ANGIN sepoi-sepoi berhembus manja, menggiring riak laut ke tepi dermaga. Di bibir daratan, bebatuan keras menyambutnya bersahaja. Menyulap gelombang kecil menjadi buih-buih penghias udara. Irama alam itu menyapa para pria di Pelabuhan Kuala Langsa.
Mereka adalah kaum migran yang saban hari menongkrong di sekitar tepian. Dekat situ, berdiri sebuah bangunan kayu agak menjorok ke laut. Sejajar dengan dermaga dan beberapa gudang besar.
Di Pelabuhan Kuala Langsa, ada tiga gudang yang digunakan sebagai barak pengungsi Bangladesh dan Rohingya. Karena jumlahnya lebih sedikit, pengungsi asal Myanmar hanya menempati satu gudang. Posisinya berseberangan jalan dengan rumah kayu tersebut, yang tak lain sebuah warung.
Ini merupakan warung satu-satunya di kamp pengungsian. Tak heran jika selalu ramai dikunjungi pembeli setiap hari. Pelanggannya kebanyakan pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Juga para relawan, masyarakat, petugas, dan wartawan, termasuk diriku.
Pada hari kedua bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam, Ahad, 24 Mei 2015, saya sudah mulai menjajaki warung tersebut. Siang selepas tim Baitul Maal Hidayatullah (BMH) –partner hidayatullah.com pada liputan ini– meninggalkan Kuala Langsa, saya beristirahat di situ.
Pemilik warung itu Risnawati, 42 tahun. Ia biasa dipanggil Ibu Ana. Namun belakangan ini, Muslimah berjilbab itu lebih sering dipanggil “Mama” oleh pelanggan barunya, para pengungsi. Entah bagaimana ceritanya.
Warung “Mama” cukup nyaman untuk bersantai. Halamannya diseting seperti kafe. Tampak enam meja kayu terpisah, masing-masing berkelompok dengan kursi kayu atau plastik. Dua di antara meja itu, posisinya dekat sebuah terminal colokan listrik di dinding depan warung.
Selain tempatnya yang teduh dengan hembusan angin laut, colokan itu menjadi alasan lain bagiku berlama-lama di warung tersebut. [Ini awal kisahnya: Malam Pertama Bersama Idris di Pengungsian]
Tak Terima Kembalian
Sebenarnya warung itu kurang lengkap jualannya. Tak ada nasi goreng, bakso dan menu lain khas warung makan. Hidangan berat satu-satunya yang bisa kucicipi hanya mi rebus campur telor goreng dan potongan mentimun.
Selebihnya, kios berukuran total sekitar 13 x 8 meter itu hanya menjual makanan-minuman ringan. Tak ketinggalan “batang beracun 9 centimeter”. Namun begitu, para pengungsi tetap berbondong-bondong ke tempat ini.
Menurut Ana yang asli Aceh, warung tersebut sudah berdiri lebih dari 10 tahun lalu. Meskipun terletak sekitar 5 kilometer dari pusat keramaian Kota Langsa, namun warungnya tetap eksis. “Kuala Langsa ini, kan, tempat wisata,” ujar wanita beranak 6 yang mengaku sudah ditinggal mati suaminya ini.
Dalam website resmi pemerintah Langsa, “Kota Hijau” ini berdiri pada 17 Oktober 2001. Di antara tempat wisata kota pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur ini adalah Pelabuhan Kuala Langsa.
“Pelabuhan Langsa bisa dimanfaatkan untuk arena memancing, juga wisata air dengan tersedianya kendaraan air,” tulis www.langsakota.go.id. [Ada cerita unik soal pengungsi Kuala Langsa: Dua Nama yang Sama tapi Beda]
Sementara itu di warungnya, Ana sibuk mengoseng mi instan pesanan pelanggannya. Meski sering dibantu empat orang kerabatnya, ia tampak terbiasa bekerja sendiri. Wanita ini tergolong sabar dan ramah. Kesimpulan dari setiap kunjunganku ke “markasnya”. Seperti Ahad jelang sore itu, saya memanfaatkan fasilitas listrik di warungnya dengan leluasa; men-charging laptop dan ponsel.
Sambil numpang ngantor, tak lupa saya memesan segelas es teh tarik dan sepiring mi rebus. Harga totalnya Rp 12 ribu. Saat membayar, kulebihkan Rp 3 ribu. “Uang listrik,” ujarku. “Terima kasih, Bang!” balasnya. Ini yang disebut simbiosis mutualisme sesama manusia.
Kesabaran dan keramahan ibu itu semakin terlihat saat melayani “serbuan” para pengungsi, sepanjang hari. Secerewet apapun pembeli asing itu, misalnya, Ana tak pernah terlihat marah. Paling-paling hanya menggerutu.
Termasuk ketika dua orang pengungsi tak terima dengan jumlah kembalian uang rupiah dari Ana. Walau Ana sudah menghitungnya betul-betul, tapi keduanya masih belum percaya. Maklum, mereka mungkin belum paham nilai setiap rupiah.
Sebenarnya, yang bikin penjual itu menggerutu karena ketidakmengertian bahasa. Contoh suatu ketika, datang seorang pemuda yang tampaknya asal Bangladesh. Ia memesan rokok dengan mengatakan, “Full.” Maksudnya, seperti yang dipahami Ana selama ini, orang itu mau sebungkus rokok berisi penuh (full: Inggris).
Ana pun mengeluarkan yang dipinta. Tapi pemuda tadi tak mau, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa negaranya. Jelas saja Ana tak mengerti. Lantas ia sodorkan beberapa batang rokok. Calon pembeli juga menolak.
Karena tak mengerti, penjual kebingungan. “Orang ini payah. Dikasih sebungkus tak mau. Dikasih batangan, tak mau juga. Kan, awak tak paham!” gerutunya kepadaku yang menumpang duduk di bagian dalam kios.
Akhirnya, karena keinginannya tak tercapai, pengungsi tadi meninggalkan warung. Wajahnya menampakkan kekesalan dan kekecewaan atas kejadian itu. [Saya pernah Menikmati Rasa Tiga Bangsa di Kuala Langsa]
Ini cerita lain dari Kuala Langsa. Suatu siang di tenda relawan. Pengungsi Bangladesh lain, Faizullah (32), kutanya dalam bahasa Inggris ala kadarnya. Intinya, “Kenapa Anda meninggalkan Bangladesh?”
Ia tak paham. Lalu kutanya lagi dengan kalimat berbeda, “Why do You come here (Kenapa Anda datang ke sini)?”
Ia diam. Kutanya lagi campur bahasa isyarat. Tak ada jawaban. Saya berpikir sejenak. Lantas bertanya, “Kenapa Anda datang ke Indonesia?”
Mendengar nama negara ini disebut, rona mukanya agak berubah. “Indonesia?” katanya dengan intonasi bertanya. “Yes!” jawabku, mulai senang. Ia sepertinya sudah mengerti pertanyaanku soal alasan kepergiannya dari Bangladesh.
Hingga kemudian dia berkata, “Indonesia is beautiful.” Negeri ini indah, katanya.
Saya terdiam sejenak, lalu mengingat-ingat sesuatu. Jawaban seperti itu sering dikatakan para pengungsi lain, saat kutanya soal kesan mereka terhadap Indonesia. Jika maksud jawaban Faizullah sama dengan mereka, berarti… Ia keliru memahami pertanyaanku. Padahal tadi sudah dijawabnya dengan begitu mantap, Lhooo! Hihihi….*/ Bersambung