebagai pelapis dasar kantung tidur yang dibawa peserta.
Saat ini, pemandangan hall–hall itu persis kapal-kapal penumpang Indonesia di saat menjelang lebaran. Para aktivis kemanusiaan, anggota parlemen, uskup, ulama, dan wartawan sama-sama tidur lesehan di lantai-lantai berselimutkan kantung tidur.
Sebagian lainnya asyik berbincang dengan teman baru, baik yang berasal dari negerinya, maupun dari negeri lain. Sambil minum teh dan makan camilan yang disediakan panitia, mereka kebanyakan membicarakan ancaman-ancaman Israel. Ada yang tertawa-tawa membaca berita dari Yediot Aharanot, salah satu koran terbesar Israel, yang memberitakan bahwa pemerintah Israel siap mendeportasi seluruh aktivis ke negerinya masing-masing dengan tiket gratis.
Puluhan wartawan langsung bekerja di ruang media yang terletak di dek 3 mencoba 15 buah laptop yang disediakan IHH untuk pekerjaan mereka. Alhamdulillah semua lancar, kecuali huruf-huruf di keyboard laptop-laptop itu susunannya agak berbeda sedikit, karena mengikuti urutan alfabet dalam bahasa Turki, yang memiliki beberapa huruf yang berbeda dengan bahasa Indonesia dan Inggris. Misalnya huruf O dan U yang punya saudara lain yang ada dua titik di atasnya, juga huruf S dan C yang ada cacing di bawahnya.* [dzik/san/sur/hidayatullah.com]
Salurkan Bantuan Anda untuk Palestina melalui; Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com