Hidayatullah.com–Menjamurnya pengobatan tradisional berbasis herbal cukup berkembang dewasa ini, namun hal itu belum dibarengi dengan pengetahuan yang cukup baik oleh praktisi maupun konsumen. Akibatnya sering kali berdampak pada penggunaan herbal di luar aturan yang di haruskan
Demikian diungkapkan pakar pengobatan holistik, Dr. Husen Ahmad Bajry,M.D,Ph.D saat di temui hidayatullah.com di ruang kerjanya RS Holistic Purwakarta, Kamis (21/o8/2013).
Lebih lanjut Presiden Holistic Indonesia (PHI) ini menambahkan bahwa booming pengobatan herbal belum ada aturan hukum dan kontrol yang jelas serta ketat dari pemerintah Indonesia.Ia membandingkan pengobatan herbal di beberapa negara lain seperti India dan China .
“Kalau kita ingin berkembang seperti di India dengan adanya Yunani Medicine atau China dengan TCM-nya maka diperlukan payung hukum dan aturan main yang jelas. Sehingga produsen hingga konsumen terlindungi,”paparnya.
Karena kurangnya pengetahuan, tata kelola niaga komoditas obat berbasis herbal juga dinilai masih belum berstandar.
Menurutnya berkembangnya pengobatan herbal di luar negeri salah satunya didukung oleh riset dan memanfaatkan lembaga pendidikan secara terpadu. Indonesia,sambungnya,harusnya mempunyai sekolah pengobatan herbal dari dasar hingga kedokteran yang khusus mempelajari herbal secara mendalam. Alasannya menurut Husen bahwa pengobatan herbal juga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Saya melihat di Indonesia saat ini masih berkembang budaya latah dan mudah ikut trend termasuk dalam pengobatan herbal tanpa penelitian dan pengetahuan yang mendalam terntang manfaat dan mudharat herbal itu sendiri. Contohnya buah mahkota dewa, pace, kulit manggis, bahkan rossela kini menjadi tak jelas dalam perkembangan,”jelasnya .
Penulis buku “Tubuh Anda Adalah Dokter Yang Terbaik” ini juga tak sependapat dengan anggapan kebanyakan orang bahwa pengobatan herbal itu tanpa efek samping. Justru sebaliknya,menurut penulis beberapa buku tentang kesehatan ini penggunaan obat secara berlebihan tanpa takaran yang terukur dan tidak tepat sesuai jenis penyakitnya akan berdampak pada timbulnya penyakit baru.
Husen memberi contoh beberapa pasien yang berobat ke kliniknya ada yang menderita gagal ginjal karena mengkomsumsi herbal (habbatussauda) secara berlebihan. Menurutnya hal itu terjadi selain pengetahuan pasien yang rendah juga beberapa herbalis masih minim ilmu pengetahuan tentang manfaat dan mudharat obat herbal.*