Melalui komunitas lari, warga ingin terus bergerak. Semangat ini ditemukan di seluruh Palestina
Hidayatullah.com | SEPULUH tahun lalu, sekelompok aktivis Denmark dan Palestina memulai sebuah kampanye untuk mengilustrasikan realitas kehidupan di bawah penjajahan ‘Israel’. Gerakan ini berupa lari jarak jauh atau maraton, yang disebut dengan istilah Right to Movement (RTM).
Kampanye itu diinisiasi kalangan akar rumput di Bayt Lahm (Bethlehem) dan menjadi ajang maraton pertama di Palestina. Meski sesungguhnya tidak ada rute sejauh 42 km di Area A kota itu, dimana warga Palestina memiliki semacam kedaulatan untuk mengatur kegiatan.
Akibatnya, pelari harus mengulang segmen 10,5 km empat kali untuk menyelesaikan maraton jarak penuh. Pembatasan gerak menjadi salah satu hambatan terbesar bagi warga Palestina akibat penjajahan ‘Israel’.
Warga harus berurusan dengan beragam macam pos pemeriksaan, tembok, dan penutupan jalan. Pos pemeriksaan itu terus membatasi meskipun warga hanya beraktivitas secara internal di wilayah Tepi Barat.
Simbol Kebebasan
Rute antara Ramallah dan Yerusalem –perjalanan 8 km– dapat memakan waktu hingga 1,5 jam sekali jalan. Waktunya habis akibat antrian yang kacau.
Pos pemeriksaan memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pos itu menjadi sumber utama stres dan ketidakpastian yang terus menghantui.
Itulah sebabnya, rute maraton menjadi simbol gerakan bebas Palestina akibatnya ketatnya pos pemeriksaan, pemukiman ilegal, serta tembok apartheid yang menjulang tinggi. Itu adalah rute yang sama yang digunakan warga dalam aktivitas sehari-harinya.
Right to Movement diawali dengan beberapa kelompok komunitas pelari di berbagai kota untuk mempersiapkan pelari dan memotivasi orang untuk bergabung dalam ajang maraton. Ditekankan bahwa yang penting, kelompok tersebut menjadi ruang yang aman dan memberdayakan warga Palestina untuk berolahraga di jalanan.
Gerakan ini menawarkan ruang dimana identitas yang berbeda bisa berjumpa. Seringkali antar warga bisa saling jumpa untuk pertama kalin ya dan berbaur secara alami. Situasi yang seperti tidak mungkin terjadi sebab rezim ‘Israel’ terus memecah-belah warga Palestina.
Saat ini RTM memiliki lima grup aktif di berbagai kota, yaitu Haifa, Jaffa, Yerusalem (Baitul Maqdis), Ramallah, dan Bayt Lahm. Selama dekade terakhir, kelompok-kelompok ini telah berkembang menjadi sumber mobilisasi sosial dan politik dalam komunitas mereka.
Identitas Palestina
Salah satu tantangan yang dihadapi pelari Palestina ketika melintasi Tepi Barat adalah mengidentifikasi rute yang aman dan tepat untuk berlatih lari jarak jauh. Karena banyak pos pemeriksaan, pelari terpaksa bolak-balik di lintasan jarak pendek, yang sesungguhnya tidak ideal untuk pelari jarak jauh.
Banyak kota di Tepi Barat –biasanya ditandai sebagai Area A—yang amat padat penduduk dan penuh sesak dengan bangunan dan kendaraan. Sedangkan di wilayah yang disebut Area B & C –sekitar 80% dari Tepi Barat– tidak aman bagi pelari, karena pemukim dan militer ‘Israel’ terus menebar teror kepada warga, termasuk pejalan kaki, pelari, dan pendaki.
Bahkan di wilayah Yerusalem Timur terjajah, pelari Palestina kerap menghadapi rintangan dan kekerasan. Penyebabnya, mereka menggunakan identitas Palestina melalui olahraga.
Sebagai contoh, pernah terjadi pada tahun 2021. Ketika itu, serdadu ‘Israel’ menyerang pelari Palestina yang menunjukkan solidaritas pada orang-orang yang digusur paksa dan diusir di lingkungan Sheikh Jarrah dan Silwan.
Pembatasan pergerakan di Tepi Barat dan kekerasan di Yerusalem adalah rutinitas ‘Israel’ yang mencekik kehidupan warga Palestina. Begitu pula di Jalur Gaza, yang bahkan telah diblokade selama lebih dari 15 tahun. Pergerakan warga amat sulit, bahkan untuk kasus darurat dan kemanusiaan seperti perawatan kanker.
Begitulah kontrol total ‘Israel’ atas siapa yang masuk dan keluar dari wilayah Palestina terjajah. Warga Palestina tidak memiliki kendali atas perbatasan apapun. Juga tidak memiliki bandara atau pelabuhan yang berfungsi untuk memfasilitasi perjalanan orang.
Pelari maraton yang akan bertanding ke luar negeri pun akan terbentur tembok larangan. Perjalanan ke luar negeri semuanya di bawah kendali ‘Israel’. Begitu pula warga internasional yang ingin berpartisipasi dalam maraton di Palestina, juga dapat ditolak masuk akibat kontrol ‘Israel’.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya RTM. Melalui komunitas lari, warga ingin terus bergerak. Semangat ini ditemukan di seluruh Palestina.
RTM berusaha menyatukan orang dengan segala cara yang memungkinkan, di kala rezim ‘Israel’ terus mencegah bersatunya orang-orang di Yerusalem, Gaza, Galilea, dan lainnya.
Di RTM juga ada dari kalangan pendaki dan retret. Sebagaimana para pelari, mereka juga harus mempertimbangkan lokasi yang paling mudah dan aman untuk dilewati. Ketika kekerasan pemukim ilegal ‘Israel’ makin merajalela belakangan ini, para pendaki harus ekstra hati-hati dalam memilih rute tertentu di Tepi Barat.
Terlepas dari semua ini, RTM terus berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat semua pelari mengesampingkan batasan ‘Israel’. Para pelari terus menggenggam sekuat mungkin misi utama untuk mengakhiri fragmentasi rakyat Palestina dan melawan birokrasi apartheid yang memecah-belah.
Saat ini RTM merayakan hari jadinya yang ke-10. RTM telah berubah menjadi simbol persatuan dan perlawanan Palestina yang jauh lebih mendalam daripada yang diperkirakan semula.
Right to Movement akan terus memperkuat komunitas pelari dan menyatukan orang-orang Palestina. Juga berbagi tekad untuk terus berlari meskipun dicengkeram oleh penjajahan.*
Ditulis oleh Jalal Abukhater (penulis Palestina yang tinggal di Yerusalem) dan George Zeidan (salah satu pendiri Right to Movement). Tulisan ini dipublikasikan The New Arab (09/03/2023). Pendapat dalam artikel ini adalah milik penulis, tidak mewakili editorial