Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kisah Nenek-Nenek Penggali Kuburan

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Januari 2025 19:59 7:59 pm
Ahmad
Dipublikasikan 19 Januari 2025 18:05
Bagikan
Nenek Salbiah Shadan (kiri) | Siti Mainom Syed Mohd Saai (kanan). Foto: Harian Metro
Bagikan

Ia telah menggali 500 kuburan, ,meskipun menghadapi berbagai tantangan dan cibiran, mereka tidak pernah mengeluh menikmati tugas mulia, sebagai penggali kubur

Hidayatullah.com | KETIKA yang lain tertidur lelap, dihantui mimpi, di sebuah pemakaman, sekelompok penggali kubur terlihat bekerja tanpa lelah untuk menguburkan jenazah yang baru tiba pada pukul 2 pagi.

Usianya telah mencapai 61 tahun tetapi Salbiah Shadan masih cukup energik untuk menggali kuburan bersama suami dan lima temannya selama setahun terakhir.

Berawal dari niat sekadar membantu suaminya, nenek 11 cucu ini kemudian diserap ke dalam ‘komunitas’ penggali kubur rutin setiap kali terjadi kematian di sekitar desanya di Batu Gajah, Perak, Malaysia.

Salbiah menuturkan, secara kebetulan salah satu penggali kubur tidak dapat melakukan pekerjaan berat tersebut akibat terlibat kecelakaan.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

“Karena keterbatasan orang, saya menawarkan diri untuk membantu agar proses penggalian kubur dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya dikutip laman Harian Metro.

“Para penggali kubur di sini semuanya berusia di atas 60 tahun dan memiliki keterbatasan tenaga. Oleh karena itu, pekerjaan menggali kubur perlu dilakukan secara bergiliran.”

“Dengan niat ingin membantu, mencari pengalaman baru dan mengisi waktu luang, saya ikut suami ikut membantu menggali kubur bersama. Selain itu, bersama sahabat saya Siti (Siti Mainom) yang sudah lama menggeluti bidang ini, “Saya tidak merasa canggung,” katanya.

“Menurutnya, awalnya kariernya memang sulit, namun lama kelamaan ia menikmatinya karena bisa membantu banyak orang,” ungkapnya.

Meski begitu, dalam menjalankan tugasnya tersebut, ia tak lupa untuk tetap menjaga batasan dan selalu menunjukkan akhlak yang baik sebagai seorang perempuan.

“Saat menggali liang lahat, masyarakat dan keluarga almarhum belum ada di liang lahat. Jadi saya ikut membantu. Namun, setelah jenazah tiba, saya duduk agak jauh dari liang lahat untuk memberi ruang kepada para lelaki dan keluarga. untuk mengatur pemakaman, ” katanya.

Pekerjaan menguburkan jenazah harus segera dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia karena lokasi pemakaman lama tidak memiliki jalur masuk bagi ekskavator.

Lain Salbiah Shad, lain pula Siti Mainom Syed Mohd Saai. Masyarakat yang tinggal di luar daerah Batu Gajah, Perak, Malaysia, pasti merasa agak aneh melihat perempuan terlibat dalam proses penggalian kubur, yang biasanya dilakukan oleh kaum lelaki.

Namun bagi warga sekitar, kehadiran nenek empat cucu ini bukanlah hal yang asing karena selama enam tahun terakhir ia telah menggali hampir 500 kuburan.

Meski telah berusia 57 tahun, pemuda asli Sungai Siput, Perak, itu terlihat masih giat mengayunkan cangkul untuk menunaikan ibadah fardu kifayah secara sukarela.

Sering bekerja bersama lima penggali kubur laki-laki termasuk suaminya, Aznol Hisham Abdullah, yang dijuluki ‘Komunitas Kubur,’ Siti Mainom tidak canggung berguling-guling di tanah.

Komunitas Penggali Kubur

Kini, selain Siti Mainom, ‘Komunitas Penggali Kubur’ juga beranggotakan seorang penggali kubur perempuan yang bergabung sejak setahun lalu.

Siti Mainom mengatakan keterlibatannya di bidang ini terjadi ketika dia dan suaminya diundang untuk membantu melakukan pekerjaan penggalian kuburan yang dipimpin oleh saudara angkat mereka, Musa Mansor, 62 tahun.

Ia menuturkan, saat itu ia dan sang suami yang baru saja sembuh dari kecelakaan baru saja selesai menunaikan ibadah umrah.

“Saya mulai dengan melakukan pekerjaan ringan sebelum diberi kesempatan untuk membantu menggali kuburan setiap kali terjadi musibah kematian.”

“Sebagai seorang wanita, ini adalah tugas yang sangat menantang karena Anda harus menggali selama jangka waktu antara satu jam hingga tiga jam, tergantung pada kondisi tanah dan cuaca,” ujarnya.

Meskipun saya orang yang kuat, menggali kuburan bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan banyak kekuatan fisik dan mental. Pertama-tama, menggali kuburan itu sangat sulit dan telapak tangan saya sakit karena saya tidak terbiasa menggunakan cangkul, tambah dia.

Setelah diberi kesempatan menggali kuburan beberapa kali, lama kelamaan saya pun mengembangkan minat dan kegembiraan yang membuatnya  menjadi ‘kecanduan.’

“Jika saya tidak pergi ke kuburan sehari saja, saya merasa canggung,” ujarnya.

“Jika tidak ada yang meninggal, saya tetap akan ada di sana untuk membersihkan area sekitar (pemakaman),” katanya.

Menurutnya, pekerjaan sebagai penggali kubur membutuhkan komitmen tinggi dan perlunya kesiapan setiap saat.

“Tugas menguburkan jenazah tidak menyita waktu, kadang saya bekerja sampai jam 2 pagi. Bahkan, kami seharian berada di pemakaman karena ada tiga kematian sekaligus di hari yang sama.”

Selain itu, ada insiden di mana kuburan yang digali harus dikubur kembali setelah tulang-tulang tua ditemukan.

“Meskipun menghadapi berbagai tantangan, kami tidak pernah mengeluh karena kami menikmati tugas ini dan dapat membantu memudahkan para ahli waris dalam menyediakan ‘rumah terakhir’ bagi anggota keluarga mereka,” katanya.

Menurutnya, tak ayal banyak ahli waris yang tinggal di luar desanya merasa heran setelah melihat dirinya ikut menggali kubur. Sebab, mereka belum pernah melihat perempuan melakukan hal tersebut sebelumnya.

“Keterlibatan saya di bidang ini bukan untuk membuktikan apa pun. Sebaliknya, saya menganggap ini sebagai berkah dan tanggung jawab yang harus dipikul,” katanya.

Pengalaman tak terlupakan

Berbagi pengalaman yang tak terlupakan, Siti Mainom menuturkan, dirinya pernah diberi tanggung jawab untuk menguburkan jenazah anak sahabatnya.

“Kematiannya memberi dampak yang mendalam karena saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri. Meski sedih, saya tetap menjalankan tugas sebaik-baiknya sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum,” katanya.

Ditanya apakah pernah terjadi kejadian mistis atau aneh, ia bersyukur hal seperti itu tidak pernah terjadi.

“Dulu saya juga sempat memikirkan hal ini. Namun, sekarang saya tidak terlalu memikirkannya karena saya sudah mantapkan niat untuk memenuhi amanah yang diberikan,” ungkapnya.*  bh

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahli kuburHeadlinenenekpenggali kuburpenggali kuburan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dua Hakim Ditembak Mati di Gedung Mahkamah Agung Iran
Tulisan selanjutnya Belanda akan Percepat Proses Deportasi Pencari Suaka Terlibat Kriminal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Berita
31 Agustus 2026 21:38
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?