Hidayatullah.com–Sumber media Israel melaporkan bahwa Presiden Palestina, Mahmud Abbas baru-baru ini menolak tawaran untuk kembali ke meja perundingan dengan Israel, sebagai ganti dari upaya Israel yang pergi ke PBB guna mendapatkan status “negara pengamat non-anggota”.
Menurut media tersebut, ketakutan Israel terbesar adalah jika Palestina menyeret Israel ke Mahkamah Pidana Internasional.
Seperti yang dilansir oleh Al Jazeera dari surat kabar Maariv, Kamis (29/11/2012), bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengirimkan pesan kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas, baik melalui perantara Amerika Serikat dan Perancis maupun secara langsung, yang isinya jika Abbas bersedia untuk menarik upayanya pergi ke PBB, maka Israel akan sepakat untuk melanjutkan negosiasi setelah Pemilu di Israel. Akan tetapi Abbas menolak tawaran Israel tersebut.
Adapun, pandangan Israel soal upaya Palestina tersebut, seperti yang dilansir oleh surat kabar Maariv dari seorang sumber politik, menilai bahwa seharusnya langkah Palestina pergi ke PBB itu tidak perlu dibesar-besarkan, bahkan jika langkah itu berhasil sekalipun. Menurutnya, tujuan pergi ke PBB itu hanya merupakan upaya mengalihkan opini publik rakyat Palestina atas kegagalan pemerintah dalam mengatasi masalah internal rakyat.
Sementara itu, surat kabar Yediot Ahronot mengatakan bahwa keberhasilan langkah Palestina di PBB bukan berarti dapat merubah apapun di tanah Palestina. Menurutnya, keputusan Majelis Umum PBB tersebut tidak bersifat mengikat seperti halnya keputusan Dewan Keamanan, melainkan hanya sebuah rekomendasi atau saran.*