“SHALAT, shalat! Bangun, bangun! Wudhu, wudhu!”
Begitu arahan panitia melalui corong speaker panggung utama.
Suara itu menggelegar ke seluruh sudut arena Jambore Nasional II Pandu Hidayatulah. Saat itu, Sabtu dinihari (28/09/2019) Bumi Perkemahan Coban Rondo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, disergap udara dingin.
Di tengah bumi perkemahan, para peserta Jambore menjadikan lapangan sebagai titik sentral kegiatan, termasuk shalat tahajud. Suhu rata-ratanya 22 derajat, saat menjelang subuh suhunya mencapai 16 derajat.
Pantauan hidayatullah.com, aktu itu jam tepat menujukkan pukul 03.00 dinihari. Beberapa kelompok peserta putra sudah mulai memenuhi lapangan. Mereka langsung membuat shaf shalat jamaah. Sebagian pula ada yang shalat sendiri-sendiri. Makin mendekat subuh lapangan makin ramai, para peserta berbondong-bondong berkumpul di lapangan.
Lapangan dijadikan pusat kegiatan, termasuk kegiatan shalat berjamaah dan shalat tahajud peserta putra. Ini karena jumlah peserta dan pendamping mencapai 2.500, tidak ada tempat lain di Coban Rondo yang dapat menampung jamaah sebanyak itu.
Bahkan sebelum pukul 03.00 dinihari, beberapa kelompok peserta sudah memenuhi sisi tengah lapangan. Salah satunya kontingen dari MA Hidayatullah Depok, Jawa Barat. 11 rakaat dengan witir mereka kerjakan dengan cara berjamaah, sebagian peserta dari kelompok lain pun ikut jamaah di belakangnya.
Baca: Pimpinan Umum Hidayatullah: Pandu Hidayatullah Sebagai Generasi Pelopor
Awalnya memang terasa berat untuk bangun malam, apalagi diterjang suhu yang dingin. Seperti yang disampaikan Muhammad Iyan Aziz, peserta dari MA Hidayatullah Depok ini. “Karena belum biasa (dengan cuacanya), jadi kaget. Ini dingin banget. Tapi setelah beberapa (kali) sudah mulai biasa,” ujarnya.
Kegiatan kepramukaan dari pagi sampai malam cukup membuat lelah, apalagi ditambah dinginnya Coban Rondo sebenarnya menjadi tantangan dan cobaan tersendiri. Yang pernah melakukan kamping di kawasan yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kota Batu itu pasti tahu. Dingin-dingin begitu ya enaknya tarik selimut tebal dan tidur pulas. Apalagi, di musim bediding (kemarau dingin) seperti sekarang, suhu bisa mencapai 19 derajat celsius, bahkan suhunya mencapai 16 derajat saat mendekati subuh.
Akan tetapi, tantangan dan cobaan itu semua tidak menjadi halangan bagi para pemuda peserta jambore ini untuk bangun, mengambil air wudhu yang terasa begitu dingin seperti air es saat disentuh.
“Kami santri Pandu Hidayatullah, harus disiplin, termasuk bangun shalat tahajjud” ujar Muhammad Iyan Aziz remaja kelas 10 MA Hidayatullah Depok ini.
Baca: Koramil Ajak Pandu Hidayatullah Jaga NKRI dengan Agama
Di ketinggian 1.134 mdpl itu, walau di dalam tenda dan memakai sleeping bag, dinginnya Coban Rondo masih kuat terasa menusuk badan. Tapi kegiatan shalat tahajud di lapangan yang terbuka tetap semarak. Pesertanya pun bukan hanya dari tingkat SMP dan SMA. Dari tingkat SD pun ikut kegiatan ini.
Salah satunya yang sempat hidayatullah.com temui adalah kontingen dari SD Integral Luqman Al-Hakim Batu Kajang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Salah seorang pesertanya adalah Fajar Ahmad Riyadi, ia merasa senang bisa ikut kegiatan termasuk kegiatan shalat tahajud ini.
“Pertama hari ke sini terasa dingin sekali. Tapi sekarang enggak masalah,” ujar siswa kelas 5 SD Integral Luqman Al-Hakim seusai rangkaian shalat tahajud dan subuh.
Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah diikuti oleh 3.757 peserta dan pendamping. Kegiatan yang mengusung tema “Berkhidmat untuk Indonesia Lebih Bermartabat” ini dilaksanakan pada 24-29 September 2019. Jenjangnya dari SD, SMP, dan SMA dari seluruh penjuru Indonesia.
Ada 221 sekolah Hidayatullah yang mengirimkan kontingennya. Kontingen paling timur adalah dari MA Hidayatullah Jayapura serta SMA Integral Hidayatullah Timika dan paling Barat dari SMP Hidayatullah Medan. Sedangkan dari paling utara adalah MTs-MA Putra Hidayatullah Bitung dan MA Hidayatullah Putra Bolaang Mongondow, Sulewesi Utara.
Selama perhelatan Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah, kegiatan shalat tahajud tidak mendapat kendala berarti. Sebagaimana yang dikatakan Viqi Setiadi, pendamping dari SMA Luqman Al-Hakim Surabaya. Ia tidak mengalami kesulitan saat membangunkan anak asuhnya untuk tahajud di kondisi yang dingin. Bahkan menurut pengakuannya, di arena jambore ini lebih muda membangunkan dari pada di asrama asal.
“Saya lihat ini karena ada spirit Jambore Nasional. Yang dari awal tujuannya untuk meningkat kualitas masing-masing santri,” ujar Viqi yang mendamping 24 santrinya dari Surabaya.
Jumari, ketua panitia acara Jambore ini mengatakan, kegiatan shalat tahajud adalah salah satu acara inti kegiatan ini. Karena menurutnya kegiatan-kegiatan baik di sekolah atau pesantren masing-masing harus tetap terlaksana walaupun sedang melakukan kamping.
“Kebiasaan kita di pondok harus tetap terlaksana di Jambore Nasional ini. Seperti wirid, membaca Al-Qur’an dan murajaah (mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an)” ujarnya.
Selain itu, Jumari menegaskan bahwa shalat tahajud adalah karakter dari santri Hidayatullah, termasuk generasi remajanya yang tergabung dalam Pandu Hidayatullah. “Karena shalat tahajud adalah kekuatan dan karakter bagi anggota Pandu Hidayatullah,” tegas Jumari.* Rofi Munawwar