Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Saintek

Gaya Hidup Berubah, Angka Cerai Meningkat di Negara Teluk

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 November 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com –Studi yang dilakukan baru-baru ini oleh GCC, dewan kerjasama negara-negara teluk, menunjukkan bahwa kasus perceraian jumlahnya bertambah dan terus mengalami peningkatan.
Jika dilihat dari total kasus perceraian di negara GCC, maka kasus cerai di Bahrain angkanya mencapai 27% pada tahun 2007. Di Uni Emirat Arab 25,6% (2008), di Qatar 34,8% (2009), dan di Kuwait 37,1% (2007).
Kajian itu tidak memasukkan nama Oman, karena minimnya ketersediaan data statistik dan kerjasama dari pemerintahnya. Demikian menurut Muna Al-Munajjid yang melakukan penelitian itu.
Studi yang diberi judul “Perceraian di Negara-Negara GCC: Resiko dan Implikasinya” itu menyebutkan bahwa angka rata-rata perceraian hampir sama dengan angka rata-rata perkawinan pada usia 20-29 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan muda banyak yang berpisah pada awal-awal usia pernikahan.
Menurut Munajjid, yang merupakan seorang sosiolog dan penasehat senior di Booz & Company–perusahaan konsultan manajemen, penelitiannya didasarkan pada data statistik resmi dari pemerintah negara GCC dan juga hasil wawancara dengan beberapa wanita yang bercerai dan para pakar di kawasan itu.
Meskipun negara-negara GCC punya tradisi yang sama, namun dalam hal liberalisme dan konservatisme ada perbedaan antara satu negara dengan lainnya. Yang mana hal itu mempengaruhi hubungan antara pria-wanita yang kemudian berpengaruh pada bagaimana pasangan itu dipertemukan dan bercerai.
“Sayangnya data statistik yang ada kurang, tidak hanya terkait data perceraian, tapi juga data mengenai pendidikan dan pekerjaan wanita,” tambahnya.
Untuk itu dia menyarankan agar dibuat database statistik negara GCC, guna membantu para peneliti sehingga bisa membedakan angka perceraian di kelompok sosial yang berbeda, termasuk di kalangan wanita muda, wanita berpendidikan dan lainnya.
Studi sengaja dilakukan guna mengetahui lebih lanjut mengapa angka perceraian di negara Teluk cenderung meningkat, sehingga pemerintah bisa membuat kebijakan untuk menanggulanginya.
Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa perceraian membawa dampak merusak bagi perkembangan mental dan emosional anak serta kesehatannya. Tidak jarang wanita juga mengalami kekerasan fisik dan psikis, karena menghadapi mantan suami yang menolak memberikan nafkah untuk anak mereka.
Wanita yang bercerai juga mengalami diskriminasi sosial dan ekonomi. Banyak diantaranya yang mendapat stigma buruk karena menjanda.
Studi itu mendapati bahwa perubahan gaya hidup menjadi penyebab perceraian. Orang cenderung semakin konsumtif, sehingga pasangan suami-istri terjebak dalam hutang, yang pada akhirnya menyebabkan perceraian.
Ketidakbebasan dalam memilih pasangan hidup juga disebut-sebut menjadi salah satu faktor penyebab. Bapak masih berperan besar dalam pemilihan calon istri untuk putra-putra mereka, terlebih calon suami untuk putri-putrinya. Hal ini diperburuk dengan kurangnya kemampuan berkomunikasi antara suami-istri.
Di negara-negara Teluk, wanita menikmati kehidupan sosial yang lebih nyaman. Mereka bisa menetapkan harapan-harapn tinggi dalam perkawinannya. Tapi akibatnya, jika mereka merasa tidak puas, maka perkawinan bisa berujung pada perpisahan.
Data tahun 2007 di Kuwait menunjukkan, 46% perceraian terjadi pada pasangan suami-istri yang sama-sama memiliki pekerjaan. Angkanya semakin tinggi pada pasangan di mana hanya suami yang bekerja sementara istri di rumah saja, yaitu 54%.
Di Arab Saudi, para pria lebih menyukai wanita yang memiliki pekerjaan, terutama yang menjadi guru atau pegawai pemerintah. Menurut statistik 2008 angka perceraian di Saudi mencapai 20%.[di/an/ hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hotel Bintang 5 Akan Beroperasi di Gaza
Tulisan selanjutnya “Truth Seekers” Kerja Jurnalis Palestina di Lapangan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Saintek

Para Ilmuwan Lakukan Deteksi Autisme pada Rambut

9 Januari 2023 20:30
Saintek

Tantangan Teknologi, Banyak Orang Oversharing dan Umbar Aib di Media Sosial

26 Desember 2022 14:00
Saintek

(Video) Kuasa Allah, Ilmuwan Berhasil Merekam Tumbuhan yang Bernapas

23 Desember 2022 15:10
Saintek

Selandia Baru akan Siapkan Undang-undang agar Facebook dan Google Membayar Berita

5 Desember 2022 11:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?