Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Menemukan Jalan dalam Islam, Langkah Menuju Feminis Pun Surut (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Desember 2014 06:16 6:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Desember 2014 06:16
Bagikan
Theresa Corbin.
Bagikan

MUNGKIN ini mengejutkan Anda bahwa saya memiliki pernikahan yang diatur (Baca juga: Menemukan Jalan dalam Islam, Langkah Menuju Feminis Pun Surut (3): menikah dengan biaya hanya 5 dolar). Itu tidak berarti saya dipaksa untuk menikah oleh pelamar pilihan ayah, seperti cerita Jasmine dalam “Aladdin.” Ayah bahkan tidak menyodorkan apa pun.

Ketika saya masuk Islam, itu bukan waktu yang tepat untuk menjadi seorang Muslim. Merasa terisolasi, terasing, dan ditolak oleh masyarakat sendiri mendorong saya untuk membangun kehidupan keluarga. Bahkan sebelum masuk Islam, saya selalu ingin menjalin hubungan yang serius. Hanya saja pada beberapa pria, saya tidak melihat ada ke arah sana.

Sebagai seorang Muslim yang baru, saya merasa berkesempatan untuk mendapatkan rasa cinta dan hubungan yang seumur hidup. Saya memutuskan, jika saya ingin hubungan yang serius, saya mesti menemukan seseorang yang serius pula. Saya ingin perjodohan.

Saya membuat daftar “30 keinginan”. Saya kemudian mencari. Saya menanyai. Saya mengecek teman-teman dan keluarga yang bisa menjadi prospek.

Saya memutuskan, saya ingin menikah dengan seseorang yang juga masuk Islam. Saya menginginkan seseorang itu sebagaimana diri saya, yang menginginkan mencari sebagaimana saya ingin mencari. Bersyukur kepada orang tua teman-teman saya, saya menemukan seseorang yang sekarang menjadi suami saya, seseorang yang masuk Islam. Ia dari Alabama, dua jam dari rumah saya di New Orleans. Dua belas tahun kemudian, kami masih hidup bahagia.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Tidak setiap Muslim mencari jodoh dengan cara ini, dan saya juga tidak selalu berpedoman dengan cara itu. Tapi saya senang Islam memberiku pilihan ini.

Hidup dalam Kondisi Setelah 11/9

Saya tidak pernah menyerah dengan kepribadian, identitas atau budaya untuk menjadi seorang Muslim Amerika. Saya pernah, pada waktu itu, mendapat gangguan pada rasa kehormatan saya.

Saya diludahi, dilempari telur, dan diumpat oleh seseorang dari dalam mobil yang lewat. Dan saya merasa ketakutan ketika masjid yang saya hadiri di Savannah, Georgia, ditembaki, kemudian dibakar.

Pada bulan Agustus 2012, saya pindah kembali ke New Orleans, yang memiliki norma berbeda. Saya akhirnya merasa aman –untuk sementara waktu. Tapi sekarang, dengan liputan berita terus menerus terhadap kelompok tidak-Islami yang dikenal dengan ISIS, membuat saya mengalami banyak perlakuan sama sebagaimana saya terima di kota-kota lain. Dan sekarang saya kembali merasa kurang aman dibanding sebelumnya.

Ini memancing kejengkelan saya terhadap beberapa orang yang menyebut diri mereka Muslim, yang mendistorsi dan penyalahgunaan Islam untuk keuntungan politik.

Beratnya pada saya, jutaan warga di negara saya melihat kondisi itu sebagai gambaran dari agama saya. Hal ini yang membuat saya tak tertahankan. Mereka bersemangat membenci keyakinan saya, sementara mereka sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya keyakinan saya itu.

Dalam perjalanan saya menuju Islam, saya belajar memahami bahwa Muslim berasal dalam berbagai bentuk, ukuran, sikap, etnis, budaya, dan kebangsaan. Saya memahami Islam mengajarkan perbedaan, tetapi tidak menyebabkan pertentangan, karena kebanyakan Muslim menginginkan perdamaian.

Marilah kita semua, bersama keyakinan yang saya miliki, sesama warga Amerika dapat membuang rasa ketakutan dan kebencian, serta mencoba untuk saling memahami.*/ Tulisan ini ditulis oleh Theresa Corbin dan dimuat pada laman CNN belum lama ini. Corbin seorang penulis yang tinggal di New Orleans, Amerika Serikat. Dia pendiri Islamwich dan kontributor On Islam.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Skuad Polwan Malaysia Berjilbab Rapi Bantu Masyarakat, Kapan Indonesia?
Tulisan selanjutnya Menemukan Jalan dalam Islam, Langkah Menuju Feminis Pun Surut (3)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?