oleh: Syahnada Jaya Syaifullah
Hidayatullah.com–Selepas sholat Jumat Kali ini, saya berniat mengunjungi E-mart. Saya sedikit penasaran dengan salah satu supermarket terbesar di kota kediaman saya tersebut. Dari seorang teman muslim India, saya mendapat kabar jika harga barang di plaza moderen ini relatif murah. Saya mengasosiasikan kata “murah” sebagai salah satu turunan makna kata gula pada pepatah “ada gula ada semut”. Naluri ke”semut”an mengarahkan saya untuk menemukan dimana gerangan gula itu berada.
Ia sudah membangkitkan rasa ingin tahu saya sejak cerita itu pertama kali saya dengar. Jikapun itu hanya sebuah kabar burung yang tak benar. Saya tetap ingin “terbang “ ke supermarket tersebut. Mengingat lokasinya yang berbeda dengan jalur bus jurusan masjid (terminal bus antar kota, Cheonan)-kampus Dankook University (DKU). Jalur bus yang telah akrab dengan napak tilas jelajah weekend (akhir pekan) saya. Jiwa petualang memprovokasi saya sedemikian mahirnya. Maka ketika ada waktu luang untuk mengeksplorasi habitat sendiri (Cheonan), saya akan langsung melakoni. Secara kebetulan, tanpa skenario, teman India muslim yang sama menawarkan saya untuk menemaninya ke supermarket selepas jumatan kali ini. Baliau ingin memburu peralatan dapur.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya menyabut baik tawaran tersebut. Bahkan ia berbaik hati untuk membayarkan semua ongkos yang mungkin akan saya keluarkan. Namun itu bukan menjadi prioritas utama saya. Berbuat baik semampu kita kepada orang lain, selagi kesempatan dan kemampuan ada adalah pilihan terbaik untuk dilakukan. Petualangan saya pun dimulai.
Baru beberapa minggu saya mangenal seorang Ferros. Seorang pemuda tiga puluhan tahun berdarah khasmir. Gaya khas India dalam bertutur tak luntur meski sudah mahir berceloteh dalam bahasa Korea. Menjadi semakin menarik untuk dibayangkan bukan? Gerak kepala khas India ber-output suara lafaz hanggul (bahasa Korea) yang unik membuat saya acap kali tertawa sendiri.
Perjalanan akan semakin ramai dan mengasyikkan bila kami sudah larut dalam diskusi ringan berbagai topik kehidupan. Banyak bicara adalah salah satu ciri khas orang india kebanyakan, tak terkecuali Ferros. Tak jarang urusan pribadi, seputar kisah tanah syurga khasmir atau konflik kecil dengan Prof. dan kampus Koreanya menjadi hal yang ikut terbahas bila kami sudah bertemu. Sungguh pertemuan yang sering saya nantikan di tanah terasing ini.
Tak jarang rasa sepi merajai hati. Perihal bahasa menjadi muara semua ketidaknormalan interaksi sosial saya. Bertemu mahasiswa asing berbahasa Inggris dalam radius yang mampu saya jangkau setara momen ditemukannya oase di tengah gurun bagi saya. Sesuatu yang patut disyukuri. Dan Ferros menjadi salah satu dari sekian banyak anugerah pergaulan internasional saya. Alhamdulillah.
Bus 920 yang kami nantikan tiba dengan hentian cepat. Supir di Korea memang bergaya sirkuit F1. Dari cerita yang saya dengar, tak jarang ibu-ibu non Korea terjatuh dan terlempar mendadak saat bus berhenti. Bahkan istri salah satu senior saya yang berkampus di SNU (Seoul National University) mengalami “adegan” yang dimaksud lebih dari satu kali. Saya belum bisa membayangkan bagimana Ajuma (ibu-ibu) dan Ajosi (bapak-bapak) Korea capat beradaptasi dengan gaya mengemudi supir salah satu angkutan publik di Korea ini. Saya belum bisa menyimpulkan akan fenomena ini. Masih terlalu dini untuk diulas baik dan buruknya.
Bus menepi tepat di depan halte, serta merta pintu terbuka. Kami naik sembari mengeluarkan kartu T-money untuk pembayaran. Ada sedikit masalah karena deposit T-money Ferros tidak memungkinkan untuk membayar ongkos saya. Alhamdulilah saya mampu mengatasinya dengan sigap. Dengan gaya pali-pali (cepat-cepat: istilah Korea), saya yang sejak tadi sudah mengeluarakan kartu T-money, langsung menindainya pada mesin. Alhamdulillah semua lancar dan kami memilih duduk di bangku paling belakang yang kebetulan kosong.
Setelah beberapa kali berhenti di halte untuk menurun dan menaikkan penumpang, tanpa kami sadari telah duduk seorang pemuda Korea di samping saya. Beberapa menit yang lalu, Ferros dan saya sedang asyik mendiskusikan sebuah kamera digital milik seorang teman Malaysia yang saya pinjam beberapa minggu terakhir. Ferros meminta saya untuk mengambil beberapa gambar close up (dari jarak dekat) dirinya.
Sambil bercanda ia bilang bahwa foto tersebut akan digunakan untuk melamar seorang bidadari Khasmir lepas tahun ini. Sungguh berjiwa Bollywood teman saya satu ini. Semoga perhelatan itu bisa segera kau lakukan, kawan. Aktivitas pemotretan selesai. Saya memasukan kamera digital ke dalam tas setelah sejenak mengecek hasil foto yang baru saja diabadikan. Suasana tiba-tiba saja hening dan kami asyik dengan pikiran masing-masing.
Saya teringat dengan sang pemuda Korea dan sedikit tertarik untuk memperhatikannya. Jiwa ingin tahu dan observasif saya mulai menggoda hipotalamus. Mata mulai curi pandang. Dengan sekali pandang saya sudah bisa berkonklusi kasar siapa gerangan pemuda tersebut. Seorang pria usia 25 tahun lebih dengan gaya pakaian atlit soft ball ala Barat tulen. Saya yakin ia seorang hakseng (mahasiswa: Korea), karena ia terlihat sedang asyik menghapal sesuatu dari catatan yang ditulis dengan tulisan Korea rapi. “Semacam catatan kuliah” tembak saya.
Tak sengaja mata kami bertemu. Ternyata ia sudah memperhatikan kami sejak tadi.
“Hey guys. How are you?. Where are you coming from?” Bahasa Inggris gaya Amerika fasih-nya membuat saya terkejut. Sangat langka menemukan “mahluk” jenis ini di Korea.
“Hey…… Fine and you?. I’m Indonesia ” balas saya antusias.
Kami ngobrol pajang lebar. Saya sempat bertanya mengapa ia di Korea saat ini. Ternyata ia berniat kembali ke Korea untuk bekerja. Dan dari ia juga saya mengetahui kalau ia harus mengambil tes kemampuan bahasa Korea sebagai syarat untuk mendapatkan akses kerja di perusahaan Korea. Ia teramat tidak suka dengan hal tersebut. Diksi sumpah serapah yang ia gunakan dalam menjelaskan perasaannya kepada saya mulai membuat saya tidak menyukai gaya ekspresi verbalnya.
Ia seorang mahasiswa salah satu universitas di Amerika Serikat, AS. Sudah lebih dari 3 tahun ia menetap di negeri standar ganda tersebut. Ia bercerita juga bahwa ia cukup sering berkelana ke negara-negara Asia, termasuk India. Saya langsung teringat Ferros dan langsung mengenalkannya. Sesi obrolan pun dengan tiba-tiba berganti layar. Seakan sebuah program talk show tv swasta, mendadak mereka menjadi pembicara utama sejenak setelah saling berkenalan. Saya yang duduk di antara mereka berdua, tanpa diminta, memilih untuk menjadi pendengar setia saja.
Gaya bicara dan mindset (pola pikir) pemuda Korea tersebut kurang saya sukai. Ia acapkali membahas pelarangan minum-minuman keras di muka umum di India dan Pakistan sebagai sebuah hal yang ia benci. Tak hanya itu, ia justifikasi hal itu sebagai bentuk tindakan konservatif yang negatif. Ingin sekali saya memberikan sebuah argumen pembelaan saat itu. Seakan menantang saya untuk angkat bicara, ia mengeluarkan pernyataan yang membuat saya merasa tak perlu lagi untuk memilih diam.
“I hate Pakistan!! ” ucapa si pemuda penuh semangat dan persuasif. Baru saja mulut ini ingin terbuka.tiba-tiba saya mendapat sebuah kejutan dari Ferros. Keadaan mendadak keruh.
“So do I” pernyataan kembar siam lahir dari mulut Ferros. “Masya’allah” saya memperbanyak zikir di dalam hati dan kembali memilih diam. Dalam kondisi ini saya sangat tidak berkenan berdebat dengan Ferros. Saya semakin tidak nyaman. Saya seakan menjadi bangsa Palestina dihimpitan diplomasi busuk AS-Israel saat itu. Tapi hati saya tetap berbaik sangka akan ucapan Ferros. Sejauh ini, saya memandangnya sebagai seorang muslim yang baik. “You know. I have much opportunity to have special relationship with women. I didn’t do it because of Islam way” sebuah potongan dialog kami di Dankook Hospital beberapa minggu yang lalu bergema di telinga saya. Mungkin dia khilaf. Bagimanapun juga orang Khasmir adalah saudara kami dalam kontek keislaman. Saya hanya bisa berdoa agar suasana tidak nyaman ini segera berakhir.
Sepenghirupan napas, mendekat dua Ajuma yang baru saja naik bus ke bangku kami. Dengan pali-pali salah seorang ajuma duduk di bangku sebelah Ferros yang memang masih kosong. Sementara ajum yang lain memilih berdiri di tempat yang relatif dekat dengan kursi tersebut. Dengan bahasa Korea sang ajuma yang duduk mengajak temannya untuk ikut duduk disamping Ferros. Memang bangku itu masih memungkinkan ditempati satu orang lagi jika Ferros mau lebih merapat ke arah saya sedikit.
Sang ajuma mendesak badan Ferros merapat ke arah saya tanpa ada permisi verbal sebelumnya. Kebetulan Ferros memang tidak menyadari hal tersebut karena tengah asyik ngobrol dengan si pemuda Korea. Adegan singkat itu berkesan cukup tidak baik bagi siapa pun yang melihatnya. Memang sih, gaya pali-pali orang Korea di ranah publik dalam pengamatan saya lebih sering menimbulkan kesan egois pada pelakunya ketimbang kesan positif. Layaknya sebuah berita polemik yang asyik untuk dibahas, kejadian singkat barusan memicu patuk topik pembicaraan Ferros dan si pemuda Korea berubah arah.
Si Pemuda Korea yang kebetulan bisa menyaksikan hal tersebut secara detail karena posisi duduknya yang memungkinkan, berkomentar dan memaki kejadian tersebut panjang lebar. Satu kalimat yang mampu –tepatnya saya izinkan untuk menyentuh tulang pendengaran saya- adalah:
“ I hate Korea . They are selfish. Don’t give her place. Don’t care guys..bla..bla..bla…”
“ If you talk with them don’t show them that you can speak Korea. They will cheating you….bla..bla….”.
Saya hanya bisa menahan napas. Saya kehilangan kata-kata. Alhamdulillah. Allah menyelamatkan saya, bus kami sampai di halte E-mart. Setelah sedikit berbasa-basi, saya dengan sesegera mungkin meninggalkan si pemuda untuk turun. Ferros mengikuti saya dari belakang. Sang pemuda terlihat tersenyum puas. Seakan baru saja menumpahkan semua gundah yang sudah lama bergemuruh di dada. “Sepenggal perjalanan yang kaya hikmah”, saya meyakinkan diri atas apa yang baru saja kami alami.
Sambil berjalan menuju pintu utama E-mart, saya terus merenungi kejadian tadi. Sungguh banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Semoga Allah menjaga saya dan saudara muslim lainnya. Dengan penjagaan Allah tersebut semoga kita bisa menjadi orang yang yakin akan hari akhir. Yaitu orang-orang yang senantiasa berbicara perkataan yang baik saja. Orang yang lebih memilih diam jika tak bisa berbicara baik. Sungguh, semestinya konsep pertanggungjawaban akan semua perbuatan-termasuk kata-kata- sudah menjadi cukup bagi kita untuk berhati-hati dalam berucap. Saya semakin memahami apa yang dimaksud sebuah pribahasa: ibarat teko. Mulut kita adalah mulut teko itu sendiri. Ia akan mengeluarkan apa yang ada di dalam hati. Jika yang keluar air kotor maka itulah hakikat kondisi hati sang penutur.
Feros membangunkan saya dari dunia “autis”.
“Welcome to E-mart Jaya”
Saya hanya membalasnya dengan senyuman, sementara mata saya terpaku pada sebuah spanduk promosi yang bergelantungan di depan gedung. “Promosi saja harganya segitu, bagaimana harga normalnya?”. Pertanyaan itu sudah cukup bagi saya untuk meyimpulkan akan kebenaran kabar burung yang Ferros bawa dalam ceritanya.
“Huhhhhh tak ada gula di sini”
“what……” Ferros berlalu dengan cepat di pintu masuk E-mart.
Waulahu’alam.
Kiriman Syahnada Jaya Syaifullah. Penulis adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 02 dan sekarang sebagai penerima beasiswa BK21 dalam program studi master di bidang Environmental Horticulture Biotech of Dankook University (DKU), Cheonan, Korea Selatan.