Sejumlah aktivis atas nama Lembaga Studi Pengembangan dan Peradaban (LSIPP) melakukan studi lapangan dalam rangka menuntaskan buku “The Dome of The World”, pada pertengahan hingga akhir Agustus 2017.
Buku ini berlatar belakang perjalanan peradaban Islam dan Kristen, mulai dari masa jaya hingga jatuhnya serta analisa sebab dan prediksi kemenangannya.
Riset lapangan itu antara lain dilakukan di sejumlah negara di benua biru Eropa. Suharsono dan Naspi Arsyad, keduanya anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang ditugaskan melakukan riset itu, menceritakan lika-liku perjalanan mereka untuk pembaca hidayatullah.com.
Kisah keduanya yang berangkat bersama salah satu rombongan tur itu insya Allah disuguhkan secara berseri. Selamat mengikuti!
PERJALANAN diawali pada Rabu, 16 Agustus 2017. Dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, pesawat Turkish Airlines membawa mereka pada malam hari menuju Istanbul, Turki. Setelah menempuh penerbangan selama 11 jam, rombongan tiba pada pukul 04.55 waktu Turki di kota bersejarah bagi umat Islam itu. Waktu Turki lebih lambat 4 jam dari Jakarta.
Transit sebentar, lalu lanjut dengan maskapai yang sama menuju Kota Roma, Italia, pada Kamis, 17 Agustus 2017, bertepatan hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-72.
Penerbangan Istanbul-Roma memakan waktu 2 jam. Berangkat pukul 08.55 dan tiba di Roma pukul 09.50 masing-masing waktu setempat. Dibanding Jakarta, waktu Italia lebih lambat 5 jam. Hari itu juga, Suharsono, Naspi dan rombongan tur mereka telah tiba di Vatikan, Roma.
Kunjungan itu merupakan rangkaian riset lapangan dalam rangka melengkapi buku yang akan diterbitkan oleh DPP Hidayatullah tersebut. Periset menyusuri beragam situs sejarah di daratan Eropa Barat termasuk Italia.
Diketahui, sebagai cerminan akan kekayaan budayanya, Italia adalah rumah bagi 51 Situs Warisan Dunia, merupakan yang paling banyak, dan merupakan negara yang paling banyak dikunjungi kelima di dunia.
Riset yang rencananya berlangsung selama 13 hari ini bertujuan untuk melengkapi buku tersebut, dengan berinteraksi langsung dengan data lapangan agar suara buku itu lebih hidup dan mendalam.
Naspi kepada media ini mengatakan, pihaknya yang tengah melakukan perjalanan ke Eropa ini selalu ingat pesan yang pernah disampaikan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, kala melepas rombongan jamaah haji Hidayatullah Balikpapan, 2006 silam.
“Jangan sungkan untuk menolong orang lain, terutama dalam perjalanan karena semua orang cenderung suka ditolong. Menolong bukan semata karena agama memerintahkan untuk suka menolong, tapi kelapangan hati orang yang ditolong dapat menjadi sebab urusan kita juga dimudahkan oleh Allah,” kata Naspi menirukan pesan tersebut.
Nasihat inilah yang tutur Naspi menjadi pegangan tim penulis buku “The Dome of The World”.
“Maka sejak kaki penulis menginjak kota pertama dalam rangkaian tugas ini, langsung menawarkan bantuan ke semua rombongan, tak terkecuali sang tour leader,” kisah Naspi.
Tak ayal, pesan tersebut mendorong rombongan sedapat mungkin membantu siapapun dalam rombongan perjalanan yang membutuhkan dalam. Dengan sigap menolong mengambilkan barang bagasi, membawakan koper peserta tur lainnya yang dilakoni dengan spirit nasihat di atas.
“Walhasil, suasana cair tercipta dengan cepat. Maka, jangan menghalangi simpati orang lain dengan sikap peduli yang minim karena tak ada seorang pun yang ingin berada dalam interaksi yang dingin, walau dengan sebab yang tercipta dari sikap kita sendiri,” pungkas Naspi.* Bersambung