Hidayatullah.com—Usianya masih tujuh belasan ke atas, namun pilihan hidupnya tak lazim bagi anak-anak seusianya. Abdurrahman, dia baru saja menyelesaikan masa pendidikan di sekolah dai yang dibangun Pos Dai Hidayatullah di belantara hutan Fatu Marando beberapa bulan lalu.
Abdurrahman, kini lebih memilih mengabdi untuk agama, menjalankan tugas dakwah di tengah-tengah masyarakat Suku Wana. Tanpa rasa takut, ia keluar masuk belantara dan berdakwa di pedalaman Suku Wana.
“Selama urus agama Allah, apa lagi yang ditakutkan?” ujarnya sembari bergegas menuju sungai tempat sehari-harinya mandi.
Mengaku menikmati perjuangan dakwahnya di tempat terpencil, namun pria kelahiran Ternate Maluku Utara juga mengaku sering dibuat tidak mengerti harus bagaimana menghadapi anak-anak suku.
“Yang bikin lelah, pusing dan terasa bingung itu kala awal-awal saya tinggal di sini. Bagaimana tidak bingung, dibawain buku tulis, bukannya dipakai belajar. Mereka robek halaman demi halaman. Awalnya saya bingung, untuk apa. Setelah saya selidiki, eh mereka pakai untuk bungkus tembakau. Rupanya di sini semua sudah biasa merokok, termasuk anak-anak. Jadi buku itu dipakai melinting tembakau bikin rokok,” tuturnya sembari menepuk jidadnya.
Baca: Melawan Arus Menebar Qurban, Teguhkan Hidayah Suku Wana
Rupanya, kesabaran ekstra keras diperlukan untuk mendapingi anak-anak suku di pedalaman terpencil ini.
“Setiap diberi buku tulis, awalnya begitu. Akhirnya pas buku sudah habis, saya bingung dipakai apa lagi mereka belajar, akhirnya saya kasih mereka paku satu-satu lalu menulis di papan kayu yang telah disiapkan,” terangnya dengan senyum yang tak tertahankan, mengingat sisi kelucu yang pernah dihadapinya.

Meski demikian, Rahman, demikian sapaan akrabnya melihat bahwa secara potensi, anak-anak Suku Wana cukup cepat dalam menangkap pelajaran, termasuk dalam hal menghafalkan al-Quran surat-surat pendek.
“Sekalipun untuk membaca Al-Quran, mereka masih harus lebih giat belajar, tapi untuk hafalan surat-surat pendek, mereka cukup cepat hafal. Di situ saya terhibur sekali,” ucapnya.
Rahman adalah satu-satunya guru di dusun paling hulu dari Sungai Bongka. Tak heran meski di usianya yang masih belia, ia dipanggil masyarakat Suku Wana dengan sebutan “Pak Guru”.
Untuk melancarkan dakwahnya, ia memaksimalkan posko pembinaan muallaf Suku Wana di Fatu Marando.
Jalan Setengah Hari untuk Bisa Telpon
Sebagai dusun baru di belantara hutan, Fatu Marando merupakan lokasi masyarakat Suku Wana yang paling sulit dijangkau. Akses jalan masih susah. Hanya saat kemarau baru bisa naik motor, itu pun dengan resiko tidak ringan.
“Belum ada akses jalan untuk ke sini. Kalau musim hujan, cara paling baik naik ketinting, 7 jam itu dari Lijo ke sini,” ujarnya.
Seorang dai dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Ustadz Abdul Muhaimin (47) pernah mengalami insiden serius kala naik ojek dari Lijo ke Fatu Marando.
“Pernah saya naik ojek, luar biasa lelahnya. Bagaimana tidak, ketemu tanjakan, kita turun, ketemu turunan pun kita turun. Kenapa, kalau bablas bahaya,” ujarnya.
Waktu itu, tukang ojeknya bilang tidak usah turun jika bertemu jalan turunan. Akhirnya ua pelan-pelan berjalan. “Sudah bagus awalnya, tapi tiba-tiba ada kayu, kepeleset kita, terputar kaki kanan ini, sampai sekarang terasa nyerinya,” tutur ayah 7 anak tersebut.
Sampai sekarang Ustadz Abdul Muhaimin jalannya agak miring, karena bengkak di kaki kanannya belum benar-benar pulih. Meski demikian, pria asal Blitar Jawa Timur itu tak pernah absen membina muallaf Suku Wana bersama Abdurrahman.
Biasanya, jika melakukan koordinasi, Abdurrahman harus pergi ke puncak gunung –tepatnya di lokasi posko pembinaan muallaf—dengan cara berjalan kaki lamanya selama setengah hari.
“Makanya itu, kalau lagi telpon mau laporan ke pusat, jalan kita sampai setengah hari. Kalau pas telpon tidak diangkat atau tidak aktif, gimana gitu rasanya,” ucapnya sembari tersenyum.*>> Klik (BERSAMBUNG)