SEORANG ibu menelepon saya. Sambil terisak-isak ia mengadukan persoalannya. Suaminya tiba-tiba dicokok polisi dengan tuduhan koropsi. Tentu ia tak percaya, tapi itulah alasanya polisi. Ia seperti disambar petir disiang bolong.
Ia tak bisa membayangkan andaikan tuduhan itu betul. Betapa malunya seluruh keluarganya. Maka wajar kalau si ibu ini terpukul. Ia kemudian minta tolong saya untuk membebaskan suaminya. Ia mungkin berfikir saya punya akses dengan polisi.
Padahal saya sama sekali tak punya akses itu. Tetapi kalau saya menolak tentu dia bakal semakin sedih. Untuk menenangkannya, saya pun menyanggupi.
“Ibu punya uang berapa?” kata saya kemudian. Ia bilang punya 9 juta rupiah. Uang itu saya minta dan pagi itu saya ambil ke rumahnya. Mungkin, ia berfikir saya akan menyuap polisi agar membebaskan suaminya.
Tentu saya seburuk itu. Uang itu saya bawa keliling Yogyakarta bersama seorang teman. Setiap ketemu orang miskin saya beri uang. Ketemu dengan tukang becak saya kasih Rp 200 rupiah. Ketemu orang ngamen saya beri Rp 300 ribu, ketemu pengemis saya beri Rp 200 ribu. Pokoknya setiap berjumpa orang yang kelihatan miskin saya kasih. Mereka terheran-heran. Jangankan kenal, bertemu sebelumnya pun tidak. Tiba-tiba kok memberi uang. Mungkin mereka berfikir begitu. Setelah memberi saya langsung pergi, sehingga tak ada kesempatan mereka untuk bertanya-tanya. Hampir sehari penuh saya membagi-bagi hingga uang habis.
Malamnya si ibu tadi telepon lagi. Kali ini nadanya gembira dan penuh syukur. “Terima kasih Ustadz, atas pertolongannya sehingga suami saya sekarang sudah bebas,” katanya. Berkali-kali ia menghaturkan ucapan terima kasih itu seakan-akan saya yang telah membebaskan suaminya. Saya dianggap pahlawan.
Saya tentu gembira dan bersyukur. Tetapi dalam hati sebenarnya saya tertawa. Bagaimana saya dianggap pahlawan, la wong saya justru “menghambur-hamburkan” uang dia. “Lo, saya tidak berbuat apa-apa Bu. Saya cuma membagi-bagikan uang Ibu kepada fakir miskin,” kata saya. Ia percaya atau tidak, saya serahkan pada dia.
Tetapi ada hikmah yang lain. Setelah kejadian itu si ibu jadi aktif mengikuti taklim. Bahkan pada saat Ramadhan digelar pengajian tiap hari di restorannya. Saya juga pernah diundang mengisi pengajian itu. Ia punya restoran Padang di Yogyakarta. Saya dengar, restoran itu kini sudah punya cabang. Syukurlah.
Yang unik cara mengelola restorannya. Karyawannya tidak digaji tiap bulan. Mereka mendapat bagi hasil per tiga bulan sekali. Jadi setiap tiga bulan keuntungannya dihitung, lalu dibagi berdasarkan prosentase antara karyawan dengan pemilik. Dengan begitu karyawan menjadi lebih bersemangat bekerja dan melayani tamu dengan baik.
Hikmah yang lain lagi, setiap saya makan di situ selalu gratis. He…he… (Seperti diceritakan Kang Puji kepada Suara Hidayatullah)