Hidayatullah.com—Mufti Agung Al-Quds (Yerusalem) Muhammad Hussein mengundurkan diri dari forum yang berbasis di UEA yang bertujuan untuk “mempromosikan perdamaian” pada hari Rabu (26/08/2020). Hal itu merupakan pengunduran diri yang kedua dalam beberapa hari terakhir, menyusul dukungan publik dari organisasi mengenai normalisasi antara negara Teluk dengan ‘Israel’.
Muhammad Hussein mengumumkan pengunduran dirinya dari Forum untuk Mempromosikan Perdamaian di Masyarakat Muslim (FPPMS) selama konferensi pers publik, kantor berita Wafa melaporkan. Dalam pernyataannya, Hussein mengatakan:
“Normalisasi adalah tusukan di punggung Palestina dan umat Islam, dan pengkhianatan terhadap tanah suci umat Islam dan Kristen di Yerusalem,” katanya Syeikh Hussein.
Minggu lalu, FPPMS mengeluarkan pernyataan yang sekarang dihapus yang mengklaim normalisasi akan “menghentikan Israel dari memperpanjang kedaulatannya atas tanah Palestina” dan merupakan sarana untuk “mempromosikan perdamaian dan stabilitas di seluruh dunia”. Sementara para pejabat Emirat memuji normalisasi sebagai cara yang berhasil untuk mencegah pencaplokan dan mendukung solusi dua negara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali menekankan bahwa dia tetap “berkomitmen untuk melanjutkan pencaplokan Tepi Barat”.
Hussein sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk kesepakatan itu, dan pekan lalu mengeluarkan sebuah pernyataan yang melarang Muslim dari UEA untuk mengunjungi dan shalat di Masjid Al-Aqsha (dalam kondisi saat ini).
Pada hari Ahad (2308/2020), aktivis Muslim-Amerika Aisha al-Adawiya juga menyatakan pengunduran dirinya dari FPPMS sebagai akibat dari pernyataan yang mendukung normalisasi dengan ‘Israel’. Adawiya mengatakan topik normalisasi tidak pernah diangkat pada pertemuan dewan baru-baru ini dan bahwa “tidak ada mufakat tentang dukungan apa pun untuk kesepakatan UEA dengan ‘Israel’”.
“Sebagai hasil dari pelanggaran kepercayaan dan konsisten dengan nilai-nilai saya, saya mengumumkan pengunduran diri saya,” katanya dalam sebuah unggahan Facebook. Anggota forum lainnya, termasuk penasihat pengadilan kerajaan Kuwait Abdullah al-Matouq, menyatakan berlepas diri dari pernyataan forum tersebut.
FPPMS dibentuk pada tahun 2014 dan dipimpin oleh seorang ulama yang tinggal di Saudi dan pernah menjadi politisi di Mauritania, Abdullah bin Bayyah. Di bawah perjanjian UEA-‘Israel’ yang ditandatangani Kamis (13/08/2020) lalu, ‘Israel’ mengatakan akan menangguhkan rencana pencaplokan bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki, sebuah konsesi yang disambut oleh Eropa dan beberapa pemerintah Arab pro-Barat, tetapi dijauhi oleh Palestina.
Namun, Netanyahu telah mengatakan pada publik ‘Israel’ bahwa rencana pencaplokan hanya ditunda untuk sementara. Kelompok-kelompok Palestina secara terbuka mengecam kesepakatan itu, mengatakan bahwa hal itu merupakan tikaman dari belakang dan tidak membantu apapun dalam kepentingan Palestina*