Para calon ulama Afghanistan ini tampak memakai peci dan Salwar Khameez, baju khas Pakistan (seperti baju koko), sementara perempuannya mengenakan selendang yang dibalut seperti menggunakan jilbab
Hidayatullah.com –– Sejumlah anak kecil tampak asyik bermain layang-layang di sekitar danau Tarbela, Haripur, Kybher Pakhtunkwa (KPK), Pakistan. Sebagian lagi tampak bermain di belakang traktor yang tengah membajak lahan kosong.
Daerah tersebut merupakan salah satu kamp pengungsi Afghanistan yang berada di Pakistan. Lokasinya tidak jauh dari bibir danau Tarbela, danau yang menjadi aliran salah satu sungai terpanjang di daratan India, Indus.
Ibrahim, salah seorang Imam masjid membawa kami berkeliling di sekitar kamp. Meski mereka adalah orang Afghanistan, tapi mereka bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Urdu, Bahasa resmi Pakistan.
“Kami bisa Bahasa Urdu, Pustho, Persia, bahkan Arab dan Ingrris,” ungkapnya menggunakan Bahasa Urdu saat bertemu kami, warga Indonesia yang tengah berkunjung, Rabu (15/09/21).
Bangunan rumah mereka semi permanen, sebagian besar berbahan dasar tanah liat. Di sela-sela rumah terbentang ladang kecil yang sedang ditanami sagu.
Tak jarang kambing dan kerbau sedang digembala beberapa anak kecil sambil bermain di sekitarnya. “Ya ini sagu, kami biasa menanam sagu sebagai bahan makanan kami,” jawab Ibrahim membenarkan.
Kamp Pengungsi Afghanistan yang terletak di Haripur merupakan yang terbesar di Pakistan. Pemukiman dan rumah-rumah berjejer lebih tampak seperti perkampungan.
Meski demikian, mereka sendiri tidak tahu secara pasti jumlah total pengungsi yang berada di sana. “Banyak pokoknya, 1 juta mungkin,” jelas Ibrahim ragu.

Selain bertani dan berkebun, sebagian pengungsi juga membuka usaha kecil-kecilan seperti toko kebutuhan dan warung makan. Sementara itu, masyarakat Pakistan sendiri yang tinggal di sekitar daerah tersebut bekerja sebagai nelayan di danau Tarbela.
Dari kejauhan, tampak di bibir danau kapal-kapal nelayan bersandar. Selain mencari ikan, kapal-kapal juga berfungsi untuk mengantar wisatawan yang datang hanya sekedar berkeliling danau.
“Madrasah Aisyah” di Tengah Pengungsi
Meski hidup di tengah keterbatasan, anak-anak tetap belajar di pengungsian. Banyak terlihat anak-anak kecil membawa buku yang didekap di dada di sekitar pemukiman.
Sebagian besar siswa laki-laki memakai peci dan Salwar Khameez, baju khas Pakistan (seperti baju koko). Sementara perempuannya mengenakan selendang yang dibalut seperti menggunakan jilbab.
Mereka adalah para pelajar di salah satu madrasah di pemukiman, namanya Madrasah Aisyah, mengambil nama istri Rasulullah ﷺ.
“Ini mereka baru saja belajar dari masjid,” ungkap Saedullah, Pimpinan Madrasah.
Saedullah mengungkapkan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan selepas shalat Subuh dan Ashar. “Kami biasa belajar fikih, al-Qur’an, tafsir dan ilmu-ilmu agama lainnya,” tutur Saedullah yang sempat belajar di Binoria University International, Karachi ini.
Meskipun serba kekurangan, sambung Saedullah, pembekalan ilmu agama bagi anak-anak sangat diperhatikan. Sehingga harapannya mereka dapat menjadi calon ulama Afghanistan.
“Bagaimanapun mereka nanti harus paham agama, atau barangkali mereka akan menjadi ulama atau fuqaha’ (ahli fikih) nantinya,” harapnya.
Di tengah pengungsian ini juga berdiri masjid. Bangunannya sangat kecil, memanjang sekitar 15 meter. Sementara lebarnya hanya sekitar 5 meter.
Di masjid itulah proses KBM berlangsung dan memuat sekitar 250 murid baik laki-laki dan perempuan. Dengan semangat yang cukup tinggi, mereka belajar dengan fasilitas yang serba kekurangan.
Saedullah mengungkapkan bahwa banyak yang mereka butuhkan dalam menunjang kegiatan mereka. “Kadang kita kurang buku tulis, pena, dan beberapa kitab-kitab pengetahuan Islam,” pungkasnya.
Meski demikian, anak-anak tampak ceria dalam belajar. Setiap bertemu kami mereka tersenyum lebar. Sesekali ada yang tampak malu menghindar, meskipun demikian senyum mereka masih terlihat lebar./*Ibnu Sumir, laporan dari perbatasan Pakistan-Afghanistan