“DOR!… Dor!… Dor!…”
Suara tembakan menyalak bertubi-tubi. Memberondong ribuan pria berseragam putih-putih. Yang ditembaki bergerak mundur menjauhkan diri.
Tembakan semakin menggila. Para penembak mengepung sasarannya dari dua arah berbeda. Korban-korban berjatuhan. Di antaranya pingsan, lainnya terkena selongsongan peluru. Ambulans segera melarikannya menuju rumah sakit….
Kericuhan itu memanaskan siang nan terik di Jl Lingkar Bekasi Utara, Kelurahan Harapan Baru, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat pekan ini.
Saat itu, belasan ribu warga Bekasi dari berbagai elemen melakukan demo “Aksi Tolak Gereja Liar Santa Clara”. Aksi ini berjalan damai, tutur Ismail Ibrahim, salah seorang koordinator lapangan (korlap). Namun tindakan diduga provokasi mengubah suasana.
Bagaimana ceritanya? Ismail menuturkan kronologi terjadinya kekerasan atas massa tersebut. Sekitar pukul 13.30 WIB, panitia aksi memindahkan mobil sound system (mobil komando) mendekati pintu masuk kompleks pembangunan Gereja Santa Clara.
Pembangunan ini sedang dipermasalahkan warga Bekasi itu karena dinilai menyalahi kesepakatan.
Baca: Dinilai Melanggar Kesepakatan, Warga Bekasi Akan Demo Gereja Santa Clara
Mobil itu baru saja diparkir agar posisi pengeras suara menghadap langsung ke Gereja Santa Clara. Tiba-tiba terjadi pelemparan botol air mineral dari arah dalam pagar Gereja Santa Clara.
“Ke arah massa,” tutur Ismail kepada hidayatullah.com, Jumat (24/03/2017).
Timpukan itu pun mengenai sebagian massa yang dekat dengan pagar gereja. Akhirnya massa terpancing, lalu terjadilah pelemparan dari dua arah. “Timpuk-timpukan,” ungkapnya.
Lama-lama, tuturnya, yang keluar dari dalam pagar itu bukan lagi botol, tapi batu bata dan batu-batu gede lainnya. Lemparan bebatuan terjadi berkali-kali. Jarak antara massa terdepan dengan pagar gereja cukup mepet, 2 meteran.
Siapa yang melempar batu-batu dari dalam pagar?
“Tidak terlihat,” jawab Ismail, karena pelempar persis berada di belakang pagar seng. Yang jelas, terjadi pelemparan botol dan batu-batu dari dalam pagar mengarah ke massa dan mobil komando.
Pelaksana Harian Majelis Silaturahim Umat Islam Bekasi (MSUIB) ini menduga, ada provokator yang mau mengadu domba pihak umat Islam dengan aparat keamanan. MSUIB merupakan elemen penggerak aksi yang diikuti sejumlah tokoh dan ulama itu.
Mendapat timpukan begitu, massa tidak membubarkan diri. Tetap bertahan di lokasi aksi.
“Saya, Ustadz Aang, sama Ustadz Iman sebagai korlap ini kita tenangkan semua (massa). ‘Tenang! Tenang!’” ungkapnya. Massa pun mulai tenang. Disenandungkanlah shalawat, takbir, dan sebagainya.
Tiba-tiba lagi, ada tembakan gas air mata dari arah dalam pagar Gereja Santa Clara yang memang dijaga ketat aparat kepolisian. Tembakan pertama itu, perkiraan Ismail, mungkin semacam peringatan “biar tidak ramai”.
Tapi ternyata, terjadi lagi tembakan gas air mata.
“Dar! Dor! Dar! Dor! Dar! Dor!… Puluhan kali,” tuturnya.
Bahkan tembakan aparat itu dari dua titik berbeda. “Dari arah Santa Clara dan arah (supermarket) Superindo. Kita dikepung oleh tembakan gas air mata,” ungkapnya. Supermarket itu berada di depan kanan gereja, berseberangan.
Tembakan gas air mata berkali-kali diberondongkan ke massa yang akhirnya memilih mundur. “Udah mundur pun dihantam lagi, dihantam lagi berkali-kali,” tuturnya bersemangat.
Tapi seruan itu berbalas tembakan polisi. “Dor! Dor! Dor! Dor!” Massa sebagian menunduk. Sebagian menyambut desingan peluru dengan pekikan takbir. Lalu darah-darah segar pun bercucuran dari para korban yang terluka.* Bersambung