Hidayatullah.com– Memasuki tahun politik, seperti biasa, dunia maya dan dunia nyata bakal kembali ramai dan panas. Spanduk atau poster kampanye calon terpasang dimana-mana. Rakyat terbelah jadi dua atau lebih. Tergantung berapa calonnya
Sementara itu, kubu-kubu politik jadi menguat. Antar pendukung saling serang, ribut, sindir, ejek, menyebar provokasi bahkan fitnah, hoax, dan ujaran kebencian demi calonnya menang. Darah politik jadi gampang naik.
Di saat kondisi seperti itu, ditambah lagi dengan suasana kecemburuan sosial akibat jurang ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin yang demikian lebar, kita juga membutuhkan lawakan untuk mengendorkan saraf ketegangan masyarakat.
Islam tidak melarang menonton dan melakukan lawakan, kata ulama sekaligus sastrawan Buya Hamka dalam majalah Ekspres (28/04/1972).
“Malahan orang yang tak suka lawak, tak suka kepada hal-hal yang bersifat humor, tak suka kepada hal-hal yang bisa menghilangkan ketegangan, sebenarnya ia mendustai dirinya sendiri,” ujarnya.
Hamka bercerita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun suka akan lawakan. Pernah suatu hari, Nabi kedatangan seorang nenek. Nenek itu bertanya, “Apakah orang setua saya bisa juga masuk surga?”
“Tidak!” jawab Nabi.
Mendengar itu, si nenek menangis tersedu-sedu. Belum sampai tangis itu reda, Nabi berkata, “Sebelum masuk surga, nenek akan dimudakan lebih dahulu.” Hehehe….
Ada lagi cerita lainnya. Nabi, masih dituturkan Hamka, pernah melihat temannya naik unta. Nabi bertanya,”Mengapa kau naik anak unta?”
“Ah tidak ya Rasulullah,” jawab temannya.
Tetapi Nabi bersikeras bahwa temannya itu naik anak unta. Suasana pun jadi tegang. Tapi akhirnya Nabi berkata, “Bukankah tiap-tiap unta itu adalah anak unta juga?” Hehe…. Benar juga ya.
Dua cerita tadi menunjukkan kalau Nabi punya selera humor juga. Tapi bukan humor yang menjurus pornografi atau mengejek, merendahkan, mem-bully seseorang. Bukan pula berlagak dan berpakaian seperti perempuan.
Kalau Nabi saja suka humor, masak kita umatnya tidak? Mulai sekarang, jangan lupa tertawa ya. Supaya tidak cepat tua. Hehe….* Andi