Hidayatullah.com—Pandemi telah mereda yang ditandai dengan pencabutan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah pusat pada 30 Desember 2022. Meski demikian, masyarakat untuk selalu memakai masker sebagai proteksi dini, meski telah mendapat pertahanan dari antibodi yang dihasilkan dari vaksin ataupun virus corona bagi mereka yang pernah terinfeksi.
Demikian disampaikan epidemilogi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Windhu Purnomo, dr, MS. Menurutnya, masker harus menjadi gaya hiduo, karena tidak hanya berguna untuk melindungi diri dari polutan, namun juga penyakit yang mirip Covid-19 seperti influenza.
“Sekarang karena virusnya sudah kurang ganas dan kita mempunyai kekebalan maka tidak perlu pembatasan, tapi tetap pakai masker terutama di tempat tertutup. Jadi masker harus menjadi budaya dari bagian perilaku hidup bersih dan sehat,” pesan dr Windhu saat Pameran Arsip Pandemi Covid-19 Universitas Airlangga (UNAIR) hari ke-7 beberapa saat lalu.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR ini berkesempatan mengulas proses penanggulangan penyebaran Covid-19 pada beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan awal kemunculan Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19 jelang akhir tahun 2019 disebabkan oleh salah satu jenis koronavirus yaitu SARS-CoV-2 yang kemudian menyebarluas ke seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, kasus positif Covid-19 pertama kali ditemukan pada 2 Maret 2020. Tak lama setelah itu, World Health Organization (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global.
Seiring lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat, pemerintah daerah pun mulai mengambil tindakan penanggulangan dengan pembatasan mobilitas. Hal ini, lanjut dr Windhu, bertujuan untuk mengurangi pergerakan virus yang mudah menular ketika seseorang sedang berbicara atau batuk dalam jarak dekat (kurang dari 1,8 meter) dan tidak menggunakan masker.
Virus corona juga beberapa kali mengalami mutasi menjadi varian Delta dan varian Omicron yang menimbulkan korban jiwa sekaligus kasus suspek atau tanpa gejala, namun beresiko menular pada orang yang memiliki komorbid.
Kendati begitu, kepala departemen biostatistika FKM UNAIR ini menyebut program vaksinasi yang digagas pemerintah berhasil menciptakan sistem imun kekebalan masyarakat.
“Menjelang akhir 2021 ternyata lebih dari 80 persen penduduk Indonesia sudah punya kekebalan yang luar biasa karena sudah ada vaksinasi sejak januari 2021 sampai pertengahan tahun dimana (varian) Delta waktu itu sedang tingginya,” kata dr Windhu dikutip laman resmi UNAIR.*