Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Paris, Realitas Perkotaan dan Paradoks Romantisme [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Mei 2016 07:09 7:09 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Mei 2016 07:08
Bagikan
Menara Eiffel, Paris
Bagikan

CAHAYA mentari semakin terang ketika Armada Flixbus yang saya tumpangi melalui jalan tol Kota Paris yang cukup macet. Kiri dan kanan jalan yang berukuran sedang ini dipenuhi pohon-pohon dan warna hijau dedaunan dan rerumputan yang menyerupai jalan tol Jakarta-Merak.

Ketika bus semakin mendekati kota tampak terlihat di kiri jalan, dua cerobong asap besar yang menjulang dan menyemburkan asap putih tebal ke langit diatas kota Paris, berbagai imej ketika memasuki kota mode paling ternama di dunia ini membuat saya teringat dengan kota Jakarta yang terakhir saya kunjungi tiga tahun silam. Beberapa hotel ternama juga dapat terlihat di kiri dan kanan jalan besar menuju kota ini.

Pukul 7.40 pagi akhirnya bus yang saya tumpangi sampai di Halte Bus Polte Maillot. Pada hari Selasa, 10 Mei 2016, Kota fashion ini ditemani oleh rintik-rintik hujan dan langit yang mendung. Perkiraan cuaca yang saya dapatkan bahwa ini akan berlangsung sepanjang hari.

Tidak berlama-lama saya langsung mengikuti arah tanda panah yang mengarahkan lokasi untuk membeli tiket metro (atau kereta bawah tanah) yang dapat membawa saya keliling kota ini. Sebagaimana kota-kota di Eropa lainnya, tampak bahwa sistem transportasi metro dan bus yang terintegrasi dan tertata baik telah sigap melayani para penumpang yang sibuk hilir mudik untuk mengisi aktivitas kerja atau kuliah di pagi hari ini.

Satu hal yang selalu membuat iri kita jika dibandingkan dengan ibukota kita yang masih ‘tak berdaya’ mewujudkan sistem transportasi massal yang ramah bagi para penumpang. Entah karena alasan ekonomis atau ‘lack of political will’ pada pemangku amanah kita, hingga setengah abad setelah kemerdekaan, ini masih menjadi problem klasik.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Dari titik perhentian Neuilly Polte Maillot saya menaiki metro menuju titik Charles de Gaulle Etoille dan kemudian berpindah kereta menuju titik Trocadero.

Tidak mudah juga bagi pengujung seperti saya untuk mengetahui jalan menuju pusat kota ini, sehingga saya harus berkeliling beberapa kali di bawah metro dan bertanya kepada petugas penjual tiket yang akhirnya menunjuki titik-titik perhentian dan arah yang harus saya tempuh untuk menuju pusat kota.

Turun di Trocadero, saya beranjak keluar dari stasiun bawah tanah menaiki tangga untuk menuju ke pusat kota dengan berjalan kaki. Dari kejauhan sudah terlihat Tour Eiffel (Menara/Tower Eiffel) yang menjulang dan disekelilingnya taman hijau yang didesain untuk memberi suasana santai bagi para pengunjung.

Dari seberang menara Eiffel ini yang didesain agak tinggi dari jalan, saya dapat mengamati air mancur dan beberapa monumen kota terbesar Perancis ini. Dan sebagaimana kota-kota Eropa lainnya, patung-patung telanjang (naked statues) sudah menjadi pemandangan yang biasa.

Patung-patung wanita telanjang tanpa penutup dada atau lelaki tanpa celana sehingga tampak organ seksualnya sudah seperti keharusan dalam seni patung Barat. Meski sejarah patung telanjang sudah ada semenjak zaman Mesir kuno, maupun zaman Yunani dan Romawi kuno, patung-patung telanjang ini menjadi titik fokus dalam inovasi artistik pada era Renaissance Eropa yang berlangsung pada periode abad ke-14 hingga ke-17 Masehi.

Kembali ke kota Paris dengan desain tata-kotanya, dapat kita katakan bahwa pusat kota Paris memang dikonstruksi secara jenius.
Kembali ke kota Paris dengan desain tata-kotanya, dapat kita katakan bahwa pusat kota Paris memang dikonstruksi secara jenius (ISTIMEWA)

Sebelum masa ini, Eropa yang berada dibawah kekuasaan Gereja Kristen Katolik yang mengajarkan kesucian dan juga melarang pernikahan (hidup membujang/ perawan) membuat seni patung telanjang termasuk hal yang tabu sebelum masa Renaissance. Hanya setelah gerakan pembangkangan terhadap kekuasaan Gereja Katolik yang despotik inilah akhirnya Eropa seakan-akan meraih kembali segala makna kebebasannya baik dalam berfikir maupun dalam seni artistik. */Ady C. Effendy, MA,alumni S2 Qatar Kandidat doktor di Paris, France

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:EropafashionMenara EiffelmodeParisPrancisRenaissanceromantisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah Keluarkan Lima Rekomendasi
Tulisan selanjutnya Reebok Batalkan Rencana Peluncuran Sneaker Pro Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?