EGI Syahputra terdengar fasih saat melantunkan Surat Al-Ikhlas. Bocah berusia 11 tahun itu bersuara lantang membaca ayat demi ayat, sebagaimana yang diminta oleh sang ustadz yang mendampinginya sore itu.
Tak hanya diminta membaca surat pendek dalam Al-Qur’an, sang ustadz itu pun menyampaikan cerita dan canda ringan dengan Egi dan 10 bocah lainnnya.
Egi adalah salah seorang anak yang tinggal di tenda pengungsi yang terletak di Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanan Tofia, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Hingga berita ini dibuat, masih terdapat 300 KK yang menempati lokasi pengungsian tersebut.
Menurut Kepala Desa Wombo Kalonggo, Muhammad Ulung, ketika musibah gempa dan tsunami terjadi, Jumat (28/10/2018), ada sekitar 500 KK yang berkumpul di lokasi tersebut.
“Masyarakat yang rumahnya tidak rusak sudah kembali. Yang masih berada di sini kebanyakan yang rumahnya hancur dan merasa trauma dengan bencana tersebut, ” ujar M Ulung kepada hidayatullah.com.
Lebih lanjut M Ulung bercerita soal salah satu trauma yang paling terasa bagi anak-anak. “Pekan pertama bencana itu terjadi, anak-anak ketakutan, terlihat murung, dan kurang semangat,” ulasnya.
Alhamdulillah, kata Ulung, masuk pekan kedua beberapa relawan datang untuk memberikan semangat kepada pengungsi, baik kepada anak-anak maupun orangtua. Salah satu lembaga kemanusiaan yang datang adalah Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN).
“Yang membuat kami bersyukur, Alhamdulillah hari ini kami bisa kedatangan Ustadz Fadzlan Garamatan ke pengungsian. Selain memberikan kami tausiyah, Ustadz Fadzlan juga memberikan anak-anak motivasi dan semangat,” ujar M Ulung.
Menurut Ketua III YBMPLN, Hery Hasanuddin, program trauma healing ini sudah berjalan sejak awal Oktober 2018. Seiring dengan berdirinya posko dan dapur umum, program ini langsung dijalankan.
“Kami ingin memberikan semangat kepada pengungsi untuk bangkit dan bisa kembali pada aktivitas sedia kala,” ujar Hery kepada hidayatullah.com.
Baca: Kisah Relawan: Evakuasi Diancam Warga, Cari Mayat Dapat Ikan Busuk
Arif yang selama 24 jam tinggal bersama pengungsi menuturkan, seiring berulangnya gempa pengungsi terus dihimpit rasa ketakutan. “Saking ketakutannya sampai ada warga yang sampai stres berat,” kisah Arif.
Ustadz yang datang bersama dua orang kawannya dari Surabaya ini berusaha membuat program dari mulai usai subuh, siang, dan malam. “Anak-anaknya kita ajak bermain edukasi dan orangtuanya kita isi dengan tausiyah selesai shalat,” ulas Arif yang ditemui di pengungsian.
Menurutnya, yang ia kuatkan adalah keyakinan dan tawakal kepada Allah. “Beberapa hari lalu ada relawan dari agama lain yang juga buat program di pengungsian ini dari pagi sampai sore,” ungkap Arif.
Untuk itu, Arif berharap, siapapun dai yang bertugas dalam program trauma healing bisa terus memantapkan keyakinan para korban di pengungsian.
Sementara itu, Ustadz Fadzlan yang mengisi acara tabligh akbar di pengungsian Desa Wombo Kalonggo melakukan pendekatan yang berbeda kepada pengungsi. Ceramah yang banyak diisi dengan kisah-kisah motivasi itu memberikan spirit kepada pengungsi untuk tegar menghadapi musibah ini.
“Mereka tidak boleh bersedih berlama-lama, perlu segera bangkit agar pulih kembali menjalani kehidupan,” ujar Ustadz Fadzlan.
Di awal ceramahnya, Ustadz Fadzlan mengajak para pengungsi untuk berzikir. Di pertengahan ceramah juga, dai asal Papua ini mengajak bernyanyi para pengungsi untuk mencintai Al-Qur’an.
Tak ayal, kehadiran ceramah malam tadi, Sabtu (13/10/2018) jadi pusat perhatian para pengungsi yang masih di tenda untuk bergabung ke tengah lapangan yang sedikit basah usai hujan mengguyur Palu dan Donggala.*
Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media