DI HONGARIA selatan, sebuah desa dengan populasi hanya sedikit di atas 3000 orang menjadi titik penting perbatasan negara beribukota Budapest tersebut.
Roszke namanya. Secara fisik, Roszke bersenggolan dengan Horgos, Serbia. Desa ini telah begitu sibuk setiap harinya, dengan pelintas perbatasan lalu lalang setiap harinya.
Tahun ini, Roszke semakin sibuk dengan kedatangan ratusan ribu orang yang berusaha mencari negara baru untuk ditinggali. Lebih dari 170.000 orang telah melewati Hongaria sejak awal tahun ini.
Mereka mengungsi dari kampung halaman mereka di Timur Tengah dan Afrika, menuju negara-negara terkaya di Eropa.
Akibatnya, pemandangan tidak lazim mulai tampak di Roszke. Tidak hanya mobil lalu lalang yang kini menghiasi desa tersebut, namun juga sebuah kamp pengungsian yang dibentuk akibat laju migrasi yang menderas. Tidak jauh dari kamp tersebut, para tahanan dikerahkan untuk membangun sebuah pagar melintang yang memperjelas batas antara Serbia dan Hongaria.
Sebelumnya, perbatasan tersebut tidak ada sama sekali. Setelah Perang Dingin dan Perang Balkan di tahun 1990-an mereda, perbatasan bukan masalah besar bagi negara berbendera setrip hijau-putih-merah tersebut. Hanya tampak rel kereta api dan plang yang menyatakan pada mereka yang datang dari Hongaria bahwa mereka telah tiba di daerah perbatasan.
Di sisi Serbia malah tidak ada penanda apa-apa. Namun perang di Timur Tengah dan Afrika meletus, memaksa ratusan orang mengungsi, dan mendorong Pemerintah Hongaria mengeluarkan peraturan baru yang memperketat penjagaan perbatasan. Patroli ditingkatkan, kawat berduri kedua ditambahkan di pagar perbatasan sementara di ujung lainnya para kriminal kelas kakap yang ditahan di Penjara Keamanan Tinggi Csillag membangun pagar yang baru dan jauh lebih kuat. Diprediksi, panjangnya mencapai 175 km.
Namun pengerjaan pagar baru tersebut berlangsung lambat. Sampai saat ini, pengungsi masih dapat dengan mudah memanjat atau merangkak di bawah pagar perbatasan lama. Perdana Menteri Viktor Orban muntab, hingga akhirnya Menteri Pertahanan Hongaria mengundurkan diri awal minggu ini.
Main Mata di Bawah Matahari
Bayangkan pemandangan berikut ini yang di suatu siang di Roszke. Pria-pria sangar yang sedang menjalani masa tahanan membangun pagar besi dan kawat berduri, dengan penjaga-penjaga dan polisi perbatasan di dekat mereka.
Di seberang pagar, dibawah bayang-bayang pohon, sejumlah pengungsi duduk berdiskusi mengenai masa depan mereka. Jika mereka melintas, mereka dapat masuk ke Eropa. Resikonya, mereka harus diambil sidik jarinya dan perjalanan mereka stop di Hongaria. Mungkin untuk sementara, mungkin untuk selamanya.
Yang tidak mereka ketahui adalah, meski para petugas wajib menghadang dan mendata para pelintas perbatasan, pada prakteknya, banyak pengungsi yang berhasil sampai ke Jerman dan Austria tanpa harus menetap di Hongaria atas perjanjian tidak tertulis antara tiga negara.
Tahanan, para migran, serta para petugas berwenang saling memandangi satu sama lain. Beberapa tahanan bekerja, namun ada juga yang sedang duduk-duduk istirahat sejenak. Mereka telah terlibat dalam pembangunan pagar tersebut sejak awal. Sekitar 350 tahanan dikeluarkan dari sel mereka, dengan diawasi oleh 65 petugas penjara. Mereka tidak bekerja gratis, namun dibayar oleh pemerintah sebanyak 33.000 forint ($117) sebulan. Dan para tahanan tersebut tidak dipilih oleh penjaga, namun mengajukan diri.
Memang menjadi tahanan di Hongaria bukan berarti pengangguran. Jika mereka mampu bekerja, mereka harus bekerja. Kebanyakan tahanan berkebun atau bekerja di toko roti dan peternakan di penjara. Lainnya menjahit seragam penjara, membuat kasur, atau jeruji besi baru.
Jika para tahanan telah selesai dengan pekerjaan mereka, batas antara Hongaria dan Serbia semakin jelas. Semua akan tahu di mana Hongaria berakhir dan di mana Serbia dimulai.*/Tika Af’idah