Hidayatullah.com & Sahabat Al-Aqsa—Mavi Marmara, Laut Tengah—Kafilah Freedom Flotilla dalam keadaan siaga – 78 mil dari Pantai Gaza di tengah kabar bahwa ada tiga kapal yang merupakan bagian dari armada Angkatan Laut Israel mendekat ke arah Mavi Marmara.
Beberapa menit lalu kapten kapal Mavi Marmara mengadakan kontak dengan kapal yang diduga adalah bagian dari armada Angkatan Laut Israel.
Kapal yang diduga kapal Israel ini bertanya: “Anda siapa?”
“Mavi Marmara” jawab Kapten.
“Hendak kemana?”
“Gaza”
Saat itu juga semua komunikasi diputus.
Presiden IHH dengan tetap tersenyum meminta semua peserta kafilah dari berbagai negara untuk mendesak pemerintah masing-masing melakukan tekanan kepada Israel agar membuka jalan bagi kafilah bantuan kemanusiaan untuk Gaza.
Beberapa saat menjelang Maghrib, staff IHH mengumumkan kepada seluruh peserta kafilah Freedom Flotilla untuk memastikan diri mereka dalam keadaan siap-siaga sebelum pukul 7 pagi ini waktu Antalya, Turki atau sekitar pukul 11 WIB.
Semua peserta perempuan harus meninggalkan semua barang bawaan di hall mereka di bagian bawah, dan naik ke hall satu tingkat di bawah dek 3. Laptop, kamera, dan semua peralatan elektronik tak boleh dipakai lagi.
Semua peserta diinstruksikan untuk membungkus passport dan benda-benda paling berharga seperti dompet dalam plastik dan membawanya di badan – untuk berjaga-jaga kemungkinan harus berenang.
Semua peserta yang memiliki kondisi medis tertentu – seperti Jerry Campbell, Muslimah dari Australia yang dalam keadaan hamil enam pekan – akan ditempatkan di ruang P3K.
Kafilah Freedom Flotilla mengarungi laut sepanjang malam menuju Gaza. Sejak Maghrib semua jendela di dek dan hall ditutup rapat sehingga tak ada cahaya yang tampak keluar.
Sebagaimana ditetapkan oleh IHH sebelumnya, begitu kondisi kritis terjadi, maka tidak akan ada lagi komunikasi dengan dunia luar yang bisa dilakukan oleh peserta kafilah. Semua informasi berupa video telecast dan berbagai pernyataan yang disiarkan lewat satelit hanya akan berasal dari IHH.
Direncanakan bahwa keenam kapal anggota armada kemanusiaan ini, termasuk Mavi Marmara yang terbesar, akan berhenti sekitar 40 mil laut dari Pantai Gaza untuk menanti terang hari sebelum berusaha menembus blokade kapal-kapal Angkatan Laut Israel.
Namun, sebagaimana dilaporkan sebelum ini, Israel dikabarkan sudah memperluas zona militer mereka dari semula 20 mil laut menjadi 68 mil laut, sebuah tindakan yang melanggar hukum internasional karena yang dihadapi Israel saat ini bukanlah situasi perang melainkan sekelompok aktivis kemanusiaan yang membawa bantuan medis dan material bagi rakyat Gaza yang menderita karena embargonya.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Presiden Insani Yardim Vakfi (IHH) Fahmi Bulent Yildirim menegaskan bahwa tidak ada satu pun persenjataan yang dibawa dalam kafilah Freedom Flotilla. “Bahkan sebatang paku pun tidak.”
Semalam para peserta menghabiskan waktu mereka dengan berzikir dan memohon pertolongan Allah.
Gaza dan seluruh muka bumi ini milik Allah Subhanahu wa Ta’ala – hanya izin Allah saja yang kita minta untuk masuk ke dalam Gaza. [Dzikrullah, Santi Soekanto dan Surya Fachrizal/hidayatullah.com]