Hidayatullah.com–Seorang guru wanita di Tepi Barat mengatakan bahwa dirinya bekerja hampir empat tahun tanpa mendapatkan bayaran, setelah Otoritas Palestina menghentikan gajinya dengan alasan politik.
Maan melaporkan (17/12/2011), Hadiyya Daud mengatakan ia pertama kali mengetahui gainya tidak ditransfer ke rekeningnya sejak tahun 2008, empat tahun setelah dinyatakan layak oleh Kementerian Pendidikan untuk mengajar di sebuah sekolah di Qalqiliya.
Kementerian Pendidikan menyuruhnya ke Kementerian Keuangan, “yang mengatakan kepada saya bahwa gaji saya ditangguhkan, tapi saya tidak dipecat,” kata Hadiyya Daud kepada Maan.
Wanita itu diberitahu bahwa penangguhan gaji dilakukan karena ia diduga terkait dengan Hamas.
Hadiyya menyangkal tuduhan itu. Kepada pemerintah ia mengatakan tidak berafiliasi dengan partai politik apapun dan mengikuti semua peraturan Otoritas Palestina. Tapi, gajinya tetap saja tidak dicairkan, imbuhnya.
Menurut keterangan Bassam Naim, anggota serikat guru, puluhan pegawai negeri telah dipecat atau dimutasi dari pekerjaannya dengan alasan politis. Namun, menurutnya kasus Hadiyya Daud agak unik, karena hanya gajinya saja yang ditangguhkan dan tidak dipecat.
Naim mengatakan, kasus tersebut sedang ditindaklanjuti oleh serikat guru.
Hadiyya Daud telah mengadu kepada Presiden Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Palestina di Ramallah Salam Fayyad, agar membantu pencairan gaji yang berhak diterimanya. Gaji itu “merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi saya, ibu dan saudara-saudara perempuan saya,” katanya.
Kepala sekolah tempat Hadiyya mengajar mengatakan, guru wanita itu tetap menjalankan tugasnya dengan baik meskipun tidak mendapatkan gaji selama hampir empat tahun ini.*