Hidayatullah.com– Menurut Dr Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan Republik Indonesia periode 2012-2014, sejak tahun 1990, Indonesia mencatat kemajuan besar dalam bidang kesehatan.
Sejak 28 tahun lalu, katanya, usia harapan hidup meningkat 8 tahun lebih lama serta menurunnya beban penyakit menular seperti diare dan tuberkulosa (TBC).
Namun pada saat ini, berdasarkan Studi Global “Burden of Disease”, Indonesia disebutkan menghadapi tantangan meningkatnya berbagai penyakit tidak menular, antara lain penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker, dan lainnya.
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyampaikan responsnya, terkait masih banyaknya penyakit menular yang belum hilang di Indonesia, seperti yang disebutkan dalam studi GBD yang menyebutkan bahwa penyakit infeksi saluran nafas bawah, diare, dan tuberkulosis (Tbc) merupakan tiga penyakit penyebab utama kematian dan disabilitas di Indonesia
“Ketua DPR meminta Komisi IX DPR mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera mengambil tindakan cepat dan konsisten untuk menciptakan akses kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat,” rilis Bamsoet diterima hidayatullah.com di Jakarta, Senin (02/07/2018).
Yaitu, menurutnya, dengan memberikan vaksin secara gratis kepada masyarakat, agar dapat mencegah akibat yang ditimbulkan seperti penyakit polio.
Hal itu, jelasnya, guna mencegah terjadinya peningkatan penyakit menular maupun tidak menular.
Bamsoet pun meminta Komisi IX DPR mendorong Kemenkes bersama instansi terkait lainnya untuk memberikan penyuluhan mengenai kontrol risiko atau pencegahan dini terhadap penyakit kepada masyarakat.
“Terutama masyarakat yang tinggal di daerah yang sulit menjangkau akses-akses kesehatan,” imbuhnya.
“Mengimbau kepada masyarakat untuk mengikuti program kesehatan ibu dan anak oleh pemerintah…” pungkasnya.
Di sisi lain, diketahui bersama, persoalan vaksinasi atau imunisasi hingga saat ini menjadi polemik bagi sebagian kalangan masyarakat yang enggan menjalaninya terkait status kehalalannya.
Sebelumnya, Nafsiah Mboi yang juga bertindak sebagai Lead-Author (penulis utama) dari studi GBD ini, menyatakan, Indonesia saat ini menghadapi tantangan beban ganda penyakit.
“Kita harus tetap giat melakukan berbagai upaya untuk menurunkan infeksi penyakit menular seperti TB, diare, dan berbagai gangguan kesehatan ibu dan bayi. Pada saat bersamaan, kita juga perlu meningkatkan berbagai upaya pencegahan dan mengatasi penyakit-penyakit tidak menular, yang pengobatannya membutuhkan biaya yang sangat besar,” jelasnya kutip swa.co.id (29/06/2018).
Masalahnya, sebutnya, makin kompleks dengan meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia, dengan tantangan kombinasi berbagai penyakit pada penduduk lanjut usia.
Studi ini diterbitkan Jumat pekan kemairn dalam The Lancet, meliputi kurun waktu 1990 hingga 2016; dan merupakan bagian dari Studi Global “Burden of Disease” (GBD) atau Beban Penyakit Global, sebuah upaya ilmiah yang komprehensif untuk mengkuantifikasi kondisi kesehatan di seluruh dunia.
Dalam Studi ini, Dr Nafsiah dan tim para peneliti dari IHME dan Indonesia, termasuk Badan Litbang Kementerian Kesehatan, BAPPENAS, Biro Pusat Statistik, Eijkman Oxford Institute, Universitas Indonesia dan BPJS Kesehatan, mengkaji penyebab kematian dan disabilitas dari 333 penyakit di Indonesia dan tujuh negara pembanding.*